Kisah Tole Iskandar, Pemuda Depok yang Bikin Repot Serdadu Belanda

Nama Tole Iskandar diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Depok (DepokToday.com)
Nama Tole Iskandar diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Depok (DepokToday.com)

DepokToday- Sama seperti di sejumlah daerah lainnya, Kota Depok pun tak lepas dari penjajahan kolonial Belanda. Banyak kisah-kisah pejuang yang lahir dari kota penyanggah Jakarta ini. Salah satunya adalah Tole Iskandar.

Untuk menghormati jasa besarnya, pemerintah kemudian mengabadikan nama Tole Iskandar sebagai nama salah satu jalan di Kota Depok. Lantas seperti apakah kiprah Tole Iskandar kala itu.

Data yang dihimpun menyebutkan, Tole Iskandar ternyata berlatar belakang darah biru alias bangsawan. Ia lahir di salah satu wilayah di kota ini.

Sulung dari tujuh bersaudara pasangan Raden Samidi Darmorahardjo dan Sukati binti Raden Setjodiwiryo itu mengawali karir militernya sejak usia belasan tahun.

Arifin Darmo Wahyu, keponakan Tole. (DepokToday.com)
Arifin Darmo Wahyu, keponakan Tole. (DepokToday.com)

Sang ayah, yang menjabat sebagai menteri perairan pada zaman kolonial Belanda tadinya tidak tahu jika putra kesayangannya itu bakal menjadi salah satu pejuang kemerdekaan.

“Saat itu keluarga atau orangtuanya tidak ada yang tahu.  Dia (Tole) balik-balik sudah jadi tentara, pakai samurai panjang,” kata Arifin Darmo Wahyu, keponakan Tole saat ditemui di kediamannya di wilayah Ratu Jaya, Depok, dikutip pada Selasa 3 Agustus 2021.

Jejak Militer

Usut punya usut, Tole ternyata juga pernah mengenyam pendidikan militer bersama tentara Jepang. Karena prihatin dengan kondisi negaranya, ia kemudian menggalang kekuatan untuk melawan Belanda dan mendapat dukungan dari keluarga.

Kala itu, pasukannya hanya berjumlah 21 orang atau yang dikenal dengan sebutan Kelompok 21. Meski usianya masih terbilang muda, namun sepak terjang Tole ternyata cukup disegani lawan maupun kawan.

“Anak buahnya respek sama beliau. Kalau jadi seorang pemimpin harus berani dan jujur, itu jadi patokan kita.”

Tole Iskandar Tembak Jatuh Pesawat NICA

Beberapa kisah yang menggambarkan keberaniannya menyebut, Tole pernah menembak pesawat NICA sekutu Belanda hingga jatuh. Pertempuran yang dilakukannya pun kerap membuat musuh kewalahan. Itu terjadi di Depok, Bogor hingga Sukabumi.

Namun karena jumlah pasukan dan senjata yang terbatas, Tole dan para prajuritnya pun berhasil dipukul mundur hingga ke wilayah Cikasintu, Sukabumi, Jawa Barat, bersama Batalion 8 pada 1947.

Baca Juga: Kodim dan KCD Inisiasi Vaksinasi ke Sekolah, Targetnya Segini Banyak

Kala itu, Tole memerintahkan pasukannya untuk mudur dan ia nekat ingin menyergap musuh bersama seekor anjing kesayangannya dengan bersembunyi di sebuah lubang. Di tempat itulah, pekik teriakan Tole yang terakhir sebelum akhirnya dihujani peluru lawan.

“Saat itu om saya ngumpet di parit, tadinya mau nyerang dari lubang itu, tapi ternyata musuh belum datang anjingnya sudah lompat duluan. Ya matilah dibredel disitu,” kata Arifin mengenang kisah yang diceritakan sang ibu dan koran-koran lawas yang dibacanya.

Baca Juga: Kisah Haru Apriyani Rahayu, Pebulutangkis Indonesia yang Raih Medali Emas di Olimpiade Tokyo

Menurut keterangan Arifin, Tole meregang nyawa dengan cara tragis itu pada usia sekira 25 tahun dan belum menikah. Pangkat terakhirnya adalah Letnan Dua. Kini makam Tole Iskandar berada di Taman Makam Pahlawan Dreded, Kota Bogor, setelah dipindahkan dari Sukabumi.

“Om saya (Tole) meninggal saat masih sangat muda. Ia belum menikah. Kami keluarga besar tentu sangat bangga dengan perjuangannya.”

Begitu hebatnya perjuangan Tole Iskandar, hingga ketika ia gugur merupakan pukulan berat bagi rekan-rekannya yang bertahun-tahun berjuang bersama. (rul/*)