Ikatan Rumah Sakit Jawab Tudingan Mengcovidkan Pasien, Ini Faktanya

RSUD Depok menjadi salah satu rumah sakit rujukan pasien COVID Depok. (DepokToday.com)
RSUD Depok menjadi salah satu rumah sakit rujukan pasien COVID Depok. (DepokToday.com)

DepokToday- Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia atau Persi memastikan, rumah sakit memiliki aturan ketat saat mendiagnosis pasien yang terpapar COVID.

Sehingga, tuduhan ‘mengcovidkan’ pasien tidaklah benar. Isu itu muncul sejak kasus COVID meledak di Indonesia.

Dilansir dari Hops.id jaringan DepokToday.com, petugas medis atau tenaga kesehatan di rumah sakit juga diharuskan melampirkan banyak dokumen pendukung untuk menyampaikan, apakah pasien benar terkena virus atau justru sebaliknya.

“Ada aturan yang kuat sekali kapan pasien itu ditentukan atau didiagnosa sebagai COVID-19. Rumah sakit harus melampirkan banyak sekali dokumen pendukung untuk menyampaikan bahwa ini COVID-19,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persi, Lia G. Partakusuma, dikutip dari VOI, pada Selasa 3 Agustus 2021.

Robovent 1 alat untuk pasien COVID-19 buatan Gunadarma. Belakangan ini tabung oksigen jadi barang langka. Padahal Al Quran sudah menjelaskan tentang ketersedian aksigen. (DepokToday.com)
Robovent 1 alat untuk pasien COVID-19 buatan Gunadarma. Belakangan ini tabung oksigen jadi barang langka. Padahal Al Quran sudah menjelaskan tentang ketersedian aksigen. (DepokToday.com)

Lia mengingatkan, masyarakat tak perlu takut atau risau saat memeriksakan kondisinya ke rumah sakit. Sebab, hasil yang kelak disampaikan berasal dari pemeriksaan sebenar-benarnya, alias tak ada yang direkayasa.

Ia juga mengimbau agar masyarakat menaruh kepercayaan pada rumah sakit dan tenaga medis termasuk dokter, bahwa mereka akan mengobati dan mendiagnosis pasien sesuai kondisi aslinya, termasuk berkaitan dengan COVID-19.

Rumah Sakit Cepat Deteksi COVID

Lia menjelaskan, saat pandemi baru masuk ke Indonesia, proses pemeriksaan berjalan lama lantaran keterbatasan teknologi di rumah sakit. Kini, segala perlengkapannya lebih maju. Sehingga, prosesnya tentu lebih cepat.

“Yang namanya pemeriksaan lab itu tergantung dengan individu. Jadi tidak misalnya satu orang hari ini diperiksa negatif, kemudian satu minggu kemudian negatif. Bahkan ada satu proses di mana replikasi virus itu membutuhkan waktu. Bisa saja ada gejala tapi belum terdeteksi oleh alat diagnostiknya,” tuturnya.

Baca Juga: Kepala Satpol PP Depok Larang Warga Berkerumun Rayakan 17 Agustus

Dengan demikian kata Lia, banyak hal yang bisa menyebabkan hasil diagnostik memiliki satu kekurangan yang mungkin belum ditemukan saat itu, tapi ditemukan pada saat yang lain.

“Istilah mengcovidkan pasien saya rasa itu oknum. Kami tidak pernah menginginkan ada satu pun rumah sakit yang mengcovidkan. Itu mudah-mudahan tidak ada satu pun rumah sakit yang berkeinginan mengcovidkan,” ucap Lia. (rul/*)