Kisah Gus Dur Muliakan Anak Yatim

0
574
Ustaz Badruddin.(Foto: Istimewa)

HARI INI, Rabu 30 Desember 2020, tepat Haul ke-11 K. H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Meskipun telah tiada, namun banyak cerita tentang Presiden keempat RI itu semasa hidupnya.

Seperti yang dikisahkan oleh Ketua MWC NU Bojongsari, Ustaz Badruddin, S.Ag. MM. Ia mengungkap bagaimana Gus Dur ketika menjabat sebagai Presiden RI sangat memuliakan anak yatim.

Cerita ini bermula ketika Ustaz Badruddin pada Senin 15 Ramadan 1421 Hijriah/11 Desember 2000 mendapatkan undangan dari Kedubes Kuwait, Jamal Annashofi.

Dibaca Juga: https://depoktoday.hops.id/seabrek-kegiatan-digelar-gusdurian-depok-peringati-haul-ke-10-gus-dur/

Dirinya datang bersama Ketua Yayasan Darussalam, H. Rachmat Setiawan, dan 50 anak yatim. Seusai acara, Dubes meminta kepada dirinya dengan bahasa Arab agar datang kembali bersama lima anak yatim. Terlebih lagi, saat itu Dubes menjadi orang tua asuh bagi lima anak yatim tersebut.

“Dalam hati saya, Alhamdulillah dalam satu Minggu dua kali diundang buka puasa. Tentunya, dengan menu makanan Timur Tengah dan juga Indonesia. Alhamdulillah hampir tiap bulan waktu itu, kami dengan lima anak yatim diundang ke Kedutaan dan makan siang di Hotel Mariot,” ujar Ustaz Badruddin yang juga Ketua Yayasan Al-Kamilah, Bojongsari, Kota Depok.

Sesuai waktu yang ditentukan, Kamis 18 Ramadan 1421 H/14 Desember 2000,  Dirinya bersama dengan H. Rachmat Setiawan dan lima anak yatim tiba di depan rumah Dubes di Kawasan Kuningan, Jakarta.

Ia pun terkejut karena ada pengamanan dari Paspampres yang sangat ketat. Dalam benaknya hanya terpikir di dalam rumah Dubes ada Presiden Gus Dur karena ada mobil berplat nomor RI 1.

Ternyata benar dugaannya, Gus Dur yang saat itu menjadi orang nomor satu di Indonesia berada di rumah tersebut. Tanpa berpikir panjang, ketujuh orang undangan ini menghampiri Paspampres.

“Tentu saja Paspampres tidak langsung percaya dengan kedatangan kami. Setelah mereka konfirmasi ke Pak Dubes, lima menit kemudian keluarlah Asisten Pribadi Pak Dubes Kuwait bernama Farhan. Kebetulan sudah akrab dengan saya, beliau persilahkan kami masuk ke dalam rumah,” paparnya.

Ustaz Badruddin mengaku saat di kediaman Dubes di tempat berbeda ruang tamu dengan Presiden. Saat itu Gus Dur sedang berbincang empat mata bersama pak Dubes dengan Bahasa Inggris.

“Kami di ruang yang bersebelahan hanya mendengar dengan jelas tertawanya Pak Dubes berkali-kali karena guyonan Presiden Gus Dur,” terangnya.

Saat berbuka puasa bersama, dirinya berbeda tempat dengan Gus Dur. Setelah Presiden pulang karena ada agenda lain, dirinya bersama undangan mendapatkan pelayanan yang ramah dari Pak Dubes dengan Bahasa Arab.

“Sekitar 10 menit kami berbincang-bincang terdengar suara telpon berbunyi dan Pak Dubes mengangkat telpon. Pak Dubes menyampaikan bahwa Gus Dur telepon secara langsung menyampaikan permohonan maaf kepada kami dan anak yatim sebab beliau lupa permisi dan berjabatan tangan. Gus Dur sangat menyesal atas kejadian tersebut,” keluhnya.

Ia merasa terharu sekaligus kagum atas kejadian itu. Dalam hati, Ustaz Badruddin menyebut Subhanallah betapa mulia Gus Dur. Sebagai seorang Ulama besar sekaligus Presiden sangat menghormati orang biasa dan anak yatim.

“Apalagi, Gus Dur menyampaikan permohonan maaf secara langsung di saat itu juga. Padahal, itu bukan suatu kesalahan dan kami sangat memaklumi protokoler Kepresidenan. Meskipun sebenarnya kami ingin bersalaman dan berfoto bareng dengannya. Sayangnya, kami juga belum memiliki HP dan tidak ada media yang meliput,” tandasnya.

Inilah bukti dihadapannya secara langsung, betapa Gus Dur mempunyai hati yang mulia, tulus, merakyat. Dan masih sangat banyak sikap yang lainnya patut dicontoh. Allahu Yarham.

(ahi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here