Idris Jawab Sebutan Ban Serep PKS di Pilkada Depok

Wali Kota Depok, M. Idris (DepokToday, Rul)

DEPOK– Wali Kota Depok, Mohammad Idris angkat bicara terkait pernyataan yang menyebut dirinya sebagai ban serep Partai Keadilan Sejahtera (PKS) diajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Depok.

Pria yang disebut-sebut sebagai salah satu kandidat petahana ini meyakini, ucapan itu bukan untuk mengecilkan dirinya. Ia bahkan meragukan jika keputusan itu keluar dari mulut Presiden PKS, Sohibul Iman.

“Pertama diklarifikasi dulu kata-kata beliau bukan itu (ban serep). Kalau saya sih yakin itu bukan. Karena saya mengenal sosok beliau, sosok yang santun elegan dan akademisi,” katanya seperti dilansir pada Rabu 19 Februari 2020

Idris mengungkapkan, dirinya dan Sohibul Iman memiliki kedekatan emosional yang telah terbangun cukup lama.

“Saya kenal beliau ketika saya menjadi pengurus boarding school Yayasan Nurul Fikri. beliau waktu itu menjadi ketua umum Paramadina sekaligus bidang pembinaan di Yayasan Boarding School Insan Cendekia Serpong. Jadi sempat berinteraksi dalam dunia pendidikan. Saya kenal benar.”

Kalaupun benar itu statement Sohibul Iman, kata Idris, diduga itu terjadi karena pancingan awak media. “Padahal maksud dan arahnya bukan ke sana, bukan. Mohon maaf bukan mengecilkan dan menyebalkan, sebab dia juga kenal saya,” tuturnya

Lebih lanjut Idris mengklaim, salah satu dasar alasan dirinya diusung PKS sebagai Wali Kota Depok pada Pilkada 2016 lalu, adalah latar belakang pendidikan. “15 tahun saya bergelut dengan masalah pelajaran politik Islam di Timur Tengah, dan itu juga menjadi pertimbangan beliau (Sohibul),” katanya

Dengan demikian, Idris berharap semua pihak bisa melakukan klarifikasi langsung dengan Sohibul Iman. Kemudian untuk kedekatan-kedekatan pribadi dan ideologis, ia masih berharap partai politik memberikan dukungan-dukungan kepada calon yang mempunyai integritas terhadap pembangunan di Kota Depok.

“Mungkin maksudnya ban serep namanya partai politik punya jagoan-jagoannya dong, wajar. Kalau saya kan tidak punya partai politik. Itu sih sah-sah saja dan hak mereka,” ucapnya

“Kalau saya kan tergantung masyarakat, kalau masyarakat mau memilih saya, ya saya nanti akan siap untuk maju,” timpalnya lagi

Idris menegaskan, kesiapan dirinya maju atau tidak pada Pilkada 2020 akan diperhitungkan melalui hasil survei. “Hasil survei nya seperti apa nanti elektabilitasnya tinggi apa tidak, jangan-jangan elektabilitasnya rendah. Ini kan gambaran kehendak masyarakat. Kemudian kendaraan-nya (partai). Kalau masyarakat sudah oke, tapi kendaraannya tidak punya kan kita tidak bisa sampai-sampai. Kendaraannya juga harus bagus dong,” ujarnya

Mengukur Kekuatan  PKS

Ketika disinggung partai mana yang akan jadi gerbong politiknya nanti, Idris mengaku sampai saat ini dirinya masih melakukan tahap penjajakan.

“Semua partai sudah saya komunikasi, dari dulu sudah lama. Yang paling intens secara proaktif memang sebelumnya adalah PKS dari semua partai.”

Untuk diketahui, sampai saat ini PKS Depok masih menjagokan tiga kader internalnya untuk direkomendasikan ke tingkat DPP sebagai bakal calon wali kota. Mereka adalah, Hafids Nasir (anggota DPRD Depok), T. Farida Rachmayanti (anggota DPRD Depok), dan Imam Budi Hartono pria yang sampai saat ini masih menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat.

Ketiga nama tersebut merupakan hasil penjaringan internal di kubu PKS sejak beberapa bulan lalu. Sebagai partai petahana, pada Pilkada kali ini pun PKS berhak mengusung sendiri jagonnya karena memiliki 12 kursi di DPRD Depok. Selain PKS, dua partai lainnya yang bisa mencalonkan kandidat wali kota adalah PDIP dan Gerindra yang masing-masing memiliki 10 kursi di DPRD Depok. (rul/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here