Jaksa Sita Tumpukan Uang Milik Terpidana Mati Kasus Narkoba  

Kejari Depok perlihatkan barang bukti uang hasil sitaan TPPU narkoba (DepokToday.com)
Kejari Depok perlihatkan barang bukti uang hasil sitaan TPPU narkoba (DepokToday.com)

CILODONG- Kejaksaan Negeri Depok menyita barang bukti dugaan hasil tindak pidana pencucian uang atau TPPU senilai lebih dari Rp 1 miliar. Tumpukan uang pecahan seratus ribu itu disita dari rekening terpidana mati kasus narkoba.

Juru Bicara Kejaksaan Negeri Depok, Herlangga Wisnu Murdianto mengungkapkan, uang tersebut merupakan barang bukti hasil pengembangan tim penyidik Polda Metro Jaya, terhadap aset atau rekening milik terpidana mati kasus narkoba atas nama Hartono dan Faisal.

“Setelah putusan hukuman matinya diinkrah, penyidik berdasarkan petunjuk dari jaksa melakukan penyidikan atas perkara TPPU-nya. Nah didapatkan uang Rp 1 miliar lebih, yang diduga merupakan hasil pencucian uang,” jelasnya, Selasa 12 Januari 2021

Kemudian, terhadap berkas yang disangkakan, maka jaksa meminta penyerahan barang bukti. Nah itulah barang buktinya yang dalam waktu dekat akan dilakukan penuntutan terhadap perkara TPPU,” jelasnya

Baca Juga: Kelumit Kasus Nur Mahmudi, Begini Jawaban Kajari

Barang bukti uang hasil sitaan itu, saat ini ada di Kejaksaan Negeri Depok untuk kemudian disimpan di bank sampai adanya putusan pengadilan.

“Nanti terhadap perkara itu akan dilakukan penuntutan untuk dirampas untuk negara,” katanya

Diberitakan sebelumnya, Hartono dan Faisal dinyatakan terbukti bersalah karena kedapatan memiliki dan mengedarkan narkoba jenis sabu dengan barang bukti sekira 37,9 kilogram.

“Menyatakan para terdakwa terbukti bersalah tanpa hak dan melawan hukum melanggar ketentuan Pasal 114 Ayat (2) junto Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Menjatuhkan putusan kepada para terdakwa berupa pidana mati,” kata M. Iqbal, ketua majelis hakim Pengadilan Negeri Depok dilansir pada Jumat 15 Mei 2020.

Iqbal menegaskan, pledoi atau nota pembelaan kedua terdakwa ditolak majelis hakim. “Nota Pembelaan dari masing-masing terdakwa kami tolak,” tegasnya.

Tak hanya itu saja, sebagai hukuman tambahan, hak komunikasi keduanya pun dicabut selama masa penahanan di dalam rumah tahanan negara.

Keputusan ini melihat, latar belakang lantaran para terdakwa merupakan anggota polri yang diyakini memiliki keterampilan khusus dalam pekerjaannya. Dan para terdakwa merupakan sindikat peredaran narkotika.

“Menyatakan pidana tambahan kepada masing-masing terdakwa dengan mencabut hak komunikasi kepada para terdakwa kepada siapa pun. Memberikan waktu pikir-pikir selama tujuh hari kepada Jaksa Penuntut Umum maupun kepada para terdakwa beserta penasehat hukumnya untuk menerima atau menyatakan banding terhadap putusan ini.”

Menanggapi putusan itu, kedua terdakwa melalui penasehat kukum kemudian menyatakan akan segera mengajukan banding.

Untuk diketahui, kedua terdakwa ditangkap anggota Ditresnarkoba Polda Metro Jaya di wilayah Gor Pakansari, Kabupaten Bogor, pada 19 September 2019 lalu. Mereka diduga kuat terlibat sebagai kurir dan penjual narkoba dengan jumlah yang cukup besar. (rul/*)