Keji, Bapak Tega Cabuli Dua Putri Kandung di Depok

Ilustrasi pencabulan Bruder Angelo (Foto: Istimewa)
Ilustrasi pencabulan Bruder Angelo (Foto: Istimewa)

MARGONDA– Kasus pencabulan oleh ayah terhadap anak kandung kembali terjadi di Depok, Jawa Barat. Ironisnya lagi, aksi bejat pelaku dilakukan bukan hanya terhadap satu anak, tapi dua putrinya sekaligus.

Kasus ini terkuak setelah ibu dari kedua korban tersebut mengadu kepada Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Belakangan diketahui, rupanya kasus itu telah dilaporkan ke polisi sejak 2019, lalu namun pelakunya belum ditangkap.

Pelaku, yang tak lain adalah ayah korban rupanya telah kabur dan hingga kini tak diketahui keberadaannya. Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait menuturkan, dugaan perbuatan cabul tersebut telah dialami korban secara berulang kali hingga menyebabkan trauma.

“Suami dari ibu ini telah melakukan kejahatan seksual terhadap dua putri kandungnya, dan itu dilakukan sejak beberapa kali kejadian yang menurut pengakuan korban,” katanya pada wartawan saat ditemui di Balaikota Depok, pada Rabu 15 Juli 2020

Yang jadi korban adalah kakak beradik. Pelaku melancarkan aksinya ketika ibu korban sedang bekerja sebagai buruh cuci.

“Ketika melalukan kejahatan kepada kakaknya itu, si pelaku (ayah) sudah dilakukan vonis dua setengah tahun. Tetapi melakukan lagi pada 2016 dan terus melakukan tindakan yang sama kepada adiknya, berinisial S yang pada saat itu usia 9 tahun.”

Menurut keterangan korban, kata Aris, dirinya dicabuli sekira 10 kali dan itu dilakukan pelaku dengan penuh ancaman agar aksinya tidak diketahui oleh siapapun.

“Namun akhirnya si ibu tahu. Nah oleh si ibu dilaporkan ke polisi karena menurutnya sudah diluar batas. Dilaporkanya 4 Oktober 2019, tapi surat terakhir 12 Oktober 2019 yang diterima ibu ini tentang surat perkembangan hasil penyelidikan namun sampai sekarang pelakunya belum ditangkap.”

Arist mengaku, pihaknya prihatin dengan jalannya kasus ini.

“Ini kok kasus seperti ini sampai hampir 1 tahun belum juga terselesaikan. Padahal si pelaku nyata di sini dan ancamannya juga pasal 81 dari undang-undang nomor 35 tahun 2014 yang di atas 5 tahun,” ujarnya

Ia menyebut, kalau kasus kejahatan termasuk predator seksual, maka ancaman kurungan penjara bisa di atas 5 tahun. Dan itu harus sesegera mungkin sudah ditahan jika ada bukti petunjuk dan hasil visum.

“Tapi sayangnya ibunya mengeluh kok belum ada tindak lanjut. Oleh karena itu kami akan mengantar Ibu ini untuk mempertanyakan itu ke Polres Depok,” ucapnya

Arist mengatakan, kedatangannya ke Polres Depok diharapkan mampu memberikan dorongan agar kasus tersebut dapat segera menemukan keadilan “Saya kira ini sikap kita untuk mempertanyakan kembali apa kendalanya dan kami siap membantu.”

Hukuman Berat

Lebih lanjut Arist mengatakan, jika terbukti bersalah, maka pelaku dapat dikenakan hukuman yang lebih berat.

“Yang jelas, terduga inikan residivis dan di dalam undang-undang nomor 17 tahun 2016 residivis itu bisa dihukum 15 tahun, seumur hidup atau bahkan di kebiri karena melakukan tindakan kejahatan seksual yang sama dan pernah dihukum.”

Aris menambahkan, hukumannya itu bakal semakin berat, karena akan ditambahkan sepertiga dari hukuman yang tertera dalam undang-undang.

“Karena dia orang tua kandung. Sementara kalau dia tidak residivis saja tetapi melakukan tindak pidana itu, dia bisa ditambahkan seumur hidup kalau ancamannya 20 tahun. Apalagi kalau ini dilakukan secara berulang-ulang dan dilakukan oleh orang yang seharusnya memberikan perlindungan,” jelasnya

Tak hanya itu saja, Aris juga berjanji, pihaknya siap memberikan pendampingan psikologis terhadap korban.

Sementara itu, Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Depok, Ipda Elia Herawati menegaskan, pihaknya tidak tinggal diam atas kejadian ini.

“Kasusnya tentu kami atensi, dan ini kami masih terus berusaha mengejar pelakunya. Yang jelas kami tak tinggal diam, kami masih terus berusaha mengembangkan hasil penyidikan demi penegakan hukum.” (rul/*)