Jangan Sembarangan Motret Babi di Papua, Ini Risikonya

Ilustrasi kondisi di Papua (Foto: VOI)
Ilustrasi kondisi di Papua (Foto: VOI)

DepokToday- Ada sejumlah aturan tak tertulis di tanah Papua. Salah satunya yang harus diperhatikan adalah memotret suku asli di sana dan babi. Agar tak kena masalah, sebaiknya izin, kemudian memberikan tips.

Disitat dari Tempo, Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto menjelaskan, pemberian tips, bukan berarti pria yang memakai koteka tersebut minta bayaran, melainkan sebagai bentuk penghargaan atas izin memotret tersebut. Sedangkan babi, adalah binatang peliharaan yang berharga bagi masyarakat Papua.

Mengenai aturan memotret babi, kata Hari, wisatawan yang sedang melakukan perjalanan di Lembah Baliem boleh memotret babi milik Suku Dani yang berkeliaran tanpa harus membayar.

Baca Juga: Pengakuan Saksi Kunci di Balik Tewasnya Ibu Anak di Gema Pesona Depok

Hanya saja, jika wisatawan sedang mampir ke pasar tradisional dan ingin mengambil gambar babi yang diperjualbelikan di sana, mereka harus minta izin kepada pemiliknya.

“Apalagi kalau yang akan dipotret adalah anak babi yang sedang digendong,” katanya dikutip DepokToday.com dari goodnewsfromindonesia pada Senin 27 September 2021.

Aturan tersebut perlu diingat karena jika pemilik tidak berkenan babinya difoto, bisa-bisa nantinya akan disuruh membayar. Nah masalahnya, harga seekor babi di Lembah Baliem sangatlah mahal. Satu ekor babi dewasa bisa berharga sekira Rp 30 juta.

Selain itu, jangan sampai menabrak hewan peliharaan yang dibiarkan bebas berkeliaran di jalan ini. Tak peduli ukuran dan usia, semua babi yang tertabrak senilai babi dewasa.

Nilai Denda yang Fantastis

Lebih apes lagi kalau yang tertabrak adalah babi betina karena punya cara penghitungan ganti ruginya berbeda. Apabila menabrak babi betina, maka jumlah ganti ruginya semakin besar. Cara menghitungnya, harga babi dewasa tadi dikalikan jumlah puting susu babi betina yang tertabrak.

Pengendara juga mesti bertanggung jawab jika menabrak babi. Sebab jika terjadi tabrak lari pada babi, maka masyarakat akan memberikan sanksi kepada pengendara lain yang melintasi jalan tersebut.

“Karena sangat sulit mengingat pelat nomor mobil penabrak lari, maka yang menjadi sasaran adalah mobil yang berwarna sama,” kata Hari yang juga dosen arkeologi Universitas Cenderawasih, Papua.

Misalkan mobil yang menabrak babi berwarna merah, maka semua mobil merah yang melewati tempat itu harus membayar denda hingga angkanya senilai dengan harga babi yang tertabrak.

Babi dan Makna Sosial di Papua

Pada Februari 2020 lalu, Yus Yunus (26), pria asal Dusun Taramanu, Desa Sumberjo, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tewas diamuk warga di Nabire, Papua.

Ia tewas dikeroyok setelah dituding menabrak warga dan seekor babi hingga tewas.

Baca Juga: Kisah Maung Bodas, Khodam Sakti Pendamping Prabu Siliwangi

Peristiwa tersebut mempertegas bahwa babi memang bukan binatang sembarangan bagi masyarakat di Bumi Cendrawasih. Babi bisa menjadi pembawa suka cita, sekaligus menghadirkan perkara runyam di sana.

Bagi suku-suku di Papua, babi telah menjadi binatang yang tidak dapat dilepaskan dari sistem sosial dan budaya, terlebih bagi masyarakat yang mendiami wilayah pegunungan. (rul/*)