Kisah Pilu Nenek Arpah, Menanti Keadilan di Meja Hijau  

Nenek Arpah (istimewa)

MARGONDA- Proses pengadilan terkait kasus dugaan tipu-menipu jual beli tanah yang dialami Nenek Arpah, hingga kini masih berjalan alot. Imbasnya, kondisi kesehatan wanita 63 tahun itu pun mulai terganggu. Arpah mengaku, dirinya akhir-akhir ini sering merasakan sakit, khususnya dibagian pernafasan.

Apa yang dialami Arpah tentu bukan tanpa sebab. Selain beban pikiran, wanita paruh baya ini juga harus menguras tenaga lantaran dalam beberapa agenda persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Depok, kadang berlangsung hingga larut malam.

“Selami ini saya sudah disakiti sama Kodir (terdakwa) yang mengambil bukan hak-nya, sampai sekarang saya menjadi sering sakit, yang terasa itu dibagian paru-paru,” katanya dengan mata berkaca-kaca, Selasa 17 Maret 2020

Arpah membantah keras jika dirinya sempat diajak berdamai oleh terdakwa.

“Damai apaan, kalau mau damai dari dulu saja sebelum di pengadilan. Ini kan sudah ada perjanjian antara Kodir dengan anak saya tahun 2016, kalau sekarang saya tidak mau diajak berdamai sebelum sertifikat saya kembali,” tuturnya dengan raut wajah penuh kekesalan

“Saya belum tentu maafin dia juga, saya mau dia dihukum seberat-beratnya. Saya sudah banyak mengeluarkan tenaga, mundar-mandir (kesana-kemari),” keluhnya dengan nada lemas

Arpah menegaskan, sejak awal dirinya tidak pernah merasa menjual tanah ataupun rumah yang ia tempati. “Saya tidak merasa menjual tanah 103 meter, apalagi dengan harga Rp 120 juta, itu kan semua rekayasa Kodir dan saya tidak tahu di notaris Cibinong itu isinya apa.”

Yang ia tahu, saat itu pihak notaris memintanya untuk membubuhkan cap jempol dan pulangnya Arpah dikasih uang Rp 300 ribu. Nenek buta huruf ini awalnya tidak menyangka jika itu hanyalah akal-akalan terdakwa.

“Saya diajak kesana untuk cap jempol, saya kira itu penjualan untuk tanah 196 meter, enggak tahu ternyata itu buat tanah yang 103 meter. Saat itu saya hanya di kasih uang Rp 300 ribu,” katanya

Arpah kini hanya bisa berharap ada keadilan atas kasus yang telah membelenggunya selama lebih dari empat tahun itu. “Harapan saya sertifikat kembali atas nama saya (Arpah). Saya minta ganti rugi dan Kodir dihukum seberat-beratnya,” tuturnya

Lebih lanjut Arpah mengaku, dirinya kini tak lagi percaya dengan janji-janji manis terdakwa. “Kodir hanya janji-janji doang dan manis dibibir saja. Saya dibilang tukang bohong dan orang dzolim, padahal Kodir yang tukang bohong dan zolim kepada saya. Janji mau memberikan sertifikat tapi sampai sekarang sertifikat saya belum kembali,” ucapnya

“Saya sudah tidak percaya sama Kodir, apalagi dia berani sumpah palsu bilang demi Allah, dia tukang bohong, kalau mau mengembalikan dari dulu harusnya sertifikat dikembalikan kepada saya. Tapi nyatanya sampai sekarang sertifikat saya belum kembali,” timpalnya lagi.

Untuk diketahui, terdakwa (Kodir) tak lain adalah tetangga Arpah. Kasus ini bermula ketika Arpah diajak ke salahs atu notaris di kawasan Cibinong, Bogor, beberapa tahun lalu. Kala itu, Arpah tak tahu jika disana sertifikatnya telah diambil alih oleh terdakwa.

Kelemahan Arpah yang tak bisa membaca dan menulis inilah yang diduga kuat dimanfaatkan terdakwa untuk merampas tanah korban. Arpah dan keluarga baru mengetahui jika tanah-nya telah digadaikan oleh terdakwa setelah didatangi pihak bank. Kasus itu pun akhirnya di laporkan sang nenek ke polisi hingga akhirnya sampai ke ranah pengadilan. (rul/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here