Kisruh Uang Study Tour Sekolah Bintara, Orangtua Murid Lapor Polisi

Sejumlah orangtua siswa Yayasan Pendidikan Bintara Depok (Istimewa)

MARGONDA- Persoalan uang study tour yang terjadi di Yayasan Pendidikan Bina Taruna Bangsa atau Bintara Depok, mulai berbuntut panjang. Sejumlah orangtua siswa yang menuntut kejelasan dana tersebut akhirnya melaporkan kasus ini ke polisi.

Tak hanya itu saja, perwakilan orangtua murid juga mengakui adanya dugaan intimidasi oleh pihak sekolah.

“Ini ada intimidasi kepada siswa, dialami oleh anak saya, pada hari kedua anak saya tidak bisa login untuk mengikuti pra ujian sekolah. Itu dari mata pelajaran pertama sampai mata pelajaran kedua,” kata Eva saat ditemui di Polres Metro Depok pada Rabu 24 Maret 2021

Atas dasar itulah, Eva dan sejumlah orangtua siswa lainnya terpaksa menggugat kasus ini ke ranah hukum didampingi pengacara. Pemicu awalnya adalah soal transparansi uang study tour.

Sebab, rencana kegiatan yang tadinya berlangsung di Bali pada 2020 lalu dibatalkan, namun uang yang telah disetor tak jelas kelanjutannya.

Tak jauh berbeda dengan Eva, orangtua siswa lainnya, Aulia, mengaku, pihaknya terpaksa menunjuk pengacara untuk persoalan ini agar jelas.

“Saya di sini sebagai orangtua wali murid dari SMA sudah menunjuk kuasa hukum pengacara saya, Pak Herman, mewakili kami mencari penyelesaian permasalahan dana study tour anak-anak yang sudah kami bayarkan.”

Ia juga menegaskan, bahwa ada dugaan bentuk intimidasi terhadap murid terkait persoalan tersebut.

“Memang ada, bahwa dari pihak yayasan mengatakan bahwa kalau anak-anak tidak melunasi SPP-nya sampai Mei, maka anak-anak itu terkendala. Kami ada bukti WA-nya.”

Oknum dari pihak sekolah, masih kata Aulia, mengancam jika anak-anak tidak membayar SPP sampai dengan Mei, maka ujiannya akan terkendala.

“Padahal kita sudah bayarkan sampai Maret, dimana ujian tersebut dilaksanakan pada bulan Maret, tapi dari pihak sekolah mengharuskan kami untuk membayar sampai bulan Mei,” keluhnya

Kemudian, ia juga mempersoalkan surat keputusan dari pihak sekolah, yang terkesan sepihak. Adapun biaya study tour Rp 3.950.000, sedangkan yang dikembalikan kurang dari setengahnya, dan itupun dialokasikan untuk iuran SPP bulanan.

“Ada surat edaran yang mengharuskan kami menyetujui agar dana study tour Rp 1.325.000 dialokasikan untuk SPP sampai Mei dan itu pun ditambahkan lagi Rp 25 ribu untuk Juni.”

Aulia menegaskan, dalam kasus ini pihaknya hanya ingin ada kejelasan tranparansi anggaran.

“Jadi kami disini sih sebenarnya ingin transparansi dari pihak terkait mempertanyakan ke mana dana study tour yang sudah kami bayarkan, dan kami percayakan kepada pihak sekolah, dan memang karena selama ini komunikasi dari pihak sekolah tidak pernah mau memberikan perincian ke mana dana itu dialihkan, dan itu dipakai untuk apa,” ujarnya

Jawaban Bintara

Diberitakan sebelumnya, pihak sekolah membantah adanya tuduhan tersebut.

“Tidak ada intimidasi kepada siswa. Terbukti ujian dapat berjalan, dengan diikuti oleh semua siswa SMP dan SMA Bintara,” kata Kepala Bagian Humas Yayasan Pendidikan Bintara, Ervan D Pribadi dalam keterangan resminya yang diterima pada Senin 22 Maret 2021.

Kemudian, ia juga menampik jika pihak yayasan tidak melakukan komunikasi dengan orang tua siswa peserta study tour.

“Terbukti dengan adanya undangan dan daftar hadir orang tua siswa. Tidak ada penggelapan dana study tour Maret 2020 tahun lalu seperti yang dituduhkan,” katanya

Ervan justru menduga ada oknum dari luar sekolah yang mencoba mencemarkan nama baik Sekolah Bintara yang telah berdiri selama 37 tahun, dan patut diduga ingin melakukan pemerasan.

“Saat ini kami berkonsentrasi penuh memastikan pelayanan pendidikan kepada siswa tetap dilaksanakan dengan baik sebagaimana biasa. Kami sudah menunjuk kuasa hukum yang secara resmi menangani proses selanjutnya.” (rul/*)

Baca Juga: Gagal ke Bali, Yayasan Bintara Dituntut Kembalikan Uang Study Tour

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here