Ini Cara UP Salurkan Energi Positif Remaja

Pelatihan di UP, Jakarta. (Istimewa)

JAKARTA– Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak ke dewasa. Rentang usia pada fase ini adalah 12-21 tahun. Remaja dalam masa transisi memiliki kecenderungan mencari identitas diri untuk dapat diakui eksistensi dirinya dalam kelompok masyarakat. Salah satunya mencoba kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa secara langsung.

Kecenderungan tersebut mendorong remaja untuk mengedepankan aktualisasi pergerakan fisik dalam melakukan seluruh aktivitasnya. Tawuran antar pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan pergaulan bebas merupakan beberapa contoh aktualisasi pergerakan fisik tidak terarah dan perilaku tidak sehat (BPS. 2010).

Jumlah remaja di Indonesia di tahun 2014 adalah 61,83 juta jiwa atau sekitar 24,53% dari total penduduk Indonesia, dengan karakteristik berpendidikan Sekolah Dasar sampai Universitas sebesar 94,28%; keluhan sakit selama 1-7 hari sebesar 90,61%; Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 60,01 persen (dari setiap 100 remaja, sekitar 60 orang diantaranya melakukan kegiatan ekonomi) dengan konsentrasi terbesar berstatus buruh/karyawan (BPS, 2015).

Data tersebut menggambarkan remaja di Indonesia membutuhkan wadah penyaluran kegiatan untuk membantu tingkat kemandirian secara sosial dan ekonomi. Tingkat kemandirian suatu bangsa tergambar dari jumlah pelaku wirausaha di Negara tersebut. Jumlah ideal pelaku wirausaha adalah 2% dari total populasi penduduk. Indonesia di tahun 2016 memiliki 1,65% pelaku wirausaha (Primus, 2016).

Limbah logam dari hasil kegiatan rumah tangga termasuk sekolah tergolong ke dalam sampah anorganik. Setiap individu diestimasikan menghasilkan sampah sebesar 0,8 kg/hari. Profil sampah di Indonesia terdiri dari sampah organik sebesar 60%, sampah plastik sebesar 15%, dan lainnya (logam, kaca, kain, kulit) sebesar 25% (Suhardi, 2016).

Kaleng bekas wadah makanan, kaleng bekas pengharum ruangan, wadah obat nyamuk semprot dan baterai tergolong ke dalam sampah rumah tangga yang berbahaya dan beracun atau lebih umum disebut dengan B3. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 mengatur tentang penanganan limbah berbahaya dan beracun mulai dari tata cara penyimpanan sampai dengan penimbunan.

Sifat dari limbah logam diantaranya adalah korosif, mudah terbakar, mudah meledak dan beracun. Prosentase sampah dan bahaya sampah B3 menunjukkan pentingnya pengolahan sampah secara tuntas sehingga tidak merusak kualitas air dan tanah, serta kesehatan individu yang berada di sekitar sampah tersebut.

Penyelenggaraan pendidikan keagamaan telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan agama dan Pendidikan Keagamaan. Pendidikan diniyah dan pesantren merupakan lembaga pendidikan keagaman Islam berbasis masyarakat yang diperuntukkan untuk menyelenggarakan kegiatan agama secara tepadu dengan jenis pendidikan lainnya.

Proyeksi lulusan dari pendidikan diniyah dan pesantren adalah juru dakwah untuk menjadi penggerak sosial di masyarakat. Data dari Kementrian Agama tahun pelajaran 2011-2012 menunjukkan sekitar 3.004.807 siswa atau 79,93% dari total santri yang berada di pondok pesantren merupakan siswa yang menginap (Kemenag, 2015).

Karakteristik pendidikan agama tersebut menggambarkan keseluruhan kegiatan keseharian siswa di pendidikan diniyah dan pesantren dilakukan di lembaga pendidikan. Kegiatan keseharian yang dilakukan oleh siswa di lembaga pendidikan agama dan keagamaan memiliki potensi timbunan sampah B3 yang dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan dan penuruan tingkat kesehatan siswa.

Tim Pengabdian pada Masyarakat Universitas Pancasila yang terdiri dari Dosen Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Pancasila (FTUP) dan Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila (FEBUP) melakukan kegiatan Pengabdian pada Masyarakat bekerjasama dengan mitra Yayasan Nurul Amanah yang berada tidak jauh dari dilingkungan kampus UP.

Judul Pengabdian yang diangkat adalah “Pemberdayaan Kelompok Masyarakat Non Ekonomi di Lembaga Pendidikan Keagamaan untuk Menjadi Penggerak Sosial”, seluruh pendanan kegiatan ini merupakan Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Kemenristek Dikti Tahun 2019 dengan skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Kegiatan pengabdian ini merupakan salah satu bentuk sumbangsih dan keperdulian kepada masyarakat melalui pelatihan-pelatihan dasar untuk meningkatkan pengetahuan peserta didik di lembaga keagamaan.

Adapun kegiatan ini terdiri dari tiga tahap pelatihan, yaitu: Tahap 1, pelatihan desain produk menggunakan perangkat lunak desain yang telah dilaksanakan pada tanggal 16-19 Juli 2019, Tahap 2 pelatihan pengolahan dan penerapan teknologi limbah B3 rumah tangga menjadi produk kreatif, dan Tahap 3, pelatihan kewirausahaan. Kegiatan tahap 2 dan 3 dilaksanakan pada tanggal 14-16 Oktober 2019.

Adik-adik dari Yayasan Nurul Amah merupakan perwakilan yang akan dijadikan agen perubahan sehingga dapat mempengaruhi teman-teman di lingkungan sekitarnya untuk dapat sadar dan perduli akan pengolahan limbah serta mampu menularkan pengetahuan pengolahan limbah dan dasar-dasar kewirausahaan.

Transformasi kebiasaan pengolahan limbah rumah tangga secara konvensional yaitu dengan dibakar atau ditanam atau dibuang ke tanah yang dapat mengakibatkan rusaknya lingkungan. Pengolahan limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomis, membutuhkan transformasi pendidikan khususnya di usia remaja. Remaja sebagai penerus dan penjaga Bangsa, merupakan ujung tombak transformasi tersebut. (*red)