Jejak Tole Iskandar, Pentolan Kelompok 21 Kebanggaan Depok

0
205
Jalan Tole Iskandar (Istimewa)

CIPAYUNG- Sebutan Tole Iskandar tentu sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat Depok. Namanya dipatenkan sebagai salah satu jalan di kota Ini. Lalu siapakah sosok dibalik nama tersebut.

Berdasarkan hasil rangkuman Depoktoday.com, Tole Iskandar adalah satu dari sekian banyak pejuang yang lahir di kota penyanggah Jakarta. Dia sulung dari tujuh bersaudara.

Ke enam adiknya yaitu Tuti, Sukaesih, Sugito, Suyoto, Mulyati, dan Slamet Mulyono. Mereka adalah anak dari pasangan Raden Samidi Darmorahardjo dan Sukati binti Raden Setjodiwiryo.

Keponakan Tole, Arifin Darmo Wahyu mengungkapkan, ayah Tole kala itu adalah menteri perairan pada zaman kolonial Belanda. Tole lahir di Gang Kembang, Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, Depok.

“Sebenarnya saya enggak layak cerita karena saya hanya tahu dari ibu dan koran-koran peninggalan zaman dulu,” kata Arifin mengawali percakapan saat ditemui di kediamannya di kawasan Ratu Jaya, Selasa 10 November 2020

Menarik Lainnya : Muncul Petisi Sri Sultan Hamengkubuwono II Jadi Pahlawan Nasional

Menurut penuturan Arifin, sang kakek yang merupakan ayah Tole adalah keturunan bangsawan.

“Yang saya tahu kami inikan bisa dibilang darah biru, kakek saya ikut bedol desa dari Purworejo kira-kira pada abad 18,” jelasnya

Pria 51 tahun itu mengatakan, saat masa penjajahan dulu, Tole adalah pimpinan Kelompok 21. Nama tersebut diambil karena saat itu pasukan yang dipimpin olehnya hanya berjumlah 21 personil.

Tole sempat mengenyam pendidikan militer dengan Jepang sebelum akhirnya bergabung menjadi tentara rakyat.

“Saat itu keluarga atau orangtuanya tidak ada yang tahu.  Dia (Tole) balik-balik sudah jadi tentara, pakai samurai panjang.”

Sontak, penampilan Tole membuat keluarga kaget. Terlebih, saat itu, ayah Tole, Raden Samidi Darmorahardjo memiliki posisi penting sebagai salah satu pejabat yang bekerja untuk Belanda.

“Kakek saya kan dulu menteri air, tugasnya ngontrol air dari Pondok Cina (Depok) sampai Bogor. Kalau dulu naik kuda, ya bisa dibilang kaki tangan Belanda. Kita dulu masih didikan Belanda,” jelasnya

Tekad Tole sebagai pejuang akhirnya mendapat restu dan dukungan penuh dari keluarga. Berbekal kemampuan dan pasukan yang dimiliki, Tole pun semakin gencar melakukan serangan terhadap penjajah. Pertempurannya tidak hanya pecah di Depok namun hingga ke wilayah Bogor dan Sukabumi.

Keponakan Tole, Arifin Darmo Wahyu (Istimewa)

Untuk mendukung perjuangan Tole dan pasukannya, Raden Samidi Darmorahardjo berinisiatif mendirikan dapur-dapur logistik sebagai bekal penyediaan makanan dan minuman untuk para pejuang. Sedangkan sejumlah adik Tole saat itu bergabung sebagai relawan medis.

Tole wafat pada usia sekira 25 tahun. Ia gugur ketika menghadapi dengan sekutu di daerah Cikasintu, Sukabumi, Jawa Barat, pada 1947 bersama Batalion 8. Kala itu pangkatnya Letnan Dua. Kini makam Tole Iskandar berada di Taman Makam Pahlawan Dreded, Kota Bogor, setelah dipindahkan dari Sukabumi.

“Om saya (Tole) meninggal saat masih sangat muda. Ia belum menikah. Kami keluarga besar tentu sangat bangga dengan perjuangannya.” Bersambung. (rul/*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here