Melestarikan Tradisi Pesantren dengan Kitab Kuning

0
1172
Kitab Kuning.(nuonline)

KITAB Gundul atau dikenal juga dengan Kitab Kuning merupakan kitab tradisional  yang berisi pelajaran-pelajaran agama islam yang diajarkan pada pondok-pondok pesantren.

Disebut Kitab Kuning karena kertasnya berwarna kuning. Sebab, ketika penerangan masih terbatas pada masa lampau, utamanya di desa-desa, para santri terbiasa belajar di malam hari dengan pencahayaan seadanya, warna kuning dianggap lebih nyaman dan mudah dibaca dalam keadaan yang redup.

Kitab Kuning tidak memiliki harakat (fathah, kasrah, dhammah, sukun), tidak seperti kitab Alquran. Oleh sebab itu, untuk bisa membaca kitab kuning berikut arti harfiah kalimat per kalimat agar bisa dipahami secara menyeluruh.

Menurut Pengasuh Pesantren Al-Hikam Depok, KH. Yusron Ash-Shidiq, model pengajaran Kitab Kuning yang menggunakan teks Arab tanpa harakat memiliki keunikan tersendiri.

Kata Yusron, sang guru membaca perkata dengan memberikan harakat serta menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab.

“Disini membutuhkan kesabaran karena pembahasan sebuah kitab dari awal sampai akhir. Justru inilah yang melestarikan tradisi pesantren. Mungkin saudara kita ada yang belajar dengan metode secara tematik dan itu juga bagus,” terang Yusron pada acara Haul ke-3 KH. Hasyim Muzadi di Pesantren Al-Hikam, Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Senin (16/3/2020).

Pada kesempatan ini, Pesantren Al-Hikam juga menghadirkan ulama muda, KH Bahauddin Nur Salim atau lebih dikenal dengan Gus Baha, asal Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah.

Gus Baha (angkat tangan) ketika menghadiri acara Haul ke-3 KH. Hasyim Muzadi di Pesantren Al-Hikam, Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji.(DepokToday/Ahi)

Yusron menilai, pengajian Gus Baha dengan metode mengaji Kitab Kuning telah memberikan semangat baru di dunia pesantren.

Bahkan, lanjutnya, telah menyadarkan para pengajar di pondok pesantren untuk Istiqomah dalam berkhidmat bagi pesantren.

“Melalui pengajian Gus Baha yang bisa dilihat secara online. Ini telah banyak menyadarkan para ustadz, mereka banyak yang bilang saya pengen ngabdi di pesantren ngajar santri,” tandasnya.

(ahi)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here