Mahasiswa Lombok Diciduk Polisi

Ilustrasi UU ITE (istimewa)

Lombok- Islahul Wathani (22 tahun), mahasiswa Lombook, Nusa Tenggara Barat terapksa dijerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) lantaran dianggap menghina polisi.

Dia dijerat pasal 27 ayat (3) jonto pasal 45 ayat (1) UU ITE karena dugaan menghina polisi pada sebuah komentar di Facebook.

Melalui akun bernama Wathani Ishalahul, dia mengomentari sebuah status dan memaki polisi dengan sebutan nama hewan.

Warga Desa Montong Beter, Kecamatan Sakra Barat, Lombok Timur, ini kemudian dicari polisi ke rumahnya. Karena Wathani tengah kuliah di Mataram, akhirnya polisi meminta orangtuanya untuk sukarela mengantar anaknya ke kantor polisi.

Orangtua Wathani secara sukarela mengantar anaknya di kantor polisi pada pukul 15.00 Wita, Jumat, 4 Oktober 2019.

“Sepulang pelaku mengikuti kuliah di Universitas Muhammadiyah Mataram, kedua orang tuanya langsung mengantarnya di Polsek Sakra Barat,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Lombok Timur AKP Made Yogi.

Wathani kemudian dibawa ke Polres Lombok Timur untuk diproses hukum atas perbuatannya.

Pegiat media sosial sekaligus relawan Paguyuban untuk Korban ITE (Paku ITE), Rudi Lombok, menyesali sikap polisi yang memproses hukum Wathani.

Menurut Rudi, Wathani tidak memenuhi kriteria untuk dijerat pasal 27 ayat (3) karena unsur “diketahui umum” pada pasal tersebut tidak terpenuhi.

“Komentar dalam status Facebook atau media sosial tidak memenuhi kriteria ‘diketahui umum’ dalam pemberlakuan pasal 27 ayat (3), karena perlu tindakan tambahan berupa klik dari pengakses kolom komentar,” ujarnya.

Memang, katanya, terdapat pengecualian jika narasi pada komentar tersebut tinggal atau hanya satu komentar, tapi pada kasus tersebut justru Wathani menulis komentar yang saat itu tengah banyak orang lain ikut juga mengomentari. (dar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here