Mahasiswa UI Ikut Kompetisi Penerbangan International di Turki

Tim AUAV UI ikuti lomba Penerbangan terbesar dunia di Turki. FOTO: Istimewa
Tim AUAV UI ikuti lomba Penerbangan terbesar dunia di Turki. FOTO: Istimewa

DepokToday – Sembilan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) terbang ke Turki untuk ikuti perlombaan penerbangan terbesar di dunia yaitu UAV Competition selama lima hari mulai dari 13 hingga 18 September 2021.

Kesembilan mahasiswa itu terdiri dari tujuh mahasiswa Fakultas Teknik dan dua mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam yang tergabung dalam Autonomous Unmanned Aerial Vehicle (AUAV) Tim Robotika Universitas Indonesia (TRUI).

“Tujuan utama kami mengikuti kompetisi ini untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang mekanika, manufaktur, elektronika, pemrograman, strategi, image processing, komunikasi digital, dan soft skill lainnya terkait dunia robotik,” kata kapten tim, Luthfi Aldianta melalui keterangan persnya, Senin 13 September 2021.

Baca Juga: Vokasi UI Cetak 737 Mahasiswa Bersertifikasi Siap Terjun di Dunia Industri

Selain itu, lanjut Luthfi, ia dan tim juga ingin membuktikan bahwa UI memiliki sumber daya mahasiswa yang mampu bersaing pada skala internasional dan memiliki kemampuan yang kompeten, respektif, dan adaptif.

UAV Competition diselenggarakan di Bursa Yunuselli Airport, Turki. Ada 34 kategori lomba yang dipertandingkan, diantaranya kategori roket, sistem otonomi, kecerdasan buatan, dan sistem bawah air. Salah satu tipe yang dilombakan ialah kategori Fixed Wing & Vertical Take-off & Landing (VTOL).

Pada kompetisi ini, Tim AUAV UI membawa teknologi fixed wing atau yang akrab disebut pesawat sayap tetap atau pesawat konvensional. Pesawat ini memiliki sejumlah konfigurasi yang berbeda dari pesawat biasa, seperti bentuk badan pesawat yang dilengkapi dengan dua sayap dan satu motor.

“Jenis pesawat ini populer di industri pertanian dan perminyakan untuk melakukan pemetaan area, seperti pemetaan kontur tanah,” kata Luthfi.

Kecepatan serta kemampuan jangkauan wilayahnya yang luas membuat teknologi pesawat ini juga sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan penanganan kebencanaan, seperti kegiatan melacak korban, mengumpulkan dan mengirimkan sampel medis, serta mengirimkan persediaan dan obat-obatan ke daerah terpencil dan tidak terjangkau.

“Dalam membuat teknologi ini kami mengedepankan aspek kestabilan udara, aspek ketahanan rangka robot terbang, aspek akurasi posisi, aspek keamanan robot, dan tidak lupa juga aspek penampilan robot agar fungsional, namun tetap estetik. Ini semua indikator penilaian yang penting dalam perlombaan nantinya,” lanjut Luthfi menjelaskan.

Baca Juga: Kenalkan Ribuan Hasil Riset, Universitas Indonesia Buka Pameran Secara Virtual

Mahasiswa Fakultas Teknik itu mengatakan, pesawat fixed wing terbuat dari fiber dan foam agar rangka pesawat tetap kuat, namun ringan digunakan. Untuk keakuratan, robot terbang ini menggunakan flight controller dengan arsitektur 32-bit yang disertai dengan pelacak GPS dengan kemampuan cakupan kurang lebih 20 satelit.

”Dari segi desain, robot terbang ini dilengkapi dengan baling-baling yang mengarah ke belakang, sehingga ketika robot ini menabrak suatu objek, objek tersebut tidak akan tersayat oleh baling-baling robot,” kata Luthfi.

Teknologi robot terbang ini dilengkapi dengan bantuan dari Microsoft yang digunakan untuk memaksimalkan kemampuan robot, seperti GitHub, Microsoft Azure IoT Hub, Azure Time Series Insights, dan Azure Maps. Ini digunakan untuk menjaga agar jalur penerbangan robot dapat diketahui secara akurat.

Tim AUAV mempunyai fokus pada jenis perlombaan pesawat tanpa awak. Sebelumnya, tim ini telah meraih beberapa penghargaan, baik nasional maupun internasional, diantaranya adalah penghargaan Mission Accomplishment pada Kontes Robot Terbang Indonesia 2020 pada kategori fixed wing dan finalis Teknofest UAV Competition 2020 pada kategori yang sama. (ade/*)