Megawati Isyaratkan Capek Pimpin PDIP, Sosok Inikah Penerusnya?

Megawati Soekarnoputri (Istimewa)
Megawati Soekarnoputri (Istimewa)

DepokToday- Megawati Soekarnoputri belum lama ini mengeluh capek memimpin PDIP. Data yang dihimpun menyebutkan, tongkat komando atas partai tersebut telah dipegang Mega selama sekira 28 tahun.

Nah, diusianya yang kini sudah menginjak 74 tahun, Mega kembali melontarkan pernyataan serupa.

Dilansir dari Hops.id jaringan DepokToday.com, keluhan Mega mengundang banyak pertanyaan publik.

Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Indostrategic, A Khoirul Umam mengatakan, yang bisa menjawab motif di balik Mega capek pimpin PDIP tentu beliau sendiri. Apakah karena usia, jenuh atau memang ada makna lain di belakangnya.

Namun terlepas dari itu semua, Khoirul Umam mengatakan, apa yang disampaikan Mega tentu mengindikasikan akan ada regenerasi besar di tubuh partai banteng moncong putih itu. Indikasi ini, kata dia, setidaknya sudah dua kali diperlihatkan Mega.

Presiden Jokowi tinjau percepatan vaksinasi di Bogor. (DepokToday.com)
Presiden Jokowi tinjau percepatan vaksinasi di Bogor. (DepokToday.com)

Pertama ada pada saat 22 Juli 2020 lalu. Di mana Megawati mengatakan akan terjadi regenerasi total di tubuh PDIP pada 2024 mendatang. Dan keluhan capek memimpin PDIP, merupakan sinyal kedua yang disampaikan pasca tahun lalu.

“Kalau itu terjadi, ini menunjukkan ada dinamika internal PDIP yang cukup positif. Dia sepertinya sadar regenerasi kepemimpinan sangat penting daripada mempertahankan politik patronase yang bisa cenderung rapuh dan kurang produktif mengelola basis pemilih loyal, dan voters yang kuat,” katanya dikutip Jumat 6 Agustus 2021.

Baca Juga: Disebut Penyumbang Kasus Aktif Tertinggi, Satgas COVID-19 Depok: Pusat Kurang Peka

Pertanyaan selanjutnya tentu ada pada sosok, siapa kira-kira yang pas dan tepat menggantikan Mega memimpin PDIP. Apakah sudah ada sosok pengganti yang tepat sejauh ini?

Terkait ini, Khoirul Umam bilang Mega pernah memberikan pengandaian dengan kata-kata ‘Kalau misal anak-anak ikhlas’.

Dari sana Khoirul membaca, ini merupakan tradisi Jawa sebagai bentuk sindiran. Di mana, bisa saja ada pihak yang menggantikan beliau di kemudian hari.

Namun meski begitu, untuk saat ini, penentu dari proses regenerasi politik disebut bukan sistem kepartaian, tetapi sistem dari otoritas kekuasaan Mega sebagai pemilik saham besar di PDIP.

Megawati Capek, Bagaimana Peluang Jokowi?

Walaupun sejumlah sinyal sudah kerap diperlihatkan Mega, namun hingga kini Khoirul menangkap kalau sejauh ini belum ada kader yang cukup menonjol dan siap untuk menggantikannya.

Jika berpatokan pada nama-nama yang ada, sejumlah kader nampak menginginkan agar trah Soekarno tetap maju untuk memimpin. Yakni ada nama putri Mega Puan Maharani, dan Putra Mega yakni Prananda Prabowo.

“Tetapi, kalau keduanya dipertemukan dalam kontestasi yang demokratis, maka tentu akan memunculkan faksionalisme di tubuh PDIP,” tuturnya.

Puan Maharani. Foto: Ist.
Puan Maharani. Foto: Ist.

Khoirul memandang sejauh ini memang belum ada orang yang pas dan sekuat Megawati memimpin PDIP. Meski begitu, jika sinyal 2024 ada regenerasi total di tubuh PDIP, Khoirul lantas menyebut nama Jokowi sebagai salah satu alternatif yang bisa cukup diperhitungkan.

Baca Juga: Dicap Lambat, Ini Catatan PDIP untuk Pemkot Depok Soal Vaksinasi

Apalagi dengan modal Jokowi yang bisa memimpin negara selama 10 tahun sampai tahun 2024 mendatang.

“Kalau benar, tentu 2024 ada alternatif lain. Pak Jokowi kan juga punya kapasitas memimpin negara 10 tahun, tentu itu bisa jadi alternatif,” katanya.

Akan tetapi, nama Jokowi tentu bakal diganjal sebagian pihak yang tetap menginginkan agar tongkat estafet kepemimpinan PDIP tetap dipegang oleh keturunan trah Soekarno.

“Patronase politik di dalam PDIP sejauh ini masih menujukkan kalau yang kuat memegang pengaruh adalah trah Soekarno.”

Genjot Nama Puan

Atas dasar itulah, sejumlah pihak kemudian coba terus menggenjot nama Puan Maharani untuk naik ke posisi yang pantas. Termasuk bagian upaya menaikkan pamor politiknya di hadapan rakyat.

Salah satunya dengan memasang banyak baliho sebagai bagian strategi komunikasi politik, di tengah elektabilitas yang rendah.

“Baliho ini mengkonfirmasi memang sedang ada kiat serius untuk menaikkan popularitas Puan agar lebih memadai. Makanya baliho ini jadi strategi politik mereka,” tuturnya. (rul/*)