Idris: COVID-19 di Depok Membaik, Tapi Data di Pusat Masih Tinggi

Wali Kota Depok, Mohammad Idris telah menginstruksikan jajarannya untuk melakukan operasi yustisi dan pemeriksaan rapid test antigen pada pemudik dan warga pendatang guna mencegah penyebaran COVID-19. (Depoktoday.com)
Wali Kota Depok, Mohammad Idris telah menginstruksikan jajarannya untuk melakukan operasi yustisi dan pemeriksaan rapid test antigen pada pemudik dan warga pendatang guna mencegah penyebaran COVID-19. (Depoktoday.com)

DepokToday – Wali Kota Depok Mohammad Idris mengatakan tren kasus COVID-19 di Kota Belimbing ini terus mengalami perbaikan. Data hariannya menujukkan grafik penurunan.

Idris mengatakan, berdasar rilis dari Bersatu Lawan COVID-19 Satgas Pusat tanggal 11 Agustus 2021, dalam minggu ini zonasi Kota Depok mengalami perbaikan dan masuk kedalam kategori daerah dengan zona risiko sedang penyebaran COVID-19 atau Zona Oranye, dengan score 1,81.

“Selama PPKM Darurat dan PPKM Level 4 diberlakukan di Kota Depok selama enam minggu, terjadi trend perbaikan,” kata Idris dalam keterangan persnya yang diterima DepokToday, Sabtu 14 Agustus 2021.

Idris mengatakan, terjadi trend perbaikan pada kasus sembuh, kasus aktif, dan kasus isoman atau isolasi mandiri. “Pada kasus sembuh (terjadi penambahan) sebanyak 40.332 kasus ata 43.58 persen dari seluruh kasus sembuh,” kata Idris.

Baca Juga: Satgas COVID-19: Capaian Vaksinasi di Depok Baru Mencapai 25 persen dari Total Penduduk

Sementara untuk kasus isoman, kata Idris, terjadi penurunan dari 9.221 kasus sejak tanggal 3 Juli 2021, kini menjadi 4.667 di tanggal 13 Agustus 2021 atau turun 4.554 kasus. “Demikian pula untuk kasus aktif, telah terjadi penurunan persentase kasus aktif yang semula 15.35 persen menjadi 4.97 persen,” lanjut Idris.

Bed Occupancy Rate atau BOR pada rumah sakit dan tempat isolasi terpusat di Kota Depok juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Selama kurun waktu 3 Juli sampai dengan 13 Agustus 2021 terdapat penurunan BOR sebesar 59.17 persen dan terdapat penambahan 70 tempat tidur, dengan distribusi 53 tempat tidur Isolasi dan 17 tempat tidur ICU COVID-19.

“BOR RS COVID-19 per tanggal 13 Agustus 2021 sebesar 39.18 persen, sementara untuk BOR karantina (isolasi terpusat) sebesar 11 persen, sudah memenuhi standar WHO maksimal 60 persen,” kata Idris.

Namun begitu, berdasar data pada laman Pusat informasi dan Koordinasi COVID-19 Provinsi Jawa Barat atau Pikobar, Kota Depok masih dinobatkan sebagai kota tertinggi penyebaran kasus dengan jumlah pasien positif COVID-19 sebanyak 24.270 kasus.

Menurut Idris, hal itu karena terjadi kesenjangan data antara Pemerintah Kota Depok dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Untuk itu, telah dilakukan rekonsiliasi data pada Kamis 12 Agustus 2021 yang hasilnya akan dilakukan replace data (penggantian data).

“Mulai tanggal 17 Agustus 2021, data PICODEP (Satgas Depok) dengan NAR (Satgas Pusat) secara keseluruhan sudah padu dan sama. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Berita Acara Kesepakatan Rapat Rekonsiliasi Data yang ditandatangani para pihak,” kata Idris. (ade/*)