Kisah Maung Bodas, Khodam Sakti Pendamping Prabu Siliwangi

Ilustrasi Prabu Siliwangi (Foto: Istimewa)
Ilustrasi Prabu Siliwangi (Foto: Istimewa)

DepokToday- Prabu Dewataprana Sri Baduga Maharaja atau yang populer disebut Prabu Siliwangi, adalah Raja Pajajaran yang sangat terkenal di tanah Pasundan. Konon, ayah dari Pangeran Kian Santang itu memiliki kesaktian yang luar biasa.

Bahkan, sampai sekarang masih banyak yang mengaguminya. Sosok Prabu Siliwangi disebut-sebut memiliki pasukan yang tak sedikit.

Tentaranya tidak hanya dari kalangan manusia tapi juga makhluk gaib. Salah satunya yang seringkali dikaitkan adalah Maung Bodas, sosok harimau putih dari bangsa jin yang konon adalah khodam sang Prabu.

Disitat dari Wikipedia, Prabu Siliwangi mengawali pemerintahan zaman Pakuan Pajajaran Pasundan, yang memerintah Kerajaan Sunda Galuh selama 39 tahun (1482-1521).

Pada masa inilah Pakuan Pajajaran di Bogor mencapai puncak perkembangannya.

Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima tahta Kerajaan Galuh di Kawali Ciamis dari ayahnya Prabu Dewa Niskala putra Mahaprabu Niskala Wastu Kancana dari Permaisuri Mayangsari putri Prabu Bunisora.

Yang kedua ketika ia menerima tahta Kerajaan Sunda di Pakuan Bogor dari mertua dan uwanya, Prabu Susuktunggal putra Mahaprabu Niskala Wastu Kancana dari Permaisuri Ratna Sarkati putri Resi Susuk Lampung.

Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Kerajaan Sunda. Pajajaran merupakan Kerajaan Hindu yang pernah menguasai tanah Sunda.

Baca Juga: Angin Kencang disertai Hujan Kembali Terjadi di Depok, Satu Mobil Tertimpa Pohon

Prabu Siliwangi dikenal bijaksana dan sakti mandraguna. Salah satu kekuatan yang dimilikinya dipercaya berasal dari Maung Bodas. Maka tak heran, jika banyak gambar maupun lukisan seekor macan putih yang selalu berada di sekitar Prabu Siliwangi.

Awal Mula Maung Bodas Jadi Khodam Prabu Siliwangi

Dilansir DepokToday.com dari goodnewsfromindonesia, konon katanya, asal muasal sang macan menjadi khodam Siliwangi bukanlah didapat dari hadiah, namun didapatkan usai sang prabu menaklukkannya dalam suatu pertempuran sengit.

Diketahui, macan putih yang dimaksud ini adalah raja macan putih bernama Maung Bodas dari dunia gaib, yang memiliki ribuan tentara sejenisnya.

Ilustrasi Maung Bodas (Foto: Istimewa)
Ilustrasi Maung Bodas (Foto: Istimewa)

Kisah ini bermula dari ketika Prabu Siliwangi hendak beristirahat di Curug Sawer, Majalengka, guna melepas lelah dalam pengembaraannya.

Tanpa disangka, sekawanan macan putih gaib menghadang langkah dan hendak menerkam sang prabu.

Namun, karena memang Raja Siliwangi itu dikenal sangat sakti mandraguna, tidak satupun sekawanan macan itu yang dapat melukainya.

Akan tetapi sebaliknya, banyak dari kawanan macan ghoib itu yang tersungkur dan terluka. Singkat cerita, sang raja dari kawanan macan putih tersebut maju dan terjadilah pertempuran sengit diantara keduanya.

Baca Juga: Misteri Beda Dunia di Gunung Guntur, Korbannya Bukan Cuma Gibran

Lagi-lagi dengan kesaktiannya, Prabu Siliwangi berhasil mengalahkan sang raja gaib macan putih.

Sejak saat itulah Raja Macan Putih dan seluruh pasukannya mengabdikan diri dan bersedia membantu Prabu Siliwangi selaku penguasa tanah pasundan, dangan taruhan nyawanya.

Peneliti Belanda Ungkap Mitos Maung Bodas

Peneliti Belanda, Scipio, kepada Gubernur Jenderal VOC, Joanes Camphuijs melaporkan mengenai jejak sejarah istana Kerajaan Pajajaran di kawasan Pakuan (daerah Batutulis Bogor sekarang).

Laporan penelitian yang ditulis pada tanggal 23 Desember 1687 tersebut berbunyi “dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort”.

Artinya: Bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk Raja “Jawa” Pajajaran, masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau.

Bahkan kabarnya salah satu anggota tim ekspedisi Scipio pun menjadi korban terkaman harimau ketika sedang melakukan tugasnya.

Baca Juga: Terungkap! Ibu dan Anak di Gema Pesona Sempat Minum Cairan Ini Sebelum Tewas

Temuan lapangan ekspedisi Scipio itu mengindikasikan bahwa kawasan Pakuan yang ratusan tahun sebelumnya merupakan pusat kerajaan Pajajaran telah berubah menjadi sarang harimau.

Hal inilah yang menimbulkan mitos-mitos bernuansa mistis di kalangan penduduk sekitar Pakuan mengenai hubungan antara keberadaan harimau dan hilangnya Kerajaan Pajajaran.

Berdasarkan pada laporan Scipio ini, dapat disimpulkan bila mitos maung lahir karena adanya kekeliruan sebagian masyarakat dalam menafsirkan realitas.

Sesungguhnya, keberadaan harimau di pusat Kerajaan Pajajaran bukanlah hal yang aneh. Apalagi sepeninggal para penduduk dan petinggi kerajaan, wilayah Pakuan berangsur-angsur menjadi hutan.

Hukum Memiliki Khodam Dalam Islam

Lantas bagaimana pandangan Islam tentang khodam?

Buya Yahya, ulama yang cukup dikenal di Indonesia mengatakaan, bahwa manusia tetap tidak boleh memelihara khodam. Sebab, jin memiliki hawa nafsu yang sama dengan manusia.

Selain itu juga, jin memiliki sifat pendusta, jin bisa mengaku ingin menjadi teman manusia, namun sejatinya ingin menipu manusia.

“Bahaya sekali karena mungkin kamu sekali tertipu oleh jin karena jin seperti manusia yang akidahnya sesat juga ada, menjermuskan ada, mereka punya kewajiban ada ajaran sesat karena di manusia aja ada yang salah memilih sekolah untuk anaknya akidah sesat, apalagi urusan sama jin,” katanya dikutip DepokToday.com dari viva.co.id pada Senin 27 September 2021.

Buya Yahya juga menjelaskan,  jika ada ulama yang bilang boleh berurusan sama jin.

Namun, kata dia ada syaratnya, mereka harus mengerti dengan syariat, sebab jika dibohongi dengan jin dia akan tahu. Kalau tidak mengerti syariat orang tersebut akan tertipu.

“Malah tertipu jadi dukun dia. Ini bahaya, gak ada urusan sama jin, nanti banyak bohongnya. Anda punya hawa nafsu jin juga hawa nafsu jadi kita tidak nyaman karena kita mungkin salah memperlakukan mereka atau sebagainya. Jadi ga usah berurusan dengan jin,” jelas Buya Yahya. (rul/*)