Ini Fakta Menarik Dibalik Sumpah Pemuda yang Jarang Diketahui

Museum Sumpah Pemuda (Foto: Istimewa)
Museum Sumpah Pemuda (Foto: Istimewa)

DepokToday- Tepat pada hari ini, atau 28 Oktober 1928 silam, sejumlah pemuda mengikrarkan sumpah setia pada Indonesia. Pernyataan itu dirangkum dan hingga kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

“Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.”

Itulah sebaris bait dari isi Sumpah Pemuda yang sampai saat ini diperingati setiap tanggal 28 Oktober.

Baca Juga: Jaksa Bebaskan Pencuri Kucing yang Viral di Depok, Ini Sebabnya

Nah, di balik peristiwa sejarah itu ternyata ada sejumlah fakta-fakta menarik yang jarang diketahui publik. Melansir bobo.grid.id, berikut ulasannya:

Rajin Belajar

Walau disibukkan dengan aktifitas sebagai pencetus sumpah pemuda, para pemuda yang kebanyakan merupakan para mahasiswa, tetap tidak lupa kewajibannya sebagai pelajar. Mereka rajin belajar dan berusaha keras mendapatkan nilai-nilai terbaik di setiap pelajaran.

Suka Bercanda

Pada tahun 1977, di salah satu majalah di tanah air, Pak Abu Hanifah, seorang pelaku Sumpah Pemuda mengungkapkan rahasia. Menurut pengakuannya, di tengah keseriusan dalam memperjuangkan persatuan, para tokoh sumpah pemuda, ternyata gemar sekali bercanda, lo.

Salah satunya adalah saat Bapak Muhammad Yamin tengah serius mengerjakan terjemahan Rabindranath Tagore untuk Balai Pustaka.

Baca Juga: Idris Sebut 25 Kelurahan se-Kota Depok Sudah Nihil Kasus COVID-19

Pak Amir Sjarifuddin dan Pak Abu Hanifah yang berada dalam kamarnya masing-masing, malah menjahilinya.

Mereka sengaja memainkan biola dengan suara nyaring. Ketika Bapak Muhammad Yamin meminta mereka diam, keduanya malah semakin membuat kegaduhan.

Kongres Sumpah Pemuda dan Bahasa Belanda

Lagu Indonesia Raya Tanpa Syair

Pada pertemuan Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, W. R. Supratman memperkenalkan lagu Indonesia Raya ciptaannya dengan mempergunakan biola.

Namun, mengingat kongres dijaga ketat oleh polisi Belanda, maka lagu tersebut akhirnya dimainkan tanpa syair dan kabarnya selama pertemuan itu wajib menggunakan bahasa Belanda.

Baca Juga: Akhir Tragis Tole Iskandar, Pahlawan Depok yang Dibantai di Parit

Hanya Diikuti oleh 6 Pemudi

Peran perempuan dalam Kongres Pemuda II tidak begitu menonjol. Hanya ada 6 pemudi atau perempuan yang tercatat mengikuti kongres kelahiran Sumpah Pemuda.

Mereka di antaranya adalah Dien Patow, Emma Poeradiredjo, Jo Tumbuan, Nona Tumbel, Poernamawoelan, dan Siti Sundari. Dari enam peserta, hanya tiga orang saja yang menyampaikan pidatonya dalam kongres tersebut.

Baca Juga: Rumah Mewah Albertus van Der Parra, Jejak Gubernur VOC di Tanah Depok

Tidak Boleh Ada Kata Merdeka

Tidak boleh ada kata- kata merdeka selama Kongres Pemuda II dilangsungkan. Penjagaan ketat pun dilakukan oleh para polisi Belanda.

Walaupun begitu, para pemuda sangatlah cerdik. Buktinya, tanpa ada kata-kata merdeka, mereka dapat berikrar demi persatuan bangsa. (rul/*)