Korut Punya Pasukan Khusus Bunuh Pejabat yang Berkhianat

Ilustrasi pasukan khusus yang mengincar pejabat Korut (Foto: Istimewa)
Ilustrasi pasukan khusus yang mengincar pejabat Korut (Foto: Istimewa)

DepokToday- Rezim Pyongyang dikabarkan sempat membentuk pasukan khusus yang tugasnya membunuh pejabat Korea Utara (Korut) jika dianggap membelot. Hal itu diungkapkan oleh mantan mata-mata top negara tersebut, Kim Kuk-song.

Melansir Sindonews, Kim Kuk-song telah bertugas sebagai mata-mata Korut selama 30 tahun hingga akhirnya membelot ke Korea Selatan pada 2014, lalu.

Disitat dari BBC, ia mengungkapkan karir awal pemimpin saat ini, Kim Jong-un. Menurutnya sebelum diangkat sebagai pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong Un adalah seorang pemuda yang ingin membuktikan dirinya sebagai pejuang.

Baca Juga: Dipasangi Rambu, 3 Ruas Jalan di Depok Ini Dianggap Rawan Kecelakaan

Dengan ambisinya kala itu, Korut kemudian membentuk agen mata-mata baru yang disebut Biro Umum Pengintaian (RGB) pada tahun 2009, tepat saat Kim Jong-un dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya yang menderita stroke.

Kepala biro itu adalah Kim Yong-chol, yang tetap menjadi salah satu pembantu pemimpin Korut yang paling dipercaya.

Baca Juga: Innalillahi, Temuan Mayat Lelaki di Pinggir Sungai Ciliwung Gegerkan Warga, Kondisinya Begini

Kim Kuk-song menyebut, bahwa pada Mei 2009, sebuah perintah turun dari rantai komando untuk membentuk satuan tugas teror dengan tujuan membunuh seorang mantan pejabat Korut yang membelot ke Korea Selatan.

“Bagi Kim Jong-un, itu adalah tindakan untuk memuaskan pemimpin tertinggi (ayahnya),” katanya dikutip pada Rabu 13 Oktober 2021.

“Sebuah ‘Pasukan Teror’ dibentuk untuk membunuh Hwang Jang-yop secara rahasia. Saya secara pribadi mengarahkan dan melaksanakan pekerjaan itu,” sambungnya seperti dikutip dari media yang berbasis di Inggris tersebut.

Nasib Pejabat Korut

Data yang dihimpun menyebutkan, Hwang Jang-yop pernah menjadi salah satu pejabat paling berkuasa di negara itu. Dia telah menjadi arsitek utama kebijakan Korut.

Pembelotannya ke Korsel pada tahun 1997 tidak pernah dimaafkan. Begitu berada di Seoul, dia sangat kritis terhadap rezim Pyongyang, dan keluarga Kim ingin membalas dendam. Namun upaya pembunuhan itu gagal.

Baca Juga: Kopi dari Hati, Bisnis Iseng Warga Depok yang Ternyata Menjanjikan

Terkait hal itu, dua panglima militer Korut masih menjalani hukuman penjara 10 tahun di Seoul atas rencana tersebut. Pyongyang selalu membantah terlibat dan mengklaim Korsel telah melakukan upaya tersebut. Tapi kesaksian dari Kim Kuk-song ini membuktikan sebaliknya.

“Di Korea Utara, terorisme adalah alat politik yang melindungi martabat tertinggi Kim Jong-il dan Kim Jong-un,” ujarnya.

“Itu adalah hadiah untuk menunjukkan kesetiaan penerus kepada pemimpin besarnya,” timpalnya lagi. (rul/*)