Korut Tolak Mentah-mentah Ajakan Damai Korsel, Ini Sebabnya

Ilustrasi Korut dan Korsel (Foto: Istimewa)
Ilustrasi Korut dan Korsel (Foto: Istimewa)

DepokToday- Pemerintah Korea Utara (Korut) kembali bersikap tegas menolak desakan Korea Selatan (Korsel) untuk berdamai. Menurut Korut, langkah seperti itu dapat digunakan sebagai tabir asap yang menutupi kebijakan permusuhan Amerika Serikat (AS) terhadap Pyongyang.

Disitat dari sindonews, seruan deklarasi perang Korea berakhir itu diungkapkan Presiden Korsel, Moon Jae-in dalam pidato rseminya di Majelis Umum PBB belum lama ini. Menurutnya, hal itu dapat membantu mencapai denuklirisasi dan perdamaian abadi di Semenanjung Korea.

Namun ternyata Wakil Menteri Luar Negeri Korut, Ri Thae-song menolak seruan Pimpinan Korsel, Moon. Ri Thae menyebut seruan itu prematur selama kebijakan AS tidak berubah.

“Harus dipahami dengan jelas bahwa deklarasi penghentian perang sama sekali tidak membantu menstabilkan situasi Semenanjung Korea saat ini, tetapi dapat disalahgunakan sebagai tabir asap yang menutupi kebijakan permusuhan AS,” katanya seperti dikutip DepokToday.com dari AP pada Sabtu 25 September 2021.

Baca Juga: Kronologi Lengkap Prajurit TNI Dibunuh di Depok: Ditusuk, Dilempar Batu

Ia juga mengungkapkan, senjata dan pasukan Amerika yang dikerahkan di Korsel dan sekitarnya serta latihan militer reguler AS di kawasan itu semuanya mengarah pada kebijakan permusuhan AS terhadap Korut yang semakin kejam dari hari ke hari.

Korut juga telah lama menggambarkan sanksi ekonomi yang dipimpin AS sebagai bukti permusuhan Washington terhadap Pyongyang.

Perang Korut dan Korsel

Untuk diketahui, perang Korea pada tahuan 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai, sehingga secara teknis meninggalkan semenanjung itu dalam keadaan perang.

Korut terus-menerus ingin menandatangani perjanjian damai dengan AS untuk secara resmi mengakhiri perang dan selanjutnya untuk menjalin hubungan yang lebih baik, keringanan sanksi dan pengurangan atau penarikan 28.500 tentara AS yang dikerahkan di Korsel.

Kedua Korea telah menyerukan deklarasi perang berakhir yang akan dibuat selama periode diplomasi dengan AS yang dimulai pada 2018, dan ada spekulasi bahwa Presiden Donald Trump mungkin mengumumkan perang berakhir pada awal 2019 guna meyakinkan pemimpin Korut Kim Jong-un untuk berkomitmen pada denuklirisasi.

Baca Juga: Pelanggaran PPKM Darurat, Mantan Lurah Pancoran Mas Siap Disidangkan

Namun hingga saat ini tidak ada pengumuman seperti itu karena diplomasi memudar menjadi jalan buntu karena pelonggaran sanksi sebagai imbalan atas denuklirisasi Korut.

Bahkan dalam beberapa bulan terakhir, Kim Jong-un telah memperingatkan bahwa Korut akan meningkatkan persenjataan nuklirnya dan memperkenalkan sistem senjata yang lebih canggih kecuali AS menghentikan kebijakan permusuhannya.

Belum lama ini, Korut telah melakukan uji coba rudal pertamanya dalam enam bulan, menunjukkan kemampuannya untuk meluncurkan serangan ke Korsel dan Jepang, dua sekutu utama AS di mana total 80.000 tentara Amerika ditempatkan. (rul/*)