Makan 20 Menit, Pengelola Warteg: Kalau Meninggal Gegara Tersedak Gimana?

Warteg (Foto: Istimewa)
Warteg (Foto: Istimewa)

DepokToday- Presiden Joko Widodo atau Jokowi kembali memperpanjang masa berlaku Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 hingga 2 Agustus karena situasi pandemi Covid-19 belum membaik.

Namun beberapa aktivitas ekonomi dan sosial akan dilonggarkan sedikit dalam perpanjangan PPKM kali ini. Salah satunya tentang aturan makan di tempat.

Pemerintah mengizinkan makan di tempat hanya dalam waktu tak kurang dari sekira 20 menit.

Sontak kebijakan itu pun disambut beragam komentar. Banyak yang tak setuju. Dilansir dari Hops.id jaringan DepokToday.com, protes tersebut salah satunya disuarakan oleh Ketua Koordinator Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni.

Mereka menilai, kebijakan yang disebut Luhut Binsar Panjaitan itu ngawur.

Pelaku usaha kuliner ini mempertanyakan bagaimana caranya orang makan dibatasi waktu cuma 20 menit.

“Itu kebijakan ngawur, mereka (pemerintah) tidak pernah makan di warteg, di warteg ini kan ada anak muda yang mungkin bisa makan 20 menit, tapi ada orang tua kalau makan 20 menit ya kalau tersedak karena tergesa-gesa gimana,” kata Mukroni, Senin 26 Juli 2021.

Bukan hanya terkait waktu, kenyamanan orang makan untuk menikmati menjadi batasan dengan adanya peraturan tersebut. Tak lucu menurut Mukroni jika orang yang makan di warteg meninggal karena tersedak.

“Apalagi sampai meninggal gara-gara tersedak di warteg, bukan karena COVID-19, siapa yang tanggung jawab?” sambungnya.

Baca Juga: Jejak Roti Lauw, Makanan Gerobak Langganan Istana Kepresidenan

Namun demikian, Mukroni mengaku masih belum mendapatkan informasi detail adanya pembatasan waktu makan di warteg hingga saat ini.

“Tidak ada sosialisasi, kami baru baca dari media, teknisnya harus jelas, terus apa lagi klo makan pecel lele di pinggir jalan. Ada proses waktu; matiin lele, goreng lele, nyambel, waktu menghidangkan dan lainya butuh waktu lebih dari 20 menit, apa lagi makan seafood kepiting,” katanya.

Sentil Luhut, Warteg Lebih Baik Tutup

Frontalnya Mukroni menilai jika para pedagang kecil sebenarnya tidak mempermasalahkan jika harus tutup untuk menekan penyebaran virus COVID-19, asal pemerintah juga mendukung dengan adanya bantuan jika pedagang warteg diharuskan di rumah saja.

“Kami ini kalau gak usah jualan juga gak papa, tapi kalau dikerangkeng aja ya susah, ngawur ini, absurd, ambigu, maju kena mundur kena, ini yang kasih 20 menit itu siapa?” kata Mukroni. (rul/*)