Kisah Raden Sungging, Ulama Sakti Depok yang Ditakuti Belanda

Ilustrasi seorang ulama (Foto: Istimewa)
Ilustrasi seorang ulama (Foto: Istimewa)

DepokToday– Sama seperti daerah lainnya, Kota Depok pun memiliki sederet kisah perjuangan pada zaman penjajahan Belanda. Beberapa di antaranya bahkan menjadi legenda warga sekitar. Salah satunya adalah sosok Raden Sungging.

Nama Raden Sungging cukup populer bagi sebagian besar warga Citayam, Depok. Bahkan, makamnya menjadi salah satu tempat yang dikeramatkan. Lalu siapakah sosok Raden Sungging itu?

Menurut keterangan warga setempat, Raden Sungging berasal dari Demak. Ia adalah salah seorang tokoh agama Islam dari Citayam, yang konon memiliki kesaktian.

Bahkan, menurut kepercayaan warga setempat, dengan ilmu kanuragannya itu Raden Sungging menjadi salah satu jawara yang ditakuti tentara Belanda.

Karena kebijakan, ketegasan dan kesaktiannya itu, oleh masyarakat setempat Raden Sungging akhirnya diangkat sebagai pemimpin untuk melindungi Citayam dari ancaman Belanda.

Ancaman itu berupa masuknya paham-paham barat yang bertentangan dengan adat istiadat timur, terutama agama Islam.

Kemarahan Raden Sungging di Depok

Pada awalnya, Raden Sungging membiarkan orang-orang Belanda berbuat semaunya, asal tidak mengganggu masyarakat dan melecehkan agama.

Namun, nyatanya, mereka mulai melanggar larangan tersebut, seperti mabuk-mabukan dan berjudi. Tak tinggal diam, Raden Sungging bersama masyarakat kemudian menemui orang Belanda agar mereka menghentikan kelakuannya.

Alih-alih ingin menegur, upaya yang ditempuh Raden Sungging justru mendapat tantangan. Ya, sejumlah serdadu Belanda mengajaknya untuk berperang.

Baca Juga: Akhir Tragis Tole Iskandar, Pahlawan Depok yang Dibantai di Parit

Menurut kisah turun temurun warga setempat, pihak Belanda memutuskan untuk bertempur di luar Depok, yaitu di kawasan Bekasi. Alasannya, untuk mencegah kerusakan di dalam kota. Dengan mantap, Raden Sungging pun menyanggupinya.

“Sebelum pertempuran dimulai, Raden Sungging gencar memberikan pesan-pesan yang mengajak masyarakat untuk bersatu melawan penjajah. Pesan inilah yang membuat masyarakat semakin bersemangat mengahadapi perang tersebut,” kata salah satu pengamat dan pemerhati sejarah Depok Diki Erwin.

Makam (Foto: Istimewa)
Makam (Foto: Istimewa)

Pada hari yang telah ditentukan, Raden Sungging beserta sejumlah masyarakat Citayam berangkat ke Bekasi untuk meladeni tantangan serdadu Belanda. Konon, berkat kesaktian sang Raden, senjata dan meriam tentara Belanda tak bisa digunakan.

Hasilnya, pertempuran itu pun dimenangkan oleh pasukan yang dipimpin Raden Sungging.

Rawa Rontek

Ilmu kanuragan yang dimiliki Raden Sungging sekilas mirip dengan ilmu rawa rontek yang dimiliki Pitung, jawara Betawi yang juga gencar melakukan serangan terhadap kolonial Belanda.

Dan bahkan menurut kepercayaan warga Citayam dan sekitarnya, Raden Sungging merupakan saudara si Pitung.

Sama halnya dengan Pitung, Raden Sungging pun memiliki banyak makam. Di manapun ia di kubur maka dipercaya sosoknya akan nongol lagi.

“Iya yang saya tahu makamnya bukan cuma di sini (Pondok Terong, Cipayung Depok) tapi juga ada di Demak dan Banten,” kata Rusnadi salah satu warga Pondok Terong, Cipayung, Depok.

Lebih lanjut, pria yang mengaku sebagai salah satu keturunan kuncen penjaga makam Raden Sungging ini mengatakan, berbeda dengan Pitung, Raden Sungging berasal dari keturunan ningrat asal Demak.

Dalam tiap pertempuran, Raden Sungging hanya membawa sebilah keris dan amalan doa yang diyakini ampuh untuk membuat senjata serdadu Belanda, seperti meriam dan senapan, menjadi tak berfungsi. Selain itu, ia pun di kenal dengan ilmu kekebalan.

Dengan jubah putihnya, sosok Raden Sungging kemungkinan bisa digambarkan mirip dengan Pangeran Diponegoro.

Bangkit dari Kubur

Tapi, kemenangan tersebut tidak berlangsung lama, Belanda yang dendam dengan kekalahan itu kemudian kembali lagi dengan jumlah pasukan yang lebih banyak, serta peralatan yang lebih lengkap setelah meminta bantuan ke Batavia.

Menghadapi serangan yang jauh dari kata seimbang itu, Raden Sungging dan pasukannya pun dipaksa menyerah.

Karena dianggap sebagai pemberontak, mereka pun akhirnya ditangkap dan dipenjarakan di Penjara Cipinang, Jatinegara. Sebagai seorang pemimpin, Raden Sungging tak ingin rakyatnya menjadi korban keganasan Belanda.

Baca Juga: Aksi Nekat Tole Iskandar, Pemuda Depok yang Bikin Jatuh Pesawat NICA

Ia meminta Belanda untuk membebaskan rakyatnya. Sebagai jaminan, Raden Sungging siap menerima hukuman mati.

“Permintaan ini disetujui oleh Belanda. Namun sebelum dieksekusi, Raden Sungging mengajukan permintaan terakhir berupa makanan, minuman dan rokok kesukaannya. Permintaan ini pun disanggupi pihak Belanda. Ketika acara jamuan itu selesai, secara mendadak Raden Sungging meninggal. Semua pejabat Belanda dibuat gempar,” ungkap Diki.

Makam Raden Sungging (Foto: Istimewa)
Makam Raden Sungging di Depok (Foto: Istimewa)

Setelah kematian Raden itu, Pemerintah Belanda kemudian menguburkan dan menjaga makam Raden Sungging selama satu pekan. Setelah satu pekan berlalu, dan para prajurit Belanda meninggalkan makam tersebut timbul keanehan.

Namun menurut cerita yang dipercaya warga sekitar secara turun-temurun, Raden Sungging bangkit dari kuburnya dan berjalan menuju Depok. Setelah sampai di Depok ia kembali memimpin Citayam.

“Ia juga memperingatkan agar penjajah Belanda jangan berbuat semena-mena terhadap rakyat Depok. Dan menurut cerita, ancamannya kali ini ternyata membuat takut Belanda,” ungkap Diki.

Kejadian ini sontak membuat gembira rakyat Depok. Mereka menyerukan kata-kata Ratu Jaya. Ratu Jaya.

Akhirnya, Raden Sungging pun diangkat kembali menjadi penguasa atau raja setempat. Raden Sungging wafat dan dimakamkan di Pondok Terong, Pancoran Mas, Depok. (rul/*)