Ketua MPR RI Dukung Trah HB II Tuntut Inggris Kembalikan Harta Raja Jogja

0
83
Bambang Soesatyo.(Foto: Istimewa)

JAKARTA—Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, mendukung langkah keluarga besar keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II (Trah HB II) untuk meminta Inggris mengucapkan permohonan maaf dan pengembalian harta benda milik keraton saat Sri Sultan Hamengkubuwono menjadi raja Jogja.

Dukungan pimpinan MPR RI itu diakui oleh Sekretaris Pelaksana Pengusulan Sri Sultan Hamengkubuwono II Pahlawan Nasional, Bagoes Poetranto.

Kata Bagoes, selain ketua MPR, Fadli Zon (anggota DPR RI), juga memberikan dukungan. “Mereka (Bambang dan Fadli-red) mendukung upaya kami agar Inggris mengembalikan harta Keraton Jogja. Mereka juga mendukung upaya para Trah HB II untuk meminta Sri Sultan Hamengku Buwono II menjadi Pahlawan Nasional,” kata Bagoes, kepada wartawan, Senin (12/10/2020).

Sementara itu, Bagoes yang mewakili keluarga besar Trah HB II merasa gerah dengan pernyataan yang dilontarkan Sejarawan Inggris, Peter Carey, dalam acara Webinar Forum Sejarah Jejak Peradaban: Menggali Warisan Membangun Masa Depan Sri Sultan Hamengkubuwono II, belum lama ini.

Bagoes menyebut pihak Inggris harus meminta maaf pada pihak Keraton Yogyakarta khususnya para keturunan Eyang Sepuh Sri Sultan Hamengku Buwono II.

“Pernyataan Peter Carey yang menyebutkan peristiwa penyerangan pasukan Inggris ke keraton merupakan suatu peristiwa yang harus dimaklumi pada saat masa perang. Karena pertama situasi perang dan pihak Inggris perlu logistik untuk pasukannya. Pada saat itu Keraton Jogja mempunyai harta benda yang besar,” kata Bagoes mengutip pernyataan Carey di Webinar.

Menurut Bagoes, pernyataan Carey saat di webinar yang menyebutkan pihak Inggris tidak perlu meminta maaf dan tidak mengembalikan harta rampasan saat itu tidaklah objektif.

“Dan kita diminta memakluminya, apa yang dilontarkan Peter Carey sangat disayangkan dan membuat “luka” para Trah Hamengkubuwono II,” terang Bagoes.

“Selain itu kami juga tak sependapat bahwa pengasingan Eyang Sepuh HB II ke Penang merupakan salah satu bentuk pemaafan dari pihak Inggris,” tambahnya.

Kemudian Bagoes mengutip pendapat Carey dimana Inggris menyebut tidak ada hal yang harus dimaafkan. Sedangkan pengasingan Eyang Sepuh ke Penang oleh Inggris, ujar Bagoes mengutip kata Carey, sebagai bentuk pengampunan dan belas kasihan Raffles kepada Eyang Sepuh.

“Deklarasi PBB saat ini apa yang dilakukan oleh pihak atau bangsa kolonial merupakan kejahatan yang besar yang dilarang,” tuturnya.

Masih dalam webinar, pembicara lainnya yakni KRT Manu W Padmadipura Wangsawikrama, seorang Filolog, menyebutkan, apa yang dilakukan Eyang Sepuh Sri Sultan Hamengku Buwono II pada saat itu untuk mempertahankan wilayah, kehormatan, harkat dan martabat sebagai Raja sangatlah wajar.

Eyang Sepuh HB II menjalankan fungsinya sebagai Raja yang melindungi wilayah dan rakyatnya dari gangguan para penjajah kolonial. “Jadi Eyang Sepuh itu sudah selayaknya disebut sebagai Pahlawan Nasional,” jelasnya.

“Tapi kolonial menganggap Eyang Sepuh Sri Sultan Hamengku Buwono II sebagai pembangkang dan penjahat,” tambah Manu.

Dalam webinar tersebut juga mengungkap kitab pusaka Keraton Yogyakarta yang ditulis oleh Sri Sultan Hamengkubuwono II, Serat Suryorojo.

Di dalamnya mengupas tentang kearifan seorang Sultan dalam memimpin rakyatnya. Tidak hanya di bidang politik dan pemerintahan, tetapi juga masalah lain seperti pertanian, seni dan budaya, termasuk sastra dan seni tari.

“Jadi ini (kitab,-red) sebetulnya adalah pedoman, bagaimana seorang raja itu memerintah negerinya dengan baik,” ulas Manu.

(hen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here