Melongok Rumah Tua Cimanggis, Situs Sejarah VoC di Depok

0
274
Rumah Tua Cimanggis (DepokToday)

Cimanggis– Usai ditetapkan sebagai situs cagar budaya, kondisi gedung peninggalan Gubernur VoC ke-29, Jenderal Albertus van Der Parra atau yang biasa disebut Rumah Tua Cimanggis, mulai terlihat lebih baik. Padahal sebelumnya bangunan yang diperkirakan berdiri sejak tahun 1775-1778 itu terbengkalai, dan nyaris punah.

Adalah Ketua Umum Depok Herittage Community, Ratu Farah Diba, satu dari sekian peneiliti dan sejawan asal Depok yang memperjuangkan situs bersejarah tersebut. Dan apa yang dilakukan wanita berhijab itu kini mulai membuahkan hasil. Bangunan dengan luas sekira 1000 meter persegi itu saat ini telah bisa dinikmati oleh banyak pihak, tanpa harus takut roboh.

Tak hanya itu, ilalang dan rimbunnya pohon yang tadinya menutupi bangunan pun kini telah bersih. Namun demikian, wanita yang akrab disapa Farah itu menegaskan, upaya pelestarian atas rumah bersejarah itu masih terus berlanjut.

“Langkah selanjutnya kami berupaya agar bangunan ini direvitaslisasi. Saat ini sedang dalam tahap pembahasan,” katanya belum lama ini

Upaya tersebut, kata Farah tentunya akan melewati sederet proses yang cukup panjang. Mengingat lahan, tempat bangunan itu berdiri adalah milik Kementerian Agama. Rencananya, ia berharap Pemkot Depok dapat mensurati Kemenag agar bangunan tersebut bisa dihibahkan.

“Setelah disepakti kami ingin merivitalisasi karena kalau restorasi itu kan harus 100 persen asli, tapi kalau revitalsiasi bisa mendekati sampai 70 persen. Tentu sebelumya akan dilakukan kajian. Hasilnya akan menjadi rujukan, termasuk tekhnis pelaksanaannya nanti seperti apa.”

Farah menjelaskan, rumah tua ini memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi.  Dibangun pada tahun 1775-1778, rumah itu peninggalan Gubernur VoC Jenderal Albertus van Der Parra untuk istri keduanya, yakni Yohanna van Der Parra. Menurut hasil kajian peneliti, ornamen yang ada di di rumah itu terbilang langka di Indonesia karena sangat modern pada zamannya dulu.

“Disini ada empat kamar tidur. Di depan itu kamar utama dan kamar anaknya. Di ruang tengah ruang utama. Di belakang ruang keluarga. Yang membedakan kamar utama dan kamar anak bisa dilihat dari ornamen atau hiasan fentilasi di atas pintu yang berbentuk gambar bayi,” kata Farah.

Pada bagian belakang bangunan, terdapat beranda yang dulunya digunakan oleh keluarga bangsawan itu untuk menikmati teh sambil melihat pemandangan yang tadinya adalah situ atau danau. Namun kini telah menjadi hamparan pemukiman padat penduduk.

Sebelum disahkan sebagai cagar budaya, bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda itu sempat diisukan bakal dirobohkan terkait proyek pembangunan kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Namun belakangan pihak proyek memastikan bangunan akan tetap terjaga dan tidak akan dirobohkan.

Rumah tua Cimanggis yang memiliki luas bangunan sekira 1000 meter persegi itu telah ditetapkan sebagai bangunan yang dilindungi berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota bernomor 593/289/Kpts/Disporyata/Huk/2018, tanggal 24 September 2018 tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya Gedung Tinggi Rumah Cimanggis. (Zahrul Darmawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here