Maharaja 48, Band Asal Depok yang Siap Getarkan Jalur Gaza Palestina

Maharaja 48 bertekad ke Palestina (Foto: Tayangan YouTube)
Maharaja 48 bertekad ke Palestina (Foto: Tayangan YouTube)

DepokToday- Tak dapat dipungkiri, Indonesia dan Palestina memang memiliki kedekatan emosional yang cukup mendalam. Maka tak heran, jika isu-isu kemanusiaan yang terjadi di negara tersebut kerap disuarakan oleh anak bangsa di negeri ini.

Tak hanya dari kalangan politikus, akademisi maupun tokoh agama, dukungan terhadap Palestina juga sering kali terdengar lewat bait-bait lagu. Salah satunya seperti yang disuarakan oleh Maharaja 48, band indie asal Depok, Jawa Barat.

Baca Juga: Supres Jokowi: Jenderal Andika Jadi Calon Tunggal Panglima TNI

Amar Maruf, pentolan dalam band tersebut mengungkapkan, sejumlah karya yang ia ciptakan memang berkaitan erat dengan isu-isu nasionalisme, kemanusiaan dan sosial. Maka tak heran jika salah satu konsennya adalah hak-hak kemanusiaan di Palestin.

“Saya berangkat dari isu dan bicara kemanusiaan. Yang kita dengar dan lihat selalu ada peperangan Israel-Palestin. Nah saya mendorong ini lebih kepada masalah kemanusiaan. Minimal kita bisa membantu menyuarakan hak-hak kemanusiaan di sana,” katanya pada awak media, Rabu 3 November 2021.

Beberapa judul lagu yang berkaitan dengan konflik di sana di antaranya, Save Palestine, Palestina Sudara Kami dan masih ada lagi yang lainnya.

“Jadi pesan moralnya, pemahaman saya ini lebih kepada masalah kemanusiaan. Masalah ketamakan. Saya juga akan menyuarakan hal yang sama pada negara manapun yang mengalami nasib serupa, tidak hanya Palestina,” tegasnya.

Baca Juga: 2 Anaknya Putus Sekolah, Terdakwa Hoax Babi Ngepet Disemprot Hakim

Beberapa karya Maharaja 48 ternyata cukup menyedot perhatian, dan yang paling banyak ditonton di YouTube adalah lagu-lagu yang berkaitan dengan isu Palestina. Saking trendingnya, band tersebut bahkan diundang untuk datang mengisi acara di Jalur Gaza, Palestin.

Bahkan undangan tersebut diantarkan langsung oleh National Government Organization atau NGO dari Palestina.

“Sejak berdiri setahun, kami sudah pernah manggung di beberapa tempat, salah satunya di Kendari, tema-nya Merah Putih, terus kita juga sering panggung virtual. Nah, kita bahkan pernah diundang untuk manggung di Jalur Gaza loh,” ujarnya.

Maharaja 48 Getarkan Palestina

Lebih lanjut pria yang saat ini menjabat sebagai staf ahli Ketua DPD RI itu mengungkapkan, NGO dari Palestina saat itu mencari teman-teman dari Asia yang berani menyuarakan tentang konflik kemanusiaan di sana.

“Nah di Malaysia nggak dapat, mungkin ada yang share lagu kami makanya mereka ke sini. Langsung rapat disini (Depok), surat-surat, izin keberangkatan, semua sudah rapih dan waktu itu kita dijadwalkan berangkat 12 Agustus tahun ini, jelang HUT RI,” katanya.

“Keluarga sempat kaget, khususnya anak saya, dia benar-benar warning ke saya kalau bisa jangan kesana, karena khawatir. Tapi setelah saya kasih pemahaman, menolong sesama saudara akhirnya dia paham. Inikan bagian dari perjuangan untuk perdamaian,” sambungnya.

Baca Juga: Ditantang Duel Bandit, Tim Jaguar Akhirnya Batal Dibubarkan

Namun sayang, rencana itu kandas akibat pandemi yang cukup tinggi kala itu. Padahal, saat segala keperluan untuk berangkat sudah dipersiapkan dengan cukup matang.

Pendiri Maharaja 48, Amar Maruf (DepokToday.com
Pendiri Maharaja 48, Amar Maruf (DepokToday.com

Meski tahun ini gagal menggetarkan Jalur Gaza dengan musik dan pesan perdamaian, namun Amar dan kawan-kawannya tak akan meyerah. Ia bahkan bertekad untuk berangkat langsung jika ada kesempatan.

“Saya akan tetap kesana, mungkin ini hanya bagian kecil dari bisa kami sumbangkan untuk misi perdamaian di sana,” kata pemilik Universitas Pelopor Bangsa tersebut.

Merah Putih Harga Mati

Band Maharaja 48 diisi lima personil inti. Amar berperan sebagai vokal sekaligus gitar, kemudian ada Leon dan David yang juga memegang gitar. Selanjutnya Madi sebagai drumer dan bass dipegang oleh Dani.

Aliran musik yang mereka usung adalah rock dan banyak dipengaruhi oleh Metallica. Meski terdengar sangar, namun ternyata seluruh tema yang disuguhkan mengajak untuk lebih mencintai Indonesia loh.

“Saya lebih kepada menyuarakan nasionalisme kebangsaan dan religi. Saya melihat sekarang ini banyak milenial yang jiwa nasionalismenya kurang, kita krisis nasionalisme. Banyak milenial lupa akan sejarah, lupa akan jasa pahlawan,” ujarnya.

“Kita miris, padahal kita tinggal mempertahankan saja susah. Mudah-mudahan dengan musik ini bisa tumbuh kecintaan terhadap Tanah Air. Karena apapun ceritanya merah putih harga mati,” tegasnya. (rul/*)