Menguak Asal Usul Jalan Boulevard GDC

Warga GDC bentangkan spanduk peringatan untuk pelaku balap liar (Istimewa)

CILODONG- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Depok, Babai Suhaimi, mengkritik konsep tata kota yang menurutnya semakin tidak jelas. Salah satu yang jadi sorotannya adalah Jalan Boulevard di kawasan Grand Depok City (GDC).

Kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengungkapkan, sebuah perencanaan itu sampai pembangunan yang intinya di pusat kota arah pembangunannya harus komprehensif, lengkap dan utuh.

“Jadi tidak lagi berulang pembangunan itu. Jadi saat merencanakan pembangunan apa lagi di pusat kota itu wajah kota harus sempurna perencanaannya. Jadi tidak direncanakan 2-3 kali,” katanya, Rabu 17 Februari 2021

Baca Juga: Dua Warga Dihantam Mobil di GDC

Babai menilai, GDC salah dari perencanaan, utamanya soal infrastruktur jalan. Kata dia, tujuan awal kawasan tersebut adalah jalan tembusan yang diarahkan menghubungkan Depok-Bogor, lanjutan Margonda.

Sehingga seharusnya penerangan jalan umum itu menjadi satu kesatuan dalam perencanaan pembangunan jalan termasuk juga trotoarnya.

“Saya juga bingung di jalan kawasan GDC itu trotoarnya dimana. Itu seharusnya ada trotoar untuk pengguna jalan, makanya tidak heran kalau sampai ada pejalan kaki tertabrak karena tidak ada trotoar memang,” jelasnya

Harusnya, kata Babai, pemerintah kota dalam hal ini dinas terkait sudah merencanakan pembangunan trotoar, sebab hal ini penting karena di kawasan tersebut terdapat perumahan dan berpotensi menimbulkan kecelakaan.

“Karena ini kan jalan utama, bukan lagi jalan kompleks, bukan lagi jalan lingkungan.”

Babai mengungkapkan, awal zaman Wali Kota Depok pertama, yakni Badrul Kamal, jembatan GDC itu dibangun karena pada perencanaannya dulu menjadi satu kesatuan sampai perbatasannya Depok dengan Cibinong.

“Itu perencanaan kota seperti itu dulunya dalam rangka upaya, wajah Kota Depok luas tidak hanya Margonda saja, tetapi yang kedua adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya wilayah selatan di Cilodong,” tuturnya
Sehingga, kata Babai, ketika jembatan GDC sudah diresmikan oleh wali kota terdahulu, sejak saat itulah Jalan Boulevard GDC bukan hanya jalan kompleks, tetapi jalan umum, jalan utama yang menjadi satu kesatuan dengan Jalan Margonda.

Lebih lanjut Babai juga menyayangkan, minimnya koordinasi antara pemerintah daerah dengan DPRD terkait perencanaan tata kota selama ini.

“Sejauh yang saya tahu perencanaan yang dilakukan oleh pemerintah kota ya kurang begitu merangkul dan mengajak musyawarah berbagai pihak,” katanya

“Jadi, jangankan komponen masyarakat, dewan saja sendiri hanya sebagai presentasi yang kurang menurut saya, dalam menampung aspirasi dan menampung perencanaan yang baik yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah,” timpalnya lagi. (rul/*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here