Mantan Menkes Siti Fadilah Ungkap Kejanggalan Vaksin COVID-19

Siti Fadilah Supari. Foto: Instagram
Siti Fadilah Supari. Foto: Instagram

JAKARTA- Mantan Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari mengaku heran kenapa hingga kini Pemerintah masih terus menggelorakan vaksin COVID-19. Padahal, disisi lain mutasi corona hingga kini terus bergerak cepat. Bahkan sudah sampai 4 ribu kali.

Siti Fadilah juga mempertanyakan vaksin yang diberikan sampai kini formulanya masih belum berubah, mengimbangi mutasi jenis virus baru.

Selain itu, menurut dia, vaksin yang ada sekarang membutuhkan waktu panjang membentuk kekebalan tubuh seseorang.

“Saya heran, ya, mutasi virus corona sudah 4 ribu, kok vaksinasi masih tetap jalan, ya,” kata Siti Fadilah Supari disitat dari kanal Youtube pribadinya, dikutip pada Rabu 23 Juni 2021.

Terkait hal itu, ia pun menduga kalau Pemerintah sudah terlanjur membeli vaksin dalam jumlah banyak, sehingga tetap harus didistribusikan walau virus corona terus bermutasi sampai ribuan kali.

Kata Ahli Virologi ke Siti Fadilah Supari

Sementara itu, ahli virologi Prof Chairul A Nidom melihat itu karena ketidaktahuan pemerintah maupun masyarakat tentang virus. Prof Nidom yang tampil dalam bincang-bincang bersama Siti Fadilah ini kemudian membeberkan konsep vaksin di masyarakat yang terlalu sederhana.

Vaksinasi mereka umpamakan seperti imunisasi untuk anak-anak yang bisa menjadi kebal akan covid-19. Akibatnya, kata Prof Nidom, mereka jadi lalai terhadap protokol kesehatan

Padahal, masyarakat belum tahu apa itu vaksin maupun virus.

“Pemahaman masyarakat, ya, seperti anak-anak divaksin, diimunisasi. Padahal, tidak semua virus bisa divaksin. Tidak semua vaksin bagus untuk virus,” katanya.

Baca Juga: Ini Instruksi Presiden untuk 4 Pilar Terkait Penanganan COVID-19

Dengan demikian, lanjut ketua Riset CoV dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation Surabaya, ini tergantung pada suprastruktur pemerintah. Virus mempunyai suatu perilaku tergantung pada sistem lingkungan.

Apabila ada kondisi yang mendorong virus itu naik maka bisa langsung menginfeksi seseorang.

“Pada saat menginfeksi seseorang, dia (virus) sudah adaptif terhadap seseorang sehingga menularkan lebih gampang,” ucapnya. (rul/*)