Mengetahui Varian COVID-19 Baru Mu yang Disebut Kebal Vaksin

ilustrasi corona (istimewa)

DepokToday – Varian baru COVID-19 terus bermunculan, yang terbaru Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menambahkan strain virus corona bernama Mu sebagai variant of interest (VOI).

Varian ini kata WHO perlu diperhatikan, sebab, sejak kemunculannya pertama kali pada Januari lalu di Kolombia, diduga membuat kasus penambahan COVID naik secara sporadis.

Melansir dari Kompas.com, varian tersebut membuat kurang dari 0,1 persen dari infeksi secara global, itu mungkin mulai berkembang di Kolombia dan Ekuador, di mana masing-masing menyumbang 39 persen dan 13 persen dari kasus COVID-19,

Sebanyak 32 kasus varian Mu di Inggris, di mana pola infeksi menunjukkan bahwa varian Mu dibawa oleh para pelancong.

Dalam laporan Public Health England (PHE) pada bulan Juli mengatakan, sebagian besar kasus Mu yang ditemukan di London terjadi pada mereka yang berusia 20-an.

Beberapa dari mereka yang dites positif Mu telah menerima satu atau dua dosis vaksin Covid.

Varian Mu, kata WHO, memiliki kemampuan yang menunjukkan dirinya bisa lebih tahan terhadap vaksin, seperti halnya varian Beta yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan.

“Varian Mu memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan. Varian tersebut setidaknya sama resistennya dengan varian Beta terhadap kekebalan yang timbul dari vaksinasi,” kata WHO.

Varian COVID-19 Mu Butuh Penelitian Lebih Lanjut

Namun, hal itu, menurut WHO dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menemukan bukti-bukti baru apakah varian Mu memang benar kebal terhadap vaksin atau tidak.

Baca Juga: [Update] BOR Rumah Sakit di Kota Depok, Kamis 2 September 2021, Tersedia 945 Bed  

Selain itu, dalam CNBC Internasional juga WHO menyebut, masih diperlukan penelitian yang lebih lanjut apakah varian Mu lebih menular, lebih mematikan atau lebih membutuhkan perawatan dibandingkan varian lainnya atau virus Covid-19 yang pertama kali ditemukan.

“Strain Mu membutuhkan studi lebih lanjut untuk memastikan apakah itu akan terbukti lebih menular, lebih mematikan atau lebih resisten terhadap vaksin dan perawatan saat ini,” jelas WHO.

Hingga saat ini, belum ada juga bukti yang menunjukkan bahwa Mu lebih berbahaya atau lebih menular daripada varian Delta.

Tapi, satu hal harus yang harus dikhawatirkan dari varian ini adalah memiliki mutasi genetik P681H.

Dimana mutasi tersebut juga ditemukan pada varian Alpha yang pertama kali terdeteksi di Kent, Inggris, dan telah dikaitkan dengan transmisi yang lebih cepat. (lala/*)