Ironi Pendidikan di Desa Gobang

Desa Gobang (DepokToday, Rul)

Depok– Pendidikan kurang layak nyatanya masih menjadi momok memprihatinkan di sebagian wilayah di Indonesia. Ironisnya lagi, kasus tersebut tak jarang di temukan di pinggiran Ibu Kota Negara. Salah satunya diKampung Kukuk Sumpung, Desa Gobang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

          Penelusuran DepokToday melaporkan, waktu perjalanan untuk mencapai wilayah tersebut memakan waktu sekira dua jam dari perbatasan Kota Depok, Jawa Barat. Di tempat ini, mayoritas penduduknya adalah bertani, kuli serabutan dan penambang pasir dengan upah kisaran Rp 30 Ribu hingga Rp 40 ribu/hari.

          Untuk mencapai Kampung Kukuk Sumpung, hanya bisa diakses dengan cara berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor dengan rute yang cukup terjal. Lokasinya yang berada dipuncak Gunung Eusing, kira-kira akan memakan waktu 30 menit dari balai desa. Disana, hanya ada satu sekolah dasar dengan dua orang tenaga pendidik (guru). Tadinya, bangunan sekolah tersebut nyaris runtuh dan muridnya pun sangat minim.

             Salah satu faktor utamanya adalah, masyarakat sekitar masih beranggapan meski gratis pendidikan tidaklah penting, terlebih bagi anak perempuan. Hal itulah yang dirasakan Jentri Hartanti, salah satu guru honorer di sekolah tersebut.

“Disini tuh orangtuanya yang harus benar-benar didekatin. Orang sini kurang peduli, mereka beranggapan sekolah itu buat apa, apalagi perempuan toh balik lagi ke dapur,” katanya saat ditemui di kampung tersebut, belum lama ini.

          Meski demikian, pemahaman seperti justru menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi wanita 23 tahun tersebut. Disekolah itu, hanya terdapat dua tenaga pendidik. Yakni Jentri dan Unep Sunarni, pemuda 23 tahun. Keduanya membagi tugas untuk mengajar dari kelas satu sampai dengan kelas enam.

          Kedua pahlawan tanpa tanda jasa ini hanya mendapat honor Rp 300 ribu per bulan dari pemerintah daerah. Di tempat ini, jangankan mengenakan seragam sekolah, bukunya pun hanya bisa dipinjam pakai seadanya secara turun temurun. Menurut Jentri, yang terpenting adalah anak-anak mau bersekolah, baginya sudah cukup.

          “Awal mulanya disini kurang respon pendidikan, seperti yang saya sampaikan tadi. Makanya disini tuh orangtuanya yang harus didekatin. Saya selalu berusaha merubah pola pikir mereka agar tidak kembali ke jalan dulu, biar ada perubahan,” katanya

          Setelah lebih dari tiga tahun berlalu, perjuangan Jentri dan Unep pun akhirnya berbuah manis. Yang tadinya hanya sekira 10 sampai 15 orang murid per kelas, kini telah melonjak menjadi 25 hingga 30 murid per kelas. Antuasiasme masyarakat untuk menyekolahkan buah hatinya itu semakin menjadi lantaran gedung sekolah telah rampung diperbaiki berkat dukungan dari Universitas Pancasila (UP).

          “Alhamdulillah, setelah ada perhatian dari kakak mahasiswa UP warga sini jadi antusias apalagi sekarang bangunan sekolah sudah layak enggak kaya dulu, kita selalu khawatir kalau lagi hujan. Mudah-mudahan UP semakin maju lagi, makin berkembang dan bermanfaat untuk seluruh rakyat Indonesia dan dunia,” katanya.

          Lebih lanjut Jentri mengaku, dirinya tidak pernah mempersoalkan honor yang ia terima selama ini. Meski jumlahnya masih jauh dari kata cukup, namun baginya memberikan perubahan bagi desa tempatnya tinggal adalah hal yang jauh lebih penting. Padahal, Jentri sendiri kerap menunggak iuran kuliah. Ya, wanita berparas cantik itu rupanya saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi berlatar belakang guru di salah satu unversitas.

          “Kalau rezeki alhamdulillah ada aja. Saya seperti ini ikhlas karena memang kemauan saya. Saya suka dengan anak-anak dan saya ingin melihat masa depan mereka cerah,” tuturnya dengan mata bekaca-kaca.

          Jentri pun hanya bisa berharap, pemerintah dapat memperhatikan dunia pendidikan di Indonesia agar lebih baik lagi, khususnya untuk daer-daerah terisolir seperti di kampung ini. “Harapan buat pemerintah semoga melek terhada daerah-daerah yang terisolir, itu saja.”

UP Mengabdi

Sementara itu, Rektor Universitas Pancasila, Prof Wahono Sumaryono mengungkapkan, pihaknya sengaja membangun sarana dan prasarana guna pengembangan pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di tempat tersebut karena ingin mendorong perkembangan pendidikan warga sekitar baik secara kuantitas maupun kualitas. Hal ini sesuai dengan program pengabdian Universitas Pancasila yang terjatuk, Mengabdi dengan Hati untuk Membangun Negeri.

“Dengan dana dari Universitas Pancasila dan sponsor mitra kerja, kami juga berhasil memperbaiki jalan setapak, MCK dan sarana prasarana lainnya. Kemudian nanti ada pmbangunan serbaguna yang dibangun secara bertahap untuk sarana pertemuan warga dan pembejalaran maupun mengolah produk kerajinan,” katanya saat meninjau langsung lokasi tersebut

 Jadi itu semua, kata Wahono, adalah perwujudan program pengabdian masyarakat Universitas Pancasila. Selain Desa Gobang, pihaknya juga memperhatikan pembangunan pendidikan di Desa Leuwisadeng yang jug amasih di kawasan Kabupaten Bogor dan selanjutnya di wilayah Kepulauan Seribu.

“Alasan kita pilih Desa Gobang karena wilayah ini tidak jauh dari Jakarta tapi karena terisolasi maka masalah pendidikan masih belum maju jadi kami melihat pndidikan bagi generasi muda terutama anak SD dan SMP sangat penting. Kita ajak untuk sadar pendidikan dan kita berharap bisa lebih maju. Desa ini dipilih dari beberapa mahasiwa yang sudah melakukan kajian,” jelasnya.

Wahono mengakui, membangun infrastruktur pendidikan layak bukanlah perkara mudah di desa tersebut. Sebab lokasi untuk menuju ke puncak hanya bisa diakses menggunakan kendaraan roda dua dan rute yang dilalui pun cukup terjal.

“Tantangan relatif berat karena berada di wilayah perbukitan. Menuju kesini hanya bisa menggunakan motor. Tantangannya yang ada bisa dari segi infrastruktur dan mengajak masyarakat atau memberi motifasi agar mau sekolah,” ucapnya

“Bukan itu saja, gurunya pun sangat terbatas hanya dua di SD dan satu guru SMP. Jadi itu tantangannya. Namun bagi kami unsur pendidikan sangat penting jadi kita akan terus berusaha memajukan desa ini,” timpalnya lagi

Selain fokus pada masalah pendidikan, UP juga mengajak warga sekitar untuk mengembangkan potensi usaha yang dimiliki, seperti pengolahan gula aren menjadi gula semut, biji kopi Gobang yang biasa di jual berupa biji kopi diolah menjadi produk siap konsumsi serta serat pohon aren akan di kembangkan menjadi kerajinan tangan olahan lidi.

Pembinaan dilakukan dengan harapan agar dapat mengembangkan dan mengelola lebih lanjut produk unggulan kawasan desa yang berpotensi memiliki nilai jual yang tinggi. Pembinaan masyarakat dilakukan oleh para ahli yang bergerak dibidangnya.

“Ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian, pengetahuan serta kesadaran warga desa akan lingkungan, kehidupan, dan pendidikan sehingga dapat meningkatkan taraf kesejahteraan hidup warga desa.” (Zahrul Darmawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here