Kisah Tanaman Porang, Makanan Tentara Jepang Ketika Menjajah Indonesia

Tanaman porang (Foto: Istimewa)
Tanaman porang (Foto: Istimewa)

DepokToday- Porang adalah salah satu tanaman penghasil umbi yang memiliki nama latin Amorphophallus muelleri. Porang bisa jadi produk diet. Tanaman ini penampilannya mirip dengan suweg, maupun walur.

Dilansir dari goodnewsfromindonesia.id, meskipun mulai banyak budidaya, tetapi pengguna di dalam negeri masih terbilang sedikit.

Sebaliknya, ia jadi pangan favorit di Jepang saat diolah menjadi mie shirataki atau konyaku. Sejumlah pelaku industri makanan bahkan telah menggunakan porang sebagai bahan baku misalnya untuk pembuatan jeli.

Menukil Mongabay Indonesia, praktisi pangan lokal juga pendiri Pesantren Ekologi Ath-Tahaariq Garut, Nissa Wargadipura, menyebut porang ini tanaman yang tidak rewel dan termasuk salah satu umbi-umbian yang dimiliki Indonesia. Bahkan tanaman ini bisa hidup di bawah pohon.

“Ini sebenarnya salah satu jalan keluar jika tidak salah mengurus. Porang bisa ditanam masif. Indonesia kan punya lahan-lahan rusak. Untuk membangun pertanian salah satunya bisa porang,” katanya dikutip pada Rabu 4 Agustus 2021.

Olahan Makanan Berbahan Porang

Porang bisa diolah jadi beragam pangan, seperti mi kering sampai beras porang. Porang juga bisa untuk bahan komestik.

Selain itu, tanaman ini juga mengandung karbohidrat, kaya akan kalsium yang juga bagus untuk makanan bayi. Porang diklaim mampu menjadi makanan pengganti air susu ibu.

“Kandungan kalsium porang dapat mempercepat pertumbuhan gigi, menghaluskan kulit, dan menumbuhkan rambut. Juga untuk makanan orang tua atau orang dewasa yang mempunyai masalah di perencanaan atau orang sepuh,” ucapnya.

Tapi porang juga mengandung sianida tinggi alias beracun. Jadi ada cara kelola porang agar aman.

“Ambil umbinya, dibersihkan. Setelah itu diparut. Ambil patinya. Kemudian direndam air. Diganti 12 jam satu kali selama tiga hari. Harus tiga kali membuang air, tiga kali membuang racun. Setelah diendapkan di berkali-kali airnya dibuang, itu dikeringkan. Baru setelah itu bisa jadi tepung,” paparnya.

Peneliti Botani Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ina Erlinawati mengatakan, porang juga akrab disebut iles-iles–merupakan tumbuhan anggota marga Amorphophallus dari suku Aracea.

Di Indonesia, daerah penyebaran porang ada di Sulawesi, Jawa, Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Flores.

Porang tumbuh di antara semak belukar, pada area terganggu, pinggiran hutan, dan daerah pemukiman penduduk, pada ketinggian sekitar 0-900 mdpl.

Baca Juga: Rumah Mewah Albertus van Der Parra, Jejak Gubernur VOC di Tanah Depok

Tinggi tumbuhan porang dapat mencapai 180 cm. Berbeda dengan suweg dan bunga bangkai raksasa, pada percabangan tangkai daun porang mempunyai tonjolan berwarna cokelat kehitaman yang disebut bulbil.

“Warna umbi porang cokelat tua dan bagian dalam kuning atau jingga. Berbeda dengan suweg mempunyai umbi berwarna putih disertai semburat warna merah jambu atau ungu,” jelasnya.

Bunga porang, katanya, mempunyai tangkai sama panjang dengan tangkai daun, berukuran 30-60 cm.

Ciri khas bunga porang, memiliki seludang bunga memelintir, bagian dalam merah muda dengan bercak-bercak putih dan mengeluarkan bau busuk ketika mekar.

“Ini menarik lalat untuk membantu penyerbukan,” katanya.

Tanaman Porang Ditemukan Orang Jepang

Guru Besar sekaligus Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Edi Santosa mengatakan, bahwa sebenarnya tidak ada bukti sejarah yang pasti mengenai pemamfaatan tanaman porang oleh masyarakat Indonesia.

Beberapa referensi hanya menyebutkan porang pada awalnya merupakan tanaman hutan.

Diketahui, pemamfaatan porang sudah dimulai sejak masa penjajahan Jepang pada 1942.

Pasukan Infanteri Kostrad TNI. (Foto: Istimewa)
Pasukan Infanteri Kostrad TNI. (Foto: Istimewa)

Sebelumnya, Jepang telah membudidayakan jenis Amorphophallus lainnya, tepatnya A. konjac di negaranya. Saat menjajah Indonesia, Jepang menemukan porang (A. mulleri) di Indonesia.

Karena mirip dengan A. Konjac, Jepang memanfaatkan porang sebagai logistik pangan selama menduduki Indonesia.

Saat itu petani Indonesia belum tahu manfaat porang. Jepang memamfaatkan tanaman porang (A.mulleri) dan acung (walur atau A.Variabilis) ini untuk logistik perang, terutama untuk sumber makanan.

“Sayangnya, catatan sejarah kita terputus. Catatan yang ada itu masyarakat kita dulu sudah mengonsumsi porang, tetapi belum diketahui sejak kapannya,” ucapnya dikutip dari Kompas.

Baca Juga: Kisah Tole Iskandar, Pemuda Depok yang Bikin Repot Serdadu Belanda

Di Sulawesi Selatan sebagai daerah yang pernah diduduki tentara Jepang, tanaman ini juga menyebar secara luas.

Namun setelah kalah perang dan bala tentara Jepang pergi meninggalkan Indonesia, semenjak itu masyarakat tidak lagi memperdulikannya. Porang pun tumbuh di hutan-hutan sebagai tanaman liar.

Edi menjelaskan, tanaman porang baru mulai intensif dibudidayakan sejak tahun 1980-an.

Saat itu, Perhutani memperkenalkan porang ke Cepu untuk ditanam di bawah tegakan tanaman jati.

Pasalnya, tanaman ini dapat ditanam di mana saja. Asalkan tanahnya gembur, tidak terlampau basah, tidak terlalu kering, dan tidak terkontaminasi infeksi. (rul/*)