Mengenal Tole Iskandar-Margonda, Dua Pahlawan Kebanggaan Depok

Nama Selain Margonda, nama Tole Iskandar juga diabadikan sebagai nama jalan di Kota Depok (DepokToday.com)Tole Iskandar diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Depok (DepokToday.com)
Selain Margonda, nama Tole Iskandar juga diabadikan sebagai nama jalan di Kota Depok (DepokToday.com)

DepokToday- Sebutan Tole Iskandar dan Margonda tentu sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat Depok. Namanya bahkan telah lama dipatenkan sebagai dua jalan utama di kota ini. Lantas siapakah sosok dibalik dua nama tersebut?

Berdasarkan hasil rangkuman DepokToday.com bertepatan dengan hari Pahlawan 10 November 2021, Tole Iskandar adalah salah satu pejuang yang lahir di Kota Depok, tepatnya di Gang Kembang, Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung.

Dia sulung dari tujuh bersaudara. Ke enam adiknya yaitu Tuti, Sukaesih, Sugito, Suyoto, Mulyati, dan Slamet Mulyono. Mereka adalah anak dari pasangan Raden Samidi Darmorahardjo dan Sukati binti Raden Setjodiwiryo.

Baca Juga: Aksi Nekat Tole Iskandar, Pemuda Depok yang Bikin Jatuh Pesawat NICA

Sosok Tole dikenal sebagai pimpinan Kelompok 21. Nama tersebut diambil karena saat itu pasukan yang dipimpin olehnya hanya berjumlah 21 personil.

Tole sempat mengenyam pendidikan militer dengan Jepang sebelum akhirnya bergabung menjadi tentara rakyat. Kala itu keluarga tak ada yang sepak terjang pria tersebut.

Karena itulah, keluarganya pun kaget ketika ia pulang kerumah dengan penampilan militer. Terlebih, saat itu, ayah Tole, Raden Samidi Darmorahardjo memiliki posisi penting sebagai salah satu pejabat yang bekerja untuk Belanda.

Baca Juga: Nyali Tole Iskandar dan Aksi Nekat Bersama Seekor Anjing

Namun demikian, ambisi Tole sebagai pejuang akhirnya mendapat restu dan dukungan penuh dari keluarga. Berbekal kemampuan dan pasukan yang dimiliki, Tole pun semakin gencar melakukan serangan terhadap penjajah.

Pertempuran yang dilakoninya tidak hanya pecah di Depok, namun hingga ke wilayah Bogor dan Sukabumi.

Untuk mendukung perjuangan Tole dan pasukannya, Raden Samidi Darmorahardjo berinisiatif mendirikan dapur-dapur logistik sebagai bekal penyediaan makanan dan minuman untuk para pejuang.

Sedangkan sejumlah adik Tole saat itu bergabung sebagai relawan medis.

Baca Juga: Kisah Raden Sungging, Ulama Sakti Depok yang Ditakuti Belanda

Tole wafat pada usia sekira 25 tahun. Ia gugur ketika menghadapi dengan sekutu di daerah Cikasintu, Sukabumi, Jawa Barat, pada 1947 bersama Batalion 8.

Kala itu pangkatnya Letnan Dua. Kini makam Tole Iskandar berada di Taman Makam Pahlawan Dreded, Kota Bogor, setelah dipindahkan dari Sukabumi.

Tole Iskandar dan Margonda

Sama seperti Tole Iskandar, Margonda juga adalah sosok pejuang yang memiliki jasa besar dalam merebut kemerdekaan RI.

Disitat dari wikipedia, Margonda lahir di BogorJawa Barat, meninggal dalam pertempuran ketika pasukannya menyerang tentara Inggris di Kali Bata pada 16 November 1945.

Margonda lahir dan besar di Bogor, ia dan keluarganya tinggal di Jalan Ardio Bogor. Waktu masih sekolah, Margonda terkenal sebagai atlet berprestasi.

Nama aslinya adalah Margana. Dia menikah dengan keponakan M. S. Mintaredja yang pernah menjadi Menteri Sosial dalam kabinet Presiden Suharto sekaligus ketua umum Partai Persatuan Pembangunan.

Margonda sempat belajar sebagai analis kimia dari Balai Penyelidikan Kimia Bogor. Lembaga ini dulunya bernama Analysten Cursus (Sekarang SMK – SMAK Bogor).

Didirikan sejak permulaan perang dunia pertama oleh Indonesiche Chemische Vereniging, milik Belanda.

Baca Juga: Ngeri, Pemotor Ini Selamat Meski Dibacok Begal Depok Berkali-kali

Memasuki paruh pertama tahun 1940-an, Margonda mengikuti pelatihan penerbang cadangan di Luchtvaart Afdeeling, atau Departemen Penerbangan Belanda.

Namun tidak berlangsung lama, karena 5 Maret 1942 Belanda menyerah kalah, dan bumi Nusantara beralih kekuasaannya ke Jepang.

Saat Jepang takluk dengan bom atom Amerika di Nagasaki dan Hiroshima pada tahun 1945, Margonda ikut aktif dengan gerakan kepemudaan yang membentuk laskar-laskar.

Kemudian, Margonda bersama tokoh-tokoh pemuda lokal di wilayah Bogor dan Depok mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) yang bermarkas di Jalan Merdeka, Bogor.

Baca Juga: Gampang Banget, Ini Ramuan Alami untuk Mengatasi Asam Lambung

Sayangnya, umur AMRI di bawah pimpinan Margonda relatif singkat. Mereka pecah dan anggotanya bergabung dengan BKR, Pesindo, KRISS dan kelompok kecil sejenis lainnya.

Margonda masuk anggota BKR di Bogor. Setelah mengikuti pendidikan kemiliteran secara singkat, ia dimasukkan ke Batalion Kota Bogor dengan pangkat letnan muda.

Sosok Margonda (Foto: Istimewa)
Sosok Margonda (Foto: Istimewa)

Dari Bogor, ia naik kereta api dan bergabung dengan pasukan Batalion I di Depok. Ketika gugur di Kali Bata, bersama rekannya Sutomo, jenazahnya dibawa ke Bogor tempat kelahirannya.

Keduanya dimakamkan di depan stasiun Bogor. Makam keduanya kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Dreded, Bogor. (rul/*)