Kabar Duka, Rektor Universitas Pancasila Prof Wahono Meninggal Dunia

Rektor Universitas Pancasila, Prof. Wahono Sumaryono. Ia dikabarkan meninggal pada Selasa sore 25 Mei 2021. (Foto: Istimewa)
Rektor Universitas Pancasila, Prof. Wahono Sumaryono. Ia dikabarkan meninggal pada Selasa sore 25 Mei 2021. (Foto: Istimewa)

JAKARTA- Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya setelah Rektor Universitas Pancasila atau UP, Prof. Wahono Sumaryono meninggal dunia pada Selasa sore, 25 Mei 2021.

Kabar duka itu dibenarkan oleh Kepala Humas Universitas Pancasila, Putri Langka. Ia menyebut, sang guru besar itu meninggal dunia karena sakit sekira pukul 18:50 WIB. Ia menghembuskan nafas terakhir diusia ke 67 tahun.

“Meninggalnya di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta tadi sore,” katanya.

Sebelumnya Wahono sempat menjalani perawatan di rumah sakit itu sejak 4 Mei 2021. Saat ini jenazah sudah dibawa ke rumah duka, di Jalan Jawa, Larangan Indah, Tangerang.

“Untuk dimakamkan dimana kami belum tahu karena masih menunggu keluarga,” ujarnya.

Jejak Prof Wahono

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber, Wahono Sumaryono adalah tokoh pendidikan yang juga fokus pada bidang bisnis.

Ya, selain dikenal sebagai Rektor UP, Jakarta, dia ternyata menjabat sebagai komisaris PT Kimia Farma. Bahkan jabatan tersebut diperpanjang untuk dua periode.

Di bidang akademik prestasi Wahono tidak kalah mentereng. Selain memimpin kampus tersebut, Wahono adalah co promotor di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Indonesia (UI).

Total sudah 17 doktor dia promosikan. Tujuh doktor  di UI dan lima doktor masing-masing di ITS dan IPB.

Baca Juga: Gandeng Universitas di Korsel, UP: Jangan Jago Kandang

Tak cukup sampai di situ, dia juga adalah dosen luar biasa di almamaternya, Universitas Airlangga (Unair). Meski untuk mengajar di kampus tersebut dia harus mengelola waktu dengan memampatkan jadwal kuliah dalam satu pekan.

Jejak Rektor Universitas Pancasila yang Meninggal Dunia

Wahono meraih hampir segalanya setelah lulus dari Jurusan Farmasi Unair pada 1980 dan bergelar apoteker setahun kemudian.

Prof Wahono dan B.J Habibie

Setelah lulus dari kampus di kota pahlawan tersebut, di tahun yang sama lelaki kelahiran Solo ini diterima di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).  Saat itu, posisi kepala BPPT dijabat B.J. Habibie.

Tiga tahun setelah masuk BPPT, Wahono mendapat kesempatan untuk training ke Jepang. Di negeri matahari terbit itu, bapak dua putra tersebut belajar aplikasi radiasi untuk medis dan biologis.

Tak cukup sampai Jepang, dua tahun kemudian Wahono hijrah ke Jerman. Dia menerima beasiswa overship fellowship, sebuah program pinjaman pemerintah Indonesia dari Bank Dunia.

Rektor UP Prof Wahono menanam pohon di Desa Leuwisadeng, Bogor. (DepokToday, Rul)
Rektor UP Prof Wahono menanam pohon di Desa Leuwisadeng, Bogor. (DepokToday, Rul)

Kepergian ke Jerman kali ini lebih lama. Empat tahun. Mulai Mei 1986 sampai Mei 1990. Kembali ke Jakarta, Wahono punya keinginan untuk membagi ilmunya. Dia lantas mendaftar sebagai dosen tidak tetap di Universitas Pancasila.

Meskipun demikian, kegiatan belajar mengajar yang dia ampu di kampus tersebut tak membuat pekerjaannya di BPPT terbengkalai. Pada 1992 sampai 1998 dia ditunjuk sebagai Kepala Sub Direktorat Teknologi Farmasi dan Medika. Pada 1998, Wahono kembali mendapat promosi untuk menjabat Direktur Teknologi Farmasi dan Medika.

Karir Wahono terus meroket hingga dia diangkat sebagai Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi. Dia menjadi bos untuk enam direktur di bawahnya. Dari sinilah karir Wahono di BUMN mulai dirintis.

Sejak Mei 2001, Wahono ditunjuk menristek/kepala BPPT saat itu untuk menjadi komisaris di PT PAL. Periode pertama berlangsung sepanjang 2001-2006. Jabatannya diperpanjang mulai 2006 hingga 2011.

Rektor Universitas Pancasila Meninggal

Selesai dari PT PAL, di tahun yang sama Wahono menyeberang ke PT Kimia Farma. Jabatannya masih sama, komisaris. Posisi itu dia emban hingga sekarang.

Karena sejak 2010 tidak lagi menjabat di BPPT, Wahono menempuh karir sebagai peneliti. Pada 2007, dia ditahbiskan sebagai guru besar kimia bahan alam. Di saat dia menjadi komisaris di PT PAL, Wahono terpilih sebagai Dekan Farmasi Universitas Pancasila.

Karir di kampus juga ikut menanjak. Sejak 17 Maret 2014, dia terpilih sebagai orang nomor satu di kampus yang berpusat di Jagakarsa, Jakarta Selatan tersebut.

Wasiat Sebelum Meninggal

Menurut Wahono, rahasia kesuksesannya tidak rumit. Dia hanya meyakini satu hal, dimanapun seseorang berkiprah, selalu berikan yang terbaik. Prinsip kuat itulah yang mengantarkannya meraih segala prestasinya. (rul/Sumber: Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga).