Kasus Anak di Depok Terus Meningkat, Komnas PA: Abnormal

0
662
Kepala Bidang Ketahanan Keluarga dan Keluarga Berencana Pemerintah Kota Depok, Ani Rahmawati (Istimewa)

MARGONDA– Ambisi Depok menuju kota ramah anak nampaknya masih menjadi tantangan terberat pemerintah setempat. Terbukti, sampai dengan saat ini, jumlah kekerasan terhadap anak justru cenderung meningkat hampir di setiap tahunnya.

Hal tersebut pun diakui oleh Kepala Bidang Ketahanan Keluarga dan Keluarga Berencana Pemerintah Kota Depok, Ani Rahmawati. Ia beranggapan, ada sejumlah faktor penyebab meningkatnya angka terkait kasus itu.

“Karena mungkin pelaporan sudah mudah ya, semua orang bisa mengakses itu semua,” ucapnya dikutip pada Rabu 16 Desember 2020

Baca Juga: Lagi PSBB, ABG Depok Malah Tawuran Sampai Tewas

Meski mengakui telah terjadi peningkatan kasus, namun sayangnya Ani mengaku tidak tahu secara detail jumlah kasus sampai dengan periode November 2020. “Totalnya saya enggak tahu. Cenderung agak naik,” ujarnya

Dia mengklaim, semua bisa tertangani karena pihaknya telah memiliki tim atau kelompok tersendiri yang fokus menangani hal tersebut.

“Alhamdulillah kami juga mempunyai para psikolog yang selalu berdampingan, hal itu bisa meminimalisir peroses yang ada. Laporan (data) mungkin nanti aja ya. Kalau naik turunnya fluktuaktif,” katanya

Yang jelas, kata Ani, pihaknya tidak tinggal diam dengan kasus-kasus terhadap anak. “Kalau bisa kami dampingi ya kami dampingi. Kami juga ada P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak), jadi pendampingan dan psikolog.  Kalau ada kekerasan yang seacara fisik kita rujuk ke rumah sakit.”

Terpisah, Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, menyebut, kasus kejahatan terhadap anak di Indonesia telah berada pada level mengerikan.

“Sehingga tahun 2021 kasus kekerasan terhadap anak tidak lagi pada posisi darurat tapi sudah berada di level abnormal dan Indonesia di ambang ancaman lost generation,” ujarnya

Menurut Arist, kondisi abnormal lebih tragis dari situasi darurat. Sebab bentuk-bentuk kejahatan terhadap anak, baik kejahatan seksual,  kekerasan fisik,  verbal dan lainnya sudah masuk dalam tahap abnormal.

“Bentuk lain dari ketidakwajaran yang semestinya tidak mungkin terjadi, justru faktual terjadi ditengah lingkungan sosial anak,” tuturnya

Revolusi Perlindungan Anak

Oleh karena itu, kata Arist, untuk memutus mata rantai kasus tersebut, nilai-nilai agama harus dikuatkan dan dikembalikan dalam lingkungan keluarga.

“Rumah harus diciptakan menjadi tempat yang terus beribadah yang kuat. Dan sudah saatya pula digelorakan revolusi gerakan perlindungan anak berbasis kampung, dengan melibatkan partisipasi masyarakat dan anak.”

Dengan program itu, lanjut Arist, masing-masing keluarga dan kampung wajib menjaga dan melindungi Anak. Formulasi lain yang patut dilakukan adalah mengubah paradigma dari pola pengasuhan yang otoriter mejadi pengasuhan yang dialogis dan partisipatif.

“Kalau revolusi gerakan perlindungan anak berbasis keluarga dan kampung ini dapat diwujudkan oleh semua komponen bangsa di Indonesia maka masa depan anak akan terjaga dan kekerasan anak abnormal tidak akan terjadi,” ucapnya. (rul/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here