Kembalikan Emas 57.000 Ton Milik Hamengkubuwono II yang Dirampas Inggris

Diskusi Mengenai Pengusulan Hamengkubuwono II jadi Pahlawan Nasional.(DepokToday/Hen)

MARGONDA-Keturunan dari Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono II (HB II), mendesak pihak Pemerintah Indonesia melalui Presiden RI, Joko Widodo, untuk membantu pengembalian aset dan harta benda milik Sultan HB II yang dijarah oleh tentara Inggris pada tahun 1812.

Fajar Bagoes Poetranto, salah satu keturunan Sultan HB II, saat dijumpai media di kawasan Margonda, Kota Depok, pada Selasa (21/7/2020) malam, mengungkapkan, pada tahun 1812 memang terjadi serbuan ke Kraton Yogyakarta yang dilakukan oleh bala tentara Inggris.

Kata dia, peristiwa tersebut dikenal dengan Perang Sepehi atau Geger Sepehi. “Kami mengharapkan harta dan benda bersejarah yang dijarah tentara Inggris pada Perang Sepehi tahun 1812 untuk dikembalikan. Barang-barang tersebut merupakan salah satu bagian dari milik Keraton Yogyakarta di masa Raja Sri Sultan Hamengkubuwono II,” katanya.

Fajar menyebutkan, harta berharga yang dijarah menurut informasi yang diterimanya adalah soal logam emas sebanyak 57.000 ton.

“Jadi surat bukti kepemilikan atau kolateral itu yang dirampas. Kami meminta agar emas tersebut dikembalikan kepada pihak Keraton atau para keturunan dari Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono II,” tegasnya.

Selain emas yang dijarah, Fajar menyebutkan pula ada dokumen penting kerajaan lain yang diangkut.

“Begitu juga dengan manuskrip-manuskrip yang ditulis Sri Sultan Hamengkubuwono II tentang sastra dan budaya keraton, benda pusaka kraton bahkan perhiasan yang dipakai Sri Sultan Hamengkubuwono II pada saat itu juga ikut dirampas,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, manuskrip tersebut penting dikembalikan karena bukti otentik kesejarahan Ngayogyakarta.

Bahkan, menurut Fajar, pihak Yayasan Cahaya Nusantara (Yantra) telah siap mendukung dan membantu untuk merawat serta menerjemahkan manuskrip tersebut.

Sebab, lanjutnya, penerjemahan itu perlu dilakukan untuk menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat Yogyakarta sejarah masa lampau Sri Sultan Hamengkubuwono II.

“Kami melakukan ini sudah mendapat dukungan dari pihak Keraton Yogyakarta dan para keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II. Bahkan yayasan Yantra juga siap membantu,” jelasnya.

Disamping itu trah keturunan juga menginginkan penulisan sejarah mengenai Perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono dan Perang Sepehi. Hal itu perlu untuk menambah wawasan para generasi saat ini.

“Karena itu untuk menambah pemahaman soal perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono dan dalam rangka pengusulan gelar Pahlawan Nasional, akan diselenggarakan pementasan wayang kulit dengan lakon Perang Sepehi. Pentas wayang akan dibawakan Dalang Ki Catur Benyek Kuncoro,” ulasnya.

Dihubungi terpisah, Dalang Ki Catur Benyek Kuncoro menyebutkan, pergelaran wayang mengambil format Babad bukan Wayang Purwo.

“Babad yang dimainkan adalah Babad Diponegoro. Sumbernya dari Babad Diponegoro yang ditulis Pangeran Diponegoro saat berada di pembuangan,” katanya.

Lalu alasan pilihan Geger Sepehi, menurut Ki Catur Benyek, karena memang dalam rangka Pengusulan Hamengkubuwono II sebagai Pahlawan Nasional.

“Peristiwa pecahnya Perang atau Geger Sepehi di era Hamengkubuwono II. Dan memang sosok Hamengkubuwono II ini keras. Dia tidak mau tunduk dengan aturan-aturan yang dibuat Belanda,” ucapnya.

Ketika Belanda kalah perang lalu Daendels ditarik dan kekuasaan dialihkan ke Inggris. Yang datang ke Yogyakarta itu Raflles.

“Aturan-aturan yang dibuat pun sama dengan Belanda. Hamengkubuwono pun tetap menolak. Memang penekanan lakon Geger Sepehi itu ya sosok kepahlawanan HB II,” tegas Ki Catur.

Lebih lanjut Ki Catur menyebutkan bahwa sosok Hamengkubuwono II memang benar-benar tidak ada kompromi lagi dengan penjajah.

“Itu terbukti Hamengkubuwono II pernah diturunkan paksa oleh Belanda dan digantikan putranya menjadi Hamengkubuwono III. Dan akhirnya ketika pecah Perang Sepehi itu, lalu Keraton Ngayogyakarta itu bedah atau kalah,” jelasnya.

Kekalahan itu menurut cerita, karena keraton diserang dari belakang dan banyak prajurit keraton yang mati dan keraton kalah. “HB II ini memang penulis juga. Jadi banyak naskah-naskah yang dirampas,” ujarnya.

(hen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here