Kasus Penipuan Umrah, Bos Damtour: Saya Tidak Kabur  

Tim YLBH Nurussyafaah Indonesia (istimewa)

DEPOK–  Hambali Abbas, direktur PT Damtour akhirnya menjalani sidang perdana-nya di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat pada Selasa 3 Desember 2019. Hambali didakwa melakukan penipuan terhadap ratusan calon jemaah umrah.

Pada agenda sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyebut, ada masalah pada segi pendanaan yang menyebabkan ratusan calon jamaah tidak bisa berangkat umrah. Atas perbuatannya itu, Hambali dituding melakukan penipuan sesuai dengan pasal 372.

Adapun jumlah korban mencapai sekira 200 orang dengan total kerugian senilai lebih dari Rp 4 miliar. Menanggapi hal tersebut, tim kuasa hukum terdakwa, Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Nurussyafaah Indonesia, Herus Suroto mengungkapkan, pihaknya tak ingin gegabah mengambil kesimpulan karena proses sidang masih panjang.

“Ini kan baru sidang perdana ya, baru pertama. Nanti kta lihat pembuktian mengingat ini kan baru pihak jaksa. Kami mau dengar sumber data dari saksi-saksi, apakah benar mereka yang hadir nantinya sesuai seperti yang disangkakan pihak jaksa,” katanya pada wartawan

Dalam persidangan tersebut, tim kuasa hukum sempat menyampaikan keberatannya atas bacaan dakwaan jaksa yang menyebut Hambali sempat berupaya melarikan diri atas kasus tersebut.

“Iya klien kami disebut melarikan diri, itu kami keberatan dan alhamdulillah keberatan kami diterima hakim. Klien kami tidak kabur, dia justru meladeni para jamaah dan sangat kooperatif,” ujarnya

Sementara itu, Ketua Pembina YLBH Nurussyafaah Indonesia, Mukhlis Effendi mengungkapkan keberatannya atas sejumlah tuduhan yang disangkakan jaksa. Pihaknya menilai, kasus ini tidak serta merta dilakukan terdakwa seorang diri dan tidak ada niat Hambali untuk kabur.

“Klien kita mau menampung jamaah dan melakukan musyawarah, artinya ada niat baik,” katanya

Kemudian, Mukhlis menegaskan, kasus ini sangat berbeda dengan Fisrt Travel. “Klien kami tidak mmperkaya diri, beda dengan First Travel. Terbukti klien kami tidak punya aset satu pun. Jadi tidak serta merta uang jamaah dihimpun untuk kepentingan pribadi dia (Hambali),” jelasnya

Mukhlis justru menyebut, Hambali adalah korban permainan yang diduga dilakukan oknum maskapai.

“Jadi saat dia booking tiket ada ketidak beresan di manajemen maskapai. Ini yang menjadi trouble. Saya berharap ini jadi pertimbangan hakim. Ya kita lihat saja seperti apa nanti sidang berikutnya, semua akan jelas.”

Kronologi

Diberitakan sebelumnya, Kapolres Metro Depok, Ajun Komisaris Besar Polisi Azis Andriansyah menduga kuat, modus operandi Hambali tak jauh berbeda dengan First Travel, yakni dengan menggunakan metode tambal sulam. Bermodal iming-iming umrah murah senilai Rp 11 juta hingga Rp 25 juta, pelaku akhirnya menjerat sekira 200 korban dari 15 kota berbeda.

“Jadi awalnya spekulasi, ada tiket promo (versi tersangka). Kemudian dia booking. Tapi saat pemberangkatan tiket promo tidak ada. Akhirnya dia tambal sulam, ada yang stor yang daftar duluan akan berangkat, tapikan akan menumpuk. Sebenarnya ini adalah modus,” katanya

Sepak terjang tersangka, ujar Azis, telah dilakukan sejak 2016 lalu. Para korban rata-rata tertarik lantaran harga yang ditawarkan cukup murah. Namun dari 2016-2018 para korban tidak diberangkatkan bahkan kantor Damtour yang berlokasi di Jalan Tole Iskandar, Depok tutup.

“Maka di tahun 2018 mereka (para korban) melaporkan atas kerugian yang telah menimpa mereka. Para korban ini merasa tertipu karena sudah terlanjur menyetorkan uang, kemudian tidak juga diberangkatkan ibadah umroh dan satu hari yang lalu kita berhasil menangkap yang bersangkutan (Hambali).”

Tersangka, lanjut Azis, dibekuk di tempat persembunyiannya di kawasan Jalan Proklamasi, Depok, Jawa Barat pada Minggu 15 September 2019. Kini kasusnya telah masuk dalam ranah pengadilan. (rul/*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here