Makna Bajingan yang Bergeser, Profesi Sejak Abad ke-16, Kini Jadi Makian

Ilustrasi bajingan (foto: nationalgeographic.grid.id)
Ilustrasi bajingan (foto: nationalgeographic.grid.id)

DepokToday – Umpatan kata kasar umumnya banyak dihubungkan dengan binatang. Tapi ada juga yang sering mengumpat dengan kata Bajingan. Namun, mungkin jarang yang tau jika kata ini sebetulnya memiliki pergeseran pemahaman yang umun, dari nama profesi yang sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak zaman dahulu.

Bahkan, kata bajingan sudah eksis sejak abad ke-16 M. Kata yang merupakan profesi ini memegang erat kekerabatan dan kerukunan.

Melansir dari National Geographic Indonesia pada Senin 30 Agustus 2021, pada era pemerintahan Hindia-Belanda, masyarakat pribumi tidak dapat menaiki transportasi mewah sebagaimana para pejabat Eropa.

Mereka hanya dapat menunggangi gerobak sapi untuk mobilitas sehari-hari, itupun bagi masyarakat pribumi dengan ekonomi menengah ke atas. Bajingan merupakan suatu profesi kusir gerobak sapi, sekaligus warisan kearifan lokal yang sudah ada sejak zaman dulu.

Pasca kemerdekaan, bajingan dapat berfungsi juga untuk mengangkut material seperti truk di zaman sekarang.

Pada 1975, tarif untuk membawa material sampai ke tujuan dalam sekali angkut berkisar Rp150. Komunitasnya juga masih bertahan hingga hari ini.

“Pasca kemerdekaan hingga hari ini, masyarakat Bantul, Yogyakarta, masih melestarikan paguyuban para penarik gerobak sapi” tulis Dito Ardhi Firmansyah dalam karyanya yang berjudul Kontruksi Makna Kata Bajingan (Studi Etnografi Perubahan Makna Kata Bajingan dalam Komunitas Kusir Gerobak Sapi di Bantul Yogyakarta), publikasi tahun 2018.

Desanti Arumingtyas Dyanningrat dalam karyanya berjudul Perancangan Buku Nilai Sejarah Dan Filosofi Mataram Islam Pada Gerobak Sapi, publikasi tahun 2018 menjelaskan bahwa “dalam kultur budaya Jawa kusir gerobak sapi disebut ‘bajingan’, singkatan dari bagusing jiwo angen-angening pangeran yang artinya orang baik yang dicintai Tuhan”.

“Mulianya, pada saat perjuangan kemerdekaan, bajingan jadi salah satu opsi dalam perang geilya untuk persembunyian para pejuang dibalik rumput dan hasil panen dalam gerobaknya” kata dia dalam tulisannya.

Bajingan Jadi Langka

Sementara itu, Bajingan yang populer di Jawa pada awal 1900 hingga 1940-an, menjadi kendaraan yang cukup langka di wilayah pelosok Yogyakarta. Masyarakat kerap turut dalam gerobak yang ditarik sapi atau kerbau untuk keluar menuju kota, baik untuk berdagang, sekolah, hingga bekerja.

Baca Juga: Hari Ini Polsek Sukmajaya Vaksin 500 Pelajar, Target September Rampung

Transportasi ini selain langka, juga berjalan dengan lambat, sehingga waktu melintasnya tak tentu. Kerap kali karena para calon penumpang sambat (mengeluh) setelah lama menunggu.

Meski awalnya merupakan nama profesi yang mulia, istilah tersebut kemudian berubah menjadi kata umpatan atau makian karena kerap mengecewakan para calon penumpang. Setelah berkembangnya teknologi dan alat transportasi di Indonesia, banyak masyarakat yang kemudian beralih pada alat transportasi yang lain.

Hal ini juga menyebabkan semakin langkanya profesi ini di wilayah Jawa.
Bersamaan dengan itu, penempatan kata ‘bajingan’ dalam kehidupan sehari-hari, kini telah menjadi tabu dan cenderung negatif.

Meskipun tidak dapat dipungkiri, istilah bajingan juga sudah semakin jarang digunakan di luar wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Perubahan zaman telah memengaruhi kehidupan anak muda. Para millenials akan lebih akrab dengan kata ‘anjay’ atau ‘anjir’. (lala/*)