Ini Skenario Gugus Tugas COVID-19 Depok Jika Terjadi Lonjakan Kasus

Juru bicara GTPPC Kota Depok Dadang Wihana saat melakukan pemantauan pos penyekatan di Jalan Raya Bogor, Selasa 25 Mei 2021. Dadang menyampaikan pasien klaster pertemuan sudah sembuh, (Depoktoday)
Juru bicara GTPPC Kota Depok Dadang Wihana saat melakukan pemantauan pos penyekatan di Jalan Raya Bogor, Selasa 25 Mei 2021. Dadang menyampaikan pasien klaster pertemuan sudah sembuh, (Depoktoday)

DEPOK – Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (GTPPC) Kota Depok, Dadang Wihana mengatakan, sudah mempersiapkan skenario guna menindaklanjuti arahan Kementerian Kesehatan jika terjadi lonjakan kasus COVID-19.

Dadang mengatakan, skenario pertama yang dilakukan adalah menjadikan satu rumah sakit khusus untuk melayani pasien COVID-19.

“Ada surat dari kemenkes agar menyiapkan 1 rumah sakit yang didedikasikan untuk COVID-19, kita sudah tindaklanjuti. RSUD saat ini tidak menerima lagi pasien dirawat non-covid. Jadi saat ini RSUD perawatannya didedikasikan untuk COVID-19,” kata Dadang kepada wartawan, Jumat 16 Juli 2021.

Skenario kedua, lanjut Dadang, adalah dengan terus mengupayakan penambahan bed di rumah sakit se-Kota Depok yang melayani pasien COVID-19.

“Kita sudah menambah kapasitas bed di rumah sakit itu selama 1 bulan, lebih dari 200 bed,” kata Dadang.

Dadang melanjutkan, untuk skenario ketiga adalah dengan terus menambah gedung-gedung dan tempat-tempat yang representatif untuk dijadikan ruang perawatan diantaranya adalah dengan menambah tempat seperti Makara UI.

“Sekarang sudah disiapkan Makara UI 2 (Asrama Mahasiswa UI), selain OTG dan gejala ringan, nanti Makara 2 akan difungsikan sebagai tempat pemulihan,” kata Dadang.

Lebih jauh Dadang mengatakan, sejauh ini Pemerintah Kota Depok baru menyiapkan tiga skenario tersebut. Jikapun ada skenario keempat yakni membangun Rumah Sakit Darurat, membutuhkan proses yang agak panjang.

“Terkait RS Lapangan atau RS Darurat, itu syaratnya tidak mudah ya. Jadi, syaratnya cukup berat, misalkan harus ada RS Pengampu,” kata Dadang.

Baca Juga: Malaysia Hentikan Penggunaan Vaksin Sinovac, Ini Sebabnya

Sementara itu, lanjut Dadang, kondisi di rumah sakit saat ini belum memungkinkan untuk dijadikan sebagai rumah sakit pengampu.

“Rumah sakit saat ini, untuk manajemen di dalam saja sedang bahu-membahu menyelesaikan permasalahan yang saat ini dihadapi. Jadi akan sangat berat,” kata Dadang.

Sebagai informasi, saat ini Kementerian Kesehatan telah memiliki sejumlah skenario untuk mengantisipasi lonjakan pasien COVID-19. Skenario pertama saat kasus aktif corona naik 30 persen atau diangka 79.910 kasus, jumlah tempat isolasi dan ICU di Jawa Barat harus ditambah menjadi 15.982 dan 3.955 unit. Ini mengakibatkan pemda Jawa Barat harus menambah (gap) ranjang ICU 2.517.

Skenario kedua saat kasus aktif Covid-19 meningkat 60 persen menjadi 98.351 kasus, jumlah tempat isolas dan ICU di Jawa Barat harus ditambah menjadi 19.670 dan 4.918 unit. Ini mengakibatkan pemda Jawa Barat harus menambah (gap) ranjang isolasi dan ICU masing-masing 2.352 dan 3.440 unit. (ade/*)