Kisah Tiga Srikandi ITB yang Jadi Rebutan Dunia Industri, Awalnya Stres

Tiga alumni ITB yang kini sukses di dunia industri (Foto: Istimewa)
Tiga alumni ITB yang kini sukses di dunia industri (Foto: Istimewa)

DepokToday- Institut Teknologi Bandung atau yang dikenal dengan sebutan ITB adalah salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia yang memiliki segudang prestasi membanggakan. Maka tak heran, jika kampus tersebut cukup tersohor di lingkup nasional, maupun skala internasional.

Selain karena sederet prestasi yang dimiliki, banyak pula jebolan dari universitas itu yang kini menjadi orang suskes. Seperti Raden Irfani Hasya Fulki, Shahnaz Adiibah dan Githa Putri Rizkiani.

Ketiganya adalah alumni ITB angkatan 2017, jebolan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan.

Baca Juga: Heboh Pengamen Depok Bersuara Mirip Charly ST12, Nih Videonya

Semasa kuliah, mereka turut andil dalam mengharumkan nama ITB. Di antaranya, berhasil meraih Juara 1 dalam SPEEDFEST 2020 SPE UPN “Veteran”​ Yogyakarta Student Chapter.

Kemudian Juara 2 Petrolida 2020 Society of Petroleum Engineers Institut Teknologi Sepuluh Nopember Student Chapter, dan Juara 1 APECX 2020 SPE Universitas Gadjah Mada Student Chapter.

Maka tak heran, ketika lulus mereka pun langsung mendapat pekerjaan yang cukup mentereng. Githa saat ini sedang bekerja sebagai field engineer trainee, Shahnaz sebagai reservoir engineer trainee dan Fani yang bekerja di Fintech.

Baca Juga: Artis Raffi Ahmad Belum Bayar Pajak 4 Rumah di Andara

Melansir Hops.id jaringan DepokToday.com, ketika mengetahui mendapatkan penghargaan tersebut, mereka merasa sangat senang.

Githa dan keduanya rekannya bahkan mengaku tak menyangka akan mendapat apresiasi yang cukup besar dari ITB.

Menurutnya, kunci dari keberhasilan itu adalah proses perkembangan diri mereka yang baik sehingga dapat memiliki etos kerja yang baik dengan terus berlatih dengan konsisten.

Dari situlah akan tercipta work ethics yang baik dan membentuk dream team yang cocok agar seluruh anggota dapat berkembang. Motivasi tinggi yang dimiliki team ini membuat mereka terus berprestasi.

Baca Juga: Terpopuler DepokToday, 9 November 2021: OPM Ngadu ke PBB, Cara Cepat Bikin Perut Rata

Awal menjadi mahasiswa baru, Githa berpikir apa yang bisa ia lakukan agar berbeda sebagai mahasiswa ITB.

Pada akhirnya Githa mengikuti organisasi dan perlombaan untuk menantang dirinya sendiri. Sedangkan Shahnaz percaya, bahwa ia selalu lebih baik dari apa yang dia pikirkan.

Sementara, motivasi Fani mengikuti banyak perlombaan bertujuan untuk mengembangkan dirinya sekaligus menunjang pengetahuan akademiknya.

Jejak Prestasi Tiga Alumni ITB

Mereka memulai mengikuti perlombaan pada semester 5. Sebelumnya, mereka sudah sering belajar bersama dan ketika mendengar kabar akan diadakannya lomba, akhirnya mereka memutuskan ikut lomba pada Desember 2019.

Sejak dari itu, mereka sering ikut perlombaan. Walaupun sempat struggling ketika mengikuti lomba Petrolida karena masih semester 5, dan saat itu banyak mata kuliah yang belum diambil untuk menunjang lomba mereka.

Akhirnya, mereka belajar sungguh-sungguh sampai akhirnya menemukan mentor.

Baca Juga: Pisang, Bawang, dan Madu Dicampur, Zaidul Akbar: Khasiatnya Luar Biasa

Tantangan terbesar menurut mereka adalah harus mempelajari hal – hal baru yang belum pernah dipelajari.

Pada dasarnya perlombaan itu harus siap menang dan kalah. Dari pengalaman team ini, mereka pernah mengikuti kompetisi Internasional (Switch Energy Alliance).

Walaupun mereka sudah memperjuangkan semaksimalnya, tetapi mungkin itu belum jalan mereka untuk menang. Pastinya ada kecewa yang dirasakan.

Baca Juga: Paten! Rancangan Mobil Terbang FTUI Bikin Dunia Melongok

Tetapi dari hal tersebut, banyak pembelajaran yang bisa diambil. Hal yang bisa dipelajari menurut mereka adalah lebih sering konsultasi ke orang lain yang lebih berpengalaman, serta harus memastikan semua hal sedetail mungkin, karena saat itu mereka sedang chaos organisasi dan merasa terlalu percaya diri.

Bantuan dari mentor sangat membantu bagi mereka dalam perjalanan perjuangan ini. Jaringan alumni Perminyakan ITB yang sangat kuat dengan mahasiswa yang sedang berkuliah.

Oleh karena itu, mereka bisa menanyakan langsung ke alumni ataupun kating. Sebagai tambahannya, menurut mereka dosen ITB itu “One of the best in their fields”.

Baca Juga: Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Depok Hari Ini, Selasa 9 November 2021

Dibalik semua perjuangan ketiga Srikandi ITB itu, banyak orang yang tidak mengetahui bahwa mereka mempelajari case setiap hari, konsisten tiap malam selama setahun bertemu untuk persiapan lomba.

Orang di luar sana sering berpikir “Mereka udah pinter aja kali, atau mereka sudah sering lomba”. Padahal, mereka memulai perjuangan dari 0 dan mempelajari hal yang belum diketahui sebelumnya.

Sempat Dibikin Stres

Setiap orang pastinya pernah merasakan berada di titik terendah atau mempunyai masalah yang berbeda-beda dalam hidupnya. Sama dengan yang pernah dialami oleh mereka bertiga.

Githa pernah merasakan dimana saat semester 3 dan 4, ia baru memasuki jurusan, banyak pelajaran susah yang menurutnya ini tidak perlu dipelajari. Tetapi pada semester 5 dan 6 ia mulai mengikuti lomba-lomba dan akademiknya menjadi lebih terarah dan meningkatkan dari segi akademik.

Baca Juga: Ini Data Lokasi Banjir dan Longsor di Depok, Banyak yang Terdampak

Sementara Shahnaz, pada semester 4 merasakan kalau tidak ingin kuliah saja, karena faktor pelajaran yang susah dan diluar ekspektasi.

Menurutnya, tidak ada hubungannya dengan keilmuan teknik perminyakan. Tetapi dari situlah ia mencari jalan keluar dengan menanyakan ke kating untuk pelajaran yang akan dihadapinya.

Raden Irfani Hasya Fulki, Shahnaz Adiibah dan Githa Putri Rizkiani. (Foto: Istimewa)
Raden Irfani Hasya Fulki, Shahnaz Adiibah dan Githa Putri Rizkiani. (Foto: Istimewa)

Sedangkan bagi Fani, masa awal TPB merupakan masa yang sulit. Sering kali ia kesulitan dengan pelajaran yang susah sampai pernah keluar kelas untuk menelpon orang tuanya karena pelajarannya yang membuatnya stres.

Fani sempat meragukan diri sendiri. Tetapi, setelah menelpon ibunya, ia menjadi cukup lebih tenang.

Baca Juga: Gandeng Universitas di Korsel, UP: Jangan Jago Kandang

Rencana hidup Githa kedepannya adalah ingin berkarir dahulu untuk 2-3 tahun, juga ada keinginan untuk melanjutkan S2. Sedangkan Shahnaz ingin menempuh hidup di industri sebagai engineer dan berencana melanjutkan S2 juga.

Setelah itu, ia ingin berbisnis dari hobinya yaitu membuka toko kue. Sementara Fani ingin bertahan selama mungkin di field, baru pindah ke posisi yang lebih “santai”.

Fani memiliki rencana S2 juga dan ingin mengambil Petroleum engineering.

Pesan untuk massa kampus agar terus termotivasi dari Fani dan Githa adalah untuk mencoba dan memulai. “Kita tidak pernah tau bagaimana, bila tidak dicoba dahulu.”

Sementara Shahnaz berpegang pada prinsip “We are more than what we think”, jadi kalau kamu berpikir what you do now is good enough, kalian sebenarnya bisa lebih keren dari itu. (rul/*)