Komentar Menohok Pengamat UI Soal Glorifikasi Saipul Jamil

Penyambutan Saiful Jamil (Foto: Istimewa)
Penyambutan Saiful Jamil (Foto: Istimewa)

DepokToday- Pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati turut mengapresiasi sikap kritis masyarakat atas aksi penyambutan Jamiluddin Purwanto alias Saipul Jamil belum lama ini.

Menurut Devie, hal itu menunjukan bahwa tingkat kesadaran masyrakat Indonesia atas praktik-praktik yang dianggap bertentangan dengan norma kesusilaan telah semakin tinggi. Khususnya tentang isu-isu pelecehan dan kejahatan terhadap anak.

“Ini terlihat dari kegelisahan warga terhadap media TV yang kemudian menampilkan glorifikasi Saipul Jamil. Nah ini perlu dimaknai bahwa masyarakat sudah sangat baik pemahamannya tentang perlindungan anak,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima awak media pada Jumat 10 September 2021.

Baca Juga: Viral, Video Diduga ASN di Bojongsari Asik Joget Banjir Hujatan, Warganet: Kek Orang Kesurupan

Lebih lanjut pengamat UI itu menilai, berbagai program literasi etika dan budaya di era digital beberapa saat ini seperti yang dilakukan oleh siberkreasi misalnya, telah menuai hasil.

Ia menyebut, kesadaran tinggi warga bahwa media menjadi ruang informasi yang diharapkan mampu memberikan inspirasi, edukasi dan absorsi etika, budaya dan moral, menjadi sesuatu yang penting diapreasiasi.

Pengamat sosial UI, Devie Rahmawati (DepokToday.com)
Pengamat sosial UI, Devie Rahmawati (DepokToday.com)

Baca Juga: FPI Baru Resmi Terbentuk, Pimpinannya Orang Dekat Habib Rizieq

Sebab, sejak pandemi 2020 lalu, banyak anak-anak terkondisikan untuk mengkonsumsi media online, yang justru berpeluang mengganggu pikiran, perasaan dan mental anak, karena konten tayangannya yang sulit dikontrol.

“Bahkan jauh sebelum pandemi saja (2017), data menunjukkan 90 persen anak usia 11 tahun sudah terpapar pornografi. Belum lagi tayangan kekerasan serta berbagai tayangan yang tidak pantas untuk anak,” jelasnya.

Pesan Menohok Pengamat UI

Mantan Humas UI itu juga mengatakan, televisi sebenarnya mampu berperan menjadi oase bagi hadirnya menu-menu sehat untuk anak.

“Karena televisi memiliki ekosistem pengawasan, kurasi berjenjang serta aturan yang mengikat,” ujarnya.

Baca Juga: Detik-detik Pabrik Karung Terbakar, Begini Kondisi Pekerja di Dalamnya

Devie menambahkan, pada televisi dan media mainstream, masyarakat menitipkan cita dan cinta untuk tumbuh sehatnya peradaban bangsa ini.

“Mari imbangi tsunami informasi yang tidak sehat di ruang digital, dengan tayangan televisi yang bermanfaat, bermartabat dan beradab,” katanya. (rul/*)