Krisis Buat Harga Pembalut Selangit, Wanita di Negara Ini Ganti Pakai Tisu

Para warga Beirut, Lebanon yang saat ini krisis tengah berdemonstran menuntut revolusi. Foto: Mirror
Para warga Beirut, Lebanon yang saat ini krisis tengah berdemonstran menuntut revolusi. Foto: Mirror

DEPOK – Pandemi COVID-19 membuat krisis ekonomi di sejumlah negara, salah satunya di Lebanon. Bahkan, sangking tidak memiliki uang, perempuan di sana tidak mampu membeli pembalut.

Tidak hanya karena pandemi yang membuat negara tersebut krisis, namun, sejak kejadian ledakan pelabuhan Beirut yang mematikan, perekonomian di negara itu terguncang.

Dilansir dari Suara.com, harga pembalut di negara itu naik hingga 500 persen karena krisis ekonomi yang parah. Karena mahalnya harga pembalut, organisasi non-pemerintah Lebanon Fe-Male mengatakan telah muncul Istilah “Kemiskinan Datang Bulan” di Lebanon.

Banyak diantara perempuan di sana harus mengganti pembalut dengan koran, kain bekas atau kertas tisu.

Baca juga:[Update] Data BOR Rumah Sakit di Kota Depok, Kamis 8 Juli 2021

“Ini sangat menyedihkan, itu memalukan. (Perempuan) menggunakan kertas tisu. Beberapa dari mereka memotong popok anak mereka menjadi dua sehingga mereka dapat menggunakannya juga. Mereka menggunakan koran. Mereka menggunakan kain tua. Sangat memalukan, dan yang terpenting tidak higienis sama sekali,” kata salah satu pendiri inisiatif Dawrati Line Masri kepada Al Arabiya English.

Bagaimana tidak, pembalut yang sebelumnya berharga 3.000 hingga 4.000 pound Lebanon atau seta Rp29 ribu. Saat ini, produk yang sama berharga mulai dari 13.000 pound atau Rp125 ribu hingga 32.000 pound atau Rp304 ribu.

Jika diasumsikan rata-rata seorang wanita di Lebanon akan menghabiskan sekitar 90.000 pound atau Rp869 ribu untuk membeli pembalut saja setiap bulan. (lala/*)