Idris-Imam Tawarkan Program 1.000 Perempuan Jadi Pengusaha

Mohammad Idris dalam kegiatan kampanye di kawasan Jatimulya, Kecamatan Cilodong.(Foto: Istimewa)

JATIMULYA—Saat ini, peran kaum perempuan tidak hanya mengurus rumah dan anak. Banyak perempuan yang ikut berjibaku mencari penghasilan.

Ada yang sebatas mencari tambahan guna membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, tidak sedikit juga yang bekerja sendirian guna kelangsungan hidupnya. Para perempuan bahkan berperan sebagai kepala keluarga.

Banyak faktor penyebabnya, diantaranya suami pergi meninggalkan istri karena berbagai faktor, suami meninggal dunia, suami tak berdaya akibat sakit atau kecelakaan, hingga suami yang menjadi korban (PHK-red).

Melihat fenomena tersebut, pasangan Calon Wali Kota dan Calon Wakil Wali Kota Depok, Mohammad Idris dan Imam Budi Hartono (Idris-Imam), mencoba hadir menawarkan solusi.

Dalam program kampanyenya, paslon nomor urut 2 ini bercita-cita mewujudkan 1.000 perempuan pengusaha di Kota Depok.

“Kami melihat itu sebagai permasalahan serius. Perlu ada solusi konkret agar bisa membantu kaum perempuan mendapatkan penghasilan,” ungkap Calon Wali Kota Depok, Mohammad Idris.

Guna mengatasi persoalan tersebut, katanya lagi, Idris-Imam memiliki janji kampanye mewujudkan 1.000 perempuan pengusaha.

“Perempuan yang punya potensi usaha dilatih manajemen bisnis, keuangan, akutansi, pemberian modal, pendampingan usaha,” tuturnya.

Dengan munculnya pengusaha baru ini akan berimbas pada terbukanya lapangan pekerjaan. Yang pada akhirnya akan dapat mengurangi angka pengangguran.

Idris juga melihat program ini akan mampu mengatasi para perempuan yang terkena imbas dari keberadaan rentenir.

“Jadi banyak suami yang meminjam uang ke rentenir. Kemudian karena dikejar-kejar tagihan, pusing, dan akhirnya memilih kabur. Yang jadi korbannya istri. Ini yang kemudian dapat diberdayakan untuk bisa ikut program 1.000 pengusaha perempuan baru,” tuturnya.

Tidak hanya mengandalkan APBD, upaya mewujudkan pengusaha baru ini dapat dilakukan dengan menggandeng lembaga keuangan atau lainnya yang tidak memberlakukan sistem bunga.

“Misalnya dari Baznas bisa dikembangkan zakat produktif. Penerima zakat diberikan zakat tidak hanya untuk konsumtif, namun juga membuka usaha,” pungkasnya.

(eru)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here