Korban First Travel Merasa Dirampok Negara

Korban First Travel (Istimewa)

SUKMAJAYA– Sejumlah korban penipuan umrah First Travel mengaku kecewa dengan putusan Pengadilan Negeri Depok yang menyatakan aset yang disita atas kasus itu dinyatakan dirampas untuk negara.

“Enggak ikhlaslah, kok bisa begitu sih berarti negara ngerampok dong. Jujur saya belum tahu putusan itu,” kata Sukardi salah satu korban kasus itu, Jumat 15 November 2019

Dirinya menyatakan, ia dan istri masing-masing telah keluar uang Rp 15 juta untuk bisa berangkat umrah pada empat tahun yang lalu. Kini setelah melalui proses hukum yang berliku, Sukardi dan istrinya kembali dipaksa menelan kenyataan pahit bahwa uang mereka diperkirakan tidak akan kembali. Terkait hal itu, Sukardi pun mengaku bingung harus menempuh cara apa lagi agar bisa mendapatkan haknya kembali.

“Saya enggak ngerti jalurnya gimana, ya enggak ngerti ajalah,” ujarnya

Lebih lanjut Sukardi pun mengaku tidak ikhlas dengan keputusan tersebut. “Saya enggak ikhlas, kecuali kita tahu uang yang dirampas negara itu buat bangun masjid, tapi kalau dihilangin gitu aja enggak ikhlas.”

Tak jauh berbeda dengan Sukardi, korban lainnya, Qomar mengatakan, keputusan tersebut sangat tidak adil.

“Itukan duit rakyat, negara kan enggak ada yang dirugikan, kok malah dikembalikan ke negara, harusnya ke jemaah dong yang jadi korban,” katanya

Qomar mengaku, dirinya mengalami kerugian hingga Rp 406 juta akibat ulah tiga bos Firts Travel itu. “Saya satu keluarga, jumlahnya 26 orang, ya rugi besar, Rp 406 juta,” ujarnya

Ketika ditanya apakah akan menempuh upaya lain terkait kasus itu, Qomar pun seakan putus asa.

“Ya kalau kita sih sudah lelah. Ya sudah lelahlah pak, sudah capek dengan kondisi seperti ini. Pemerintah sudah enggak ada pedulinya terhadap jamaah (korban). Ya mereka mengaggapnya itu kesalahan jemaah,” katanya

Lebih lanjut Qomar mempertanyakan, jika uang itu disita oleh negara maka akan digunakan untuk apa dan oleh siapa.

“Ya kalau uangnya disita negara emang itu uang siapa. Itu kan (uang) kita cari dengan susah payah, kok malah disita negara. Itukan uang jemaah,” tuturnya

Namun jika uang atau aset tersebut digunakan untuk kepentingan umum, Qomar mengaku pasrah.

“Tergantung niatnya apa, dari pada diambil negara kalau pun ga dikembalikan ke jamaah lebih baik bangun fasilitas umum. Mau dibangun masjid kek, atau apa kek. Ikhlas si ikhlas tapi kalau dijadikan sesuatu yang bermanfaat. Kita enggak ikhlas kalau diambil buat negara, kecuali dibngun masjid,” katanya

“Kalau buat bangun masjid orang mungkin akan berubah, ya mungkin ada pahalanya. Kalau dibagikan mungkin engga seberapa,” timpalnya lagi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here