Kisah Tragis Masinis Kereta di Balik Tragedi Bintaro 1987

Kecelakaan kereta di Bintaro 1987. (Foto: Istimewa)
Kecelakaan kereta di Bintaro 1987. (Foto: Istimewa)

DepokToday- Tragedi kecelakaan kereta api di Bintaro 1987 hingga kini masih menyisakan kenangan mendalam bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Peristiwa itu merenggut 156 nyawa dan ratusan orang lainnya mengalami luka-luka.

Tragedi itu merupakan kecelakaan kereta api maut dan terburuk dalam sejarah perkereta apian di Indonesia.

Dilansir dari Hops.id jaringan DepokToday.com, awalnya peristiwa ini bermula dari kesalahpahaman kepala stasiun Serpong yang memberangkatkan KA 225 dengan tujuan Jakarta Kota.

Akhirnya, tiga jalur kereta yang berada di stasiun Sudimara penuh akibat kedatangan KA 225.

Namun, disisi lain, KA 220 yang berada di stasiun Kebayoran juga diberangkatkan tanpa adanya komunikasi yang baik dengan stasiun Sudimara.

Akan tetapi, kereta ini berada di jalur sebaliknya yang mengarah ke Sudimara. Kondisi ini memaksa juru langsir di Sudimara harus segera memindahkan lokomotif KA 225 menuju jalur 3.

Sementara, masinis tidak dapat melihat semboyan dari juru langsir karena sedang ramainya jalur kereta.

Hingga pada akhirnya KA 225 yang membawa 7 gerbong saling bertubrukan dengan KA 220 di Desa Pondok Betung pukul 06.45 WIB.

Berdasarkan peristiwa kecelakaan ini, masinis KA 225 Slamet Suradio disalahkan karena dianggap lalai hingga menjatuhkan banyak korban jiwa atas tragedi kecelakaan kereta api di Bintaro.

Masinis KA 225 Saksi Hidup Tragedi Kereta Bintaro

Slamet merupakan pria kelahiran tahun 1939, yang mendapatkan hukuman 5 tahun penjara di Lapas Cipinang dan bebas pada tahun 1993. Namun, setelah menjalani hukuman dan dinyatakan bebas, kehidupan Slamet tidaklah mudah.

Tahun 1994 ia dipecat dari jabatannya sebagai masinis. Bahkan Nomor Induk Pegawai Perkereta apiannya dicabut pada 1996 oleh Departemen Perhubungan Indonesia.

Slamet juga dipaksa untuk menandatangani surat pengakuan bahwa ia tetap menjalankan kereta tanpa intruksi dari PPKA.

Ia menolak ajuan yang terus menghampirinya, namun Slamet justru mendapatkan ancaman dari pihak kepolisian.

Baca Juga: Rumah Mewah Albertus van Der Parra, Jejak Gubernur VOC di Tanah Depok

Dilansir dari akun YouTube Kisah Tanah Jawa, Slamet menegaskan bahwa ia mengatakan berangkat sendiri itu bohong.

“Jadi kalau ada orang mengatakan berangkat sendiri itu bohong, apa untungnya saya memberangkatkan kereta sendiri,” ujar Slamet.

Setelah menunggu beberapa saat, Slamet akhirnya memberangkatkan kereta sesuai instruksi.  Saat perjalanan, Slamet tidak merasa khawatir karena tidak menerima sinyal apapun.

Tidak disangka, alangkah terkejutnya dari arah berlawanan tampak KA 220 dari stasiun Kebayoran. Hal ini  membuat Slamet tanpa berpikir panjang langsung menarik rem bahaya.

“Saya terus narik rem bahaya, ternyata gagal, tidak bisa berhenti, tetep terjadi tabrakan,” katanya.

Slamet juga tidak mendapatkan uang pensiun. Untuk menyambung hidupnya, ia kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan berjualan rokok di dekat stasiun Kutuarjo.

Akhir Tragis Cinta Slamet

Tidak hanya kehilangan pekerjaan, sang istri juga memutuskan untuk meninggalkannya meskipun proses persidangan masih berjalan. Sebuah artikel yang berjudul “Kasni Mencoba Setia” yang tayang di Tabloid Nova bulan April 1988, terungkap bahwa istri Slamet sudah memikirkan untuk berpisah.

Slamet (Foto: Istimewa)
Slamet (Foto: Istimewa)

Artikel tersebut menyebutkan bahwa hampir dua bulan Slamet berada di Lapas Cipinang, Kasni tidak pernah lupa untuk membawakan makanan. Slamet juga tidak pernah meminta untuk dibawakan sesuatu.

Slamet hanya meminta dibawakan sepatu untuk dipakai saat persidangan, karena sepatu itu adalah sepatu satu-satunya yang ia miliki.

Saat itu, Kasni tidak bisa memenuhi permintaan Slamet. Tetapi, keesokan harinya ketika Slamet dipersidangan untuk pertama kalinya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kasni membawakan sepatu yang diinginkan Slamet.

Sejak Slamet tidak bisa bekerja lagi dan terus berada di bawah pengawasan pihak berwajib, Kasni mengaku terpaksa mencari penghasilan tambahan.

Baca Juga: Pak Dal, Sosok Bersahaja di Balik Lagu Bintang Kecil

Slamet dan Kasni memiliki 7 orang anak, meskipun ada yang bukan anak kandung Kasni.

Kasni juga mengakui bahwa saat ia hanya menerima separoh dari gaji yang diterima suaminya, jelas tidak cukup untuk membiayai ketujuh anaknya.

Akhirnya, Kasni menikah lagi dengan seorang masinis dan Slamet mencoba untuk mengikhlaskannya. (rul/*)