Komentari Hubungan Indonesia dan China, Gatot Nurmantyo: Cengli

Kerjasama Indonesia-China (Istimewa)
Kerjasama Indonesia-China (Istimewa)

DepokToday- Mantan Panglima TNI Jenderal (purnawirawan), Gatot Nurmantyo menegaskan, sah-sah saja jika Indonesia menjalin kerja sama dengan negara lain, termasuk China atau Amerika Serikat. Sebab itu merupakan bagian dari diplomasi internasional.

Namun demikian, dia menggarisbawahi kelakuan China dalam ekonomi.

Gatot Nurmantyo mengatakan, China dan Amerika Serikat memang menjadi dua kekuatan besar dunia saat ini.

Makanya wajar saja banyak negara berupaya menjalin kerja sama dengan kedua negara tersebut.

Dilansir dari Hops.id jaringan DepokToday.com, Gatot Nurmantyo mengulas tabiat China dalam kerja sama ekonomi, meskipun kolaborasi dalam bidang tersebut kedua belah pihak berupaya untuk sama-sama cari untung.

“Kita kerja sama dengan China sah-sah saja, tapi namanya kerja sama ekonomi itu win-win, sama sama untung. Bahasa China ya itu cengli, itu wajar terus saja,” katanya  dalam wawancara dengan FNN TV dikutip pada Kamis 11 Agustus 2021.

Mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo (Foto: Istimewa)
Mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo (Foto: Istimewa)

Menurut Gatot, kerja sama ekonomi dan dagang Indonesia dengan China ada konsekuensinya. Amerika Serikat akan berupaya untuk menarik Indonesia supaya nggak main terlalu jauh dengan China.

“Kalau orang AS, kenapa elo kerja sama dengan China? elo rugi terus, nggak ada untungnya! Saya nggak tahu (detail analisisnya) karena saya bukan ekonom. Lho nanti kalau nanti rugi (kerja sama dengan China) bagaimana? diplomasi gitu-gitu saja, jadi memang lebih tahu lah,” ujarnya.

Indonesia Jadi Medan Perang China dan AS, Begini Kata Gatot Nurmantyo

Gatot menjawab soal adanya kekhawatiran Indonesia akan jadi medan pertempuran sungguhan antara China dan Amerika Serikat.

Menurutnya kalau bakalan terjadi perang fisik sih nggak mungkin, sekarang eranya perang menekan ekonomi atau politik bukan perang fisik.

“Dengan adanya kerja sama ekonomi, angkatan bersenjata kita latihan bersama dengan tentara AS, dan kita dengan negara tetangga diplomasi kita baik, alasan apa Indonesia jadi wilayah pertempuran? karena tak ada yang diperebutkan China dan AS (dari Indonesia).”

Baca Juga: Ucok Baba Dan Pemalak Saling Berdamai, Kasus Tidak Lanjut

Sekarang ini, lanjut Gatot, memang Indonesia dilirik karena kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah. Namun zaman kini tak ada lagi negara yang mau ngoyo perang fisik tapi lebih memainkan perang proxy.

Artinya perang dengan memainkan tekanan melalui sekutu-sekutunya.

“Kalau sebagai lahan pertempuran, tetap di Laut China Selatan. China klaim Laut China Selatan itu wilayahnya berdasarkan sejarah, tapi kan negara lain mengakui Laut China Selatan berdasarkan UNCLOS 82, jadi ya itu laut internasional,” tuturnya. (rul/*)