Kebutuhan Oksigen Medis Terus Naik, Menkes Beli Oksigen Konsentrator

Menkes Budi Gunadi Sadikin saat berbicara usai Rapat Terbatas. (Istimewa)
Menkes Budi Gunadi Sadikin saat berbicara usai Rapat Terbatas. (Istimewa)

DepokToday – Kebutuhan oksigen melambung tinggi seiring dengan kasus penambahan COVID-19 yang masih melonjak saat ini. Menteri Kesehatan atau Menkes Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, ada kenaikan kebutuhan oksigen yang sangat tinggi menjadi 2.500 ton per hari.

Jumlah itu naik drastis dari yang sebelumnya hanya di sekitaran 400 ton per harinya.
Dengan kebutuhan sebesar itu, kapasitas produksi hanya sanggup memenuhi 1.700 ton per hari.

Karena itu, pemerintah melakukan sejumlah strategi melalui pengadaan oksigen konsentrator atau membeli oksigen yang secara langsung dapat digunakan di rumah atau rumah sakit ini.

Dilansir dari situs Setkab.go.id pada Selasa 27 Juli 2021, pemerintah telah membeli oksigen konsentrator ini sebanyak 20.000 uni.

“Ini juga sudah ada donasi 17.000 (unit oksigen konsentrator)dan mulai berdatangan. Kita rencana sudah beli 20.000 unit yang nanti akan kita distribusikan ke seluruh rumah sakit dengan tempat isolasi,” sebut dia.

Baca Juga: [Update] Data BOR Rumah Sakit di Kota Depok, Senin 26 Juli 2021, Tersedia 291 Bed

Dia menjelaskan, setiap seribu unit oksigen konsentrator dapat memproduksi sekira 20 ton oksigen per hari. Peralatan kesehatan ini juga dapat didistribusikan dengan lebih mudah karena dapat menggantikan tabung-tabung oksigen besar.

“Jadi kita menghilangkan kebutuhan tabung yang besar-besar, kita menghilangkan kebutuhan transportasi logistik yang juga susah. Kita juga menghilangkan kebutuhan pabrik-pabrik oksigen besar yang harus kita bangun dengan cepat,” jelasnya.

Terkait ketersediaan oksigen cair yang diperlukan di ruang ICU rumah sakit (RS), pemerintah mendorong produsen oksigen di Indonesia untuk memaksimalkan kapasitas produksinya untuk oksigen medis.

Selain itu. Pabrik industri lain yang juga memproduksi oksigen diminta untuk memproduksi oksigen medis.

“Kekurangannya akan kita dapat dengan memanfaatkan extra capacity dari pabrik-pabrik oksigen yang ada di Indonesia maupun extra capacity dari pabrik industri lain yang memproduksi oksigen, misalnya pabrik baja, pabrik smelter, nikel, pabrik pupuk. Mereka memproduksi oksigen di dalam negeri itu yang nanti akan kita tarik dan akan kita distribusikan ke seluruh provinsi,” kata Menkes. (lala/*)