Korban Piutang, Waluyo Terancam Kehilangan Rumah

Kota Depok salah satu daerah yang akan melaksanakan Pilkada 2020.(istimewa)

DEPOK – Sejumlah hakim melakukan pemeriksaan pada objek perkara tanah berikut rumah yang bersengketa di Pengadilan Negeri Depok. Lokasi perkara berada di kawasan Beji.

Rumah itu di tempati Waluyo, (53 tahun), yang tengah berkasus dengan Lalu Nurmala. Kuasa Hukum Waluyo, Erizal mengungkapkan, jika kasus ini merupakan masalah utang piutang antara almarhum Eni Kartini yang merupakan pemilik rumah lama dengan Lalu Kurmala. Sedangkan Waluyo tidak mengetahui adanya sengketa tanah tersebut ketika membeli tanah dari Eni Kartini.

Kasus ini bermula ketika Eni kedatangan tamu tiga orang pria dan satu wanita (Nurmala). Mereka bermaksud menawarkan pinjaman. Kebetulan saat itu suami Eni lagi sakit keras. Alhasil tawaran itu disambut baik.

Eni mengajukan pinjaman Rp 250 juta tapi hanya diberikan Rp 130 juta, sisanya menjadi bunga. Dana itu cair dengan jaminan sertifikat tanah asli atas nama bapak Jajudi yang luasnya 250 meter.

Untuk utang pinjaman tadi, Eni kemudian disuruh tanda tangan di kertas kosong yang sudah ada materainya. Kemudian ananknya Eni, Anita, juga tanda tangan dan sedangkan Jajudi cap jempol.
“Waktu itu dijanjikan karena akan dibuatkan perjanjian utang piutang yang satu Minggu akan dibuatkan. Kemudian satu dua tiga Minggu sampai berbulan-bulan tidak datang lagi si Nurmala (rentenir),” kata Erizal dilokasi sengketa pada Jumat 20 Maret 2020
       Karena khawatir, Eni akhirnya mencari pembeli dengan syarat yang tidak sulit dengan uang muka awal Rp 335 juta  “Akhirnya ketemu pak Waluyo muncul uang  itu untuk menebus sertifikat tanah di Nurmala sebesar Rp 250 juta dan sisanya untuk berobat bapak Jajudi yang waktu itu memang sakit parah,” jelas Erizal
“Waktu pas udah dapat duit itu karena ibu Eni nyari Nurmala tidak ketemu dia pake jasa ketiga, Yohana dan Elvis. Dia berangkat pak Waluyo ada ibu Eni ada. Kemudian si Nurmala ini tidak mau ditebus Rp 250 juta, mintanya Rp 385 juta.”
November 2013, sertifikat pun gagal untuk ditebus karena janjinya Rp 250 juta ternyata diminta Rp 385 juta.
“Pak waluyo tetap bayar cicilan sampai Maret 2014 kekumpul Rp 610 juta waktu itu ibu Eni kembali minta bantuan Yohan dan Elvis untuk menebus dengan Rp 385 juta kemudian udah enggak bisa, naik gagal lagi jadi Rp 495 juta,” ujar Erizal
Karena merasa tidak enak, Eni pun akhirnya mempersilahkan Waluyo dan keluarga untuk menempati rumah tersebut. Pada 2016, suami Eni, Jajudi meninggal.
“Enam bulan kemudian Nurmala datang ke rumah Waluyo mengatakan rumah itu sudah menjadi miliknya. Dia datang kesini marah-marah, bilang ngapain tinggal disini.”
Waluyo bersikeras mengaku ini rumahnya meski belum lunas. Itu muncul juga di gugatan 136 yang memenangkan Nurmala di pengadilan. 136 itu yang menjadi proses eksekusi disini karena di Banding dan kasasi Nurmala menang. Dia mengajukan gugatan Juli 2015 dan putus Agutus 2016 Nurmala menang. Yang menjadi tergugat Eni Jajudi, Anita, Wulan, BPN dan Waluyo.
“Intinya orang-orang ini sudah tidak tinggal disitu. Sementara yang tau kronologi tanda tangan itu hanya Anita anak almarhum Jajudi. Sementara Waluyo tidak paham apa apa kronologi tanda tangan itu,” kata Erizal
Kemudian Putusan 136 itu putusan 9 Agustus 2016 dan dilakukan banding kemudian putus dikalahkan lagi kasasi dikalahkan lagi. Kemudian ada Permohonan eksekusi dari Nurmala ke PN Depok yang meminta supaya pihak tergugat yang dikalahkan keluar dan menyerahkan ke Nurmala.
“Itu kan suratnya 14 Oktober 2019 pemberitahuan suka rela jangka waktunya 8 hari. Kalau enggak keluar secara suka rela akan dilakukan pengosongan secara paksa.”
Kemudian 29 Oktober tim kuasa hukum mengajukan gugatan perlawanan. “Kita bilang bahwa kita mewakili ahli waris sebenarnya ibu Eni dan almarhum Jajudi. Ada lagi tiga anaknya yang sudah berumah tangga.”

Lebih lanjut Erizal mengatakan, walau kasus sebelumnya antara Eni dan Nurmala sudah inkrah, Waluyo tetap bertahan karena dia merasa rumah itu miliknya. Sampai akhirnya Nurmala meminta PN Depok untuk mengeksekusi rumah tersebut.

Total, Waluyo sudah mengeluarkan uang sebesar Rp600 juta dan uang tersebut juga sudah dibayarkan sebagai biaya pembayaran utang oleh Eni ke Nurmala. Dan menurut informasi utang Eni juga sudah lunas dengan uang tersebut.

“Kita pelajari bahwa dasarnya PN Depok nomor 136 yang putusnya 9 Agustus 2016 dijelaskan bahwa supaya para pihak yang terjadi tergugat melaksanakan isi putsuan untuk mengosongkan rumah ini kepada yang mengajukan permohonan Nurmala (rentenir),” ucap dia.

Menurutnya, hakim selama ini lalai dalam kasus ini, sebab, Anita yang merupakan anaka Eni sebagai ahli waris dan mewakili atas kuasa bapak dan ibu tidak pernah menjual dan Anita tidak pernah pergi ke notaris.

“Jadi sebenarnya kalau akta jual beli itu dianggap sebagai dasar seharusnya tidak berhenti di akta pengikatan kuasa tapi harus surat persetujuan dan kuasa dari bapak ibunya yang disitu Anita bukan pemiliik yang baru dari aset harta peninggalan bapak ibunya.” (rul/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here