Menguak Pergolakan Batin Grafolog Dibalik Misteri Kematian Akseyna

Akseyna (Foto: Istimewa)
Akseyna (Foto: Istimewa)

DepokToday- Sudah enam tahun berlalu, namun kematian Akseyna Ahad Dori alias Ace hingga kini masih menyisakan misteri yang belum terpecahkan. Nah kali ini, Guru Besar Kriminologi UI, Prof Adrianus Meiliala angkat bicara bersama salah seorang saksi ahli terkait kasus tersebut.

Menurut Adrianus, kasus ini telah cukup lama tidak terungkap. Ia berpendapat, sudah sepatutnya aparat penegak hukum dalam hal ini pihak kepolisian untuk terus diingatkan.

“Kita sebagai publik juga berhak tahu perkembangannya. Agar terus jadi perhatian kepolisian. Akesyna adalah mahasiswa UI Fakultas MIPA yang meninggal di Danau UI,” katanya mengawali diskusi forensic talk di Instagram @pusatforensikui dikutip pada Selasa, 16 November 2021.

Baca Juga: Kenyang Janji, Ayah Akseyna: Tidak Ada Kejahatan yang Sempurna

Adrianus menyebut, kasus ini begitu menarik karena pertama, menimpa mahasiswa UI, terjadi di lingkungan kampus UI dan motifnya sampai sekarang belum diketahui, apalagi pelakunya.

Atas dasar itulah ia berharap, diskusi yang secara khusus membahas tentang kasus Akseyna ini bisa sedikit memberikan titik terang atas perkara tersebut.

Untuk memperdalam kajian tersebut, Prof Adrianus menggandeng pakar grafologi, Deborah Dewi. Lantas seperti apa pendapat ahli dibidang tulisan tersebut terkait kasus yang dialami Akseyna?

Alur Rumit Kasus Akseyna

Terkait hal itu, wanita yang akrab disapa Deborah ini memulai pandangannya dari awal mula kasus itu muncul, tepatnya pada 26 Maret 2015.

“Jadi prof, waktu kasus ini mencuat ke publik, saya dapat info dari asisten saya, tentang sampel tulisan tangan Akseyna. jadi niat walnya aduh kasihan ya bunuh diri, percaya kita semua. Waktu itukan narasinya bunuh diri,” katanya.

Baca Juga: Nasib Tragis Penjaga SDN Sukatani 6, Dianiaya Rampok Dihadapan Anak Istri

Dengan narasi yang sudah berkembang saat itu, Deborah pun merasa terpanggil untuk mencegah agar kasus yang awalnya dikira bunuh diri tadi tidak terulang.

“Jadi intensi saya waktu itu adalah mau menganalisa dan mencari tahu apa sih penyebab bunuh diri. Inginnya saya itu memberikan advokasi supaya anak-anak muda yang mungkin punya indikator grafis serupa dan tergoda untuk bunuh diri bisa dicegah, itu niat awalnya,” jelas dia.

Namun ternyata, setelah melihat dan menkaji lebih dalam surat wasiat yang katanya ditinggalkan Akseyna di kamar kos, Deborah merasakan ada kejanggalan.

“Ketika saya terima samplenya, langsung saya lihat ada keanehan prof. Saya melihat satu dua tanda yang ini bukan ditulis satu orang, jadi ketika dinyatakan surat wasiat saya ragu,” tuturnya.

Baca Juga: Detik-detik Daud Yordan Bikin KO Jagoan Rusia, Endingnya Haru

Awalnya, Deborah mengaku hanya melakukan analisa pada surat tersebut satu jam. Karena merasa ada yang aneh, ia akhirnya terdorong untuk menelusurinya lebih lanjut.

“Saya punya dua pilihan, mau saya acuhkan atau mengikuti hati nurani. Tapi mengikuti hati nurani tentu dengan kaidah keilmuwan yang bisa saya pertanggungjawabkan.”

Akhirnya, setelah semalaman dibedah, Deborah semakin yakin jika surat itu ditulis dengan dua karakter berbeda.

“Setelah saya menemukan indikator yang bisa diukur dan bisa dipertanggungjawabkan untuk menyatakan bahwa surat tersebut tidak dibuat satu orang, akhirnya saya putuskan ok, apalah artinya kita memiliki ilmu kalau tidak bermanfaat,” katanya.

Pergolakan Batin

Selain ingin mengamalkan ilmu yang dimiliki sebagai grafolog, Deborah merasa kasus ini berkaitan dengan hati nuraninya sebagai seorang ibu yang juga memiliki anak.

“Kalau anak melakukan bunuh diri kan stigma negatif melekat pada orangtua. Tapi di luar itu bunuh diri atau bukan, itu semua di luar kapasitas saya. Tapi ketika ada kejanggalan dengan surat itu, hati nurani saya tidak bisa tinggal diam,” ucapnya.

Baca Juga: Petisi Ungkap Pembunuh Akseyna Ramai di Twitter

Tadinya, apa yang dilakukan Deborah murni secara independent. Namun ternyata itu menyita perhatian tim penyidik Polri. Hingga akhirnya dia dipanggil untuk dimintai bantuan analisa oleh polisi.

“Waktu saya buat paparan tentu saya jelaskan dasar-dasar analisa. Ini kan berurusan dengan nyawa, kita nggak boleh main-main. Apapun nanti akan berimbas pada keluarga almarhum yang berduka,” katanya.

Baca Juga: Mantan Rektor UI Blak-blakan Soal Kasus Akseyna

Setelah ia melakukan uraian dengan sederet bukti dan analisa yang ia bawa, penyidik pun akhirnya sepakat bahwa ini diduga bukan bunuh diri.

“Nah akhirnya saya di BAP, total ada 30 lembar. Saya diberikan 30 sample tulisan almarhum. Jadi bukan hanya surat yang di TKP, tapi ditambah puluhan sample tulisan dari buku-buku almarhum. Itu semua diberikan ke saya,” paparnya.

Adapun sampel tulisan tangan Akseyna yang diberikan padanya, adalah catatan dari 2009 sampai 2015.

“Itu rentannya jauh kan sehingga membuat saya semakin yakin mengapa indikatirnya selalu sama, tapi kenapa pas surat wasiat beda. Nah itu dalam keilmuwan grafologi janggal,” jelasnya.

“Jadi terukur prof, bukan opini, bukan pendapat. Jadi memang indikator grafis yang bisa dilihat. Selebihnya saya yakin analisa saya hanya satu dari persekian yang dimilki kepolisian. Nah setelah hasil analisa ini ditemukan bukti-bukti tambahan.” (rul/*)