Ghost Like Us, Esai Sinematik Perubahan Politik-Ekonomi & Teknologi

Still Photo dari karya Ghost Like Us.(Foto: Komunitas Salihara Art Center)
Still Photo dari karya Ghost Like Us.(Foto: Komunitas Salihara Art Center)

DepokToday—Pameran seni rupa virtual Universal Iteration oleh Komunitas Salihara Art Center masih berlangsung. Kali ini menampilkan Ghost Like Us karya Riar Rizaldi.

Riar Rizaldi adalah seniman keempat yang ditampilkan pada pameran ini, setelah sebelumnya yang si empunya hajat sukses menampilkan karya-karya dari tiga seniman/komunitas seni.

Ghost Like Us adalah esai sinematik pendek tentang perubahan politik-ekonomi dan teknologi yang mengubah bagaimana sinema horor Indonesia dikonsumsi dan diproduksi sejak tahun 1970-an.

BACA JUGA: Peringati Sumpah Pemuda, Seniman Trotoar Gelar Pertunjukan Orkes Jalanan

Dalam Ghost Like Us, nuansa mistik dalam penggambaran hantu-hantu “yang mengganggu” merupakan sebuah alternatif penaklukan kuasa dan pusat.

Still Photo dari karya Ghost Like Us.(Foto: Komunitas Salihara Art Center)
Still Photo dari karya Ghost Like Us.(Foto: Komunitas Salihara Art Center)

Bagaimana film-film horor Indonesia yang diproduksi dalam setiap dekade tidak hanya merepresentasikan perkembangan artistik dan teknologi media gambar bergerak, tetapi juga menandai pergeseran-pergeseran pemikiran dan situasi sosial-politik.

Sebagai upaya mengkaji implikasi kultural dan politik dalam pendekatan pedesaan terhadap sinema horor di Indonesia, Ghost Like Us menawarkan pendekatan essayistic yang mengkaji dinamika pedesaan-perkotaan dalam sinema horor dari rezim Orde Baru hingga munculnya genre horor terdekonstruksi yang ditemukan di gaya kino-pravda, Misteri Bondowoso.

“Sebagai kelanjutan perhelatan Universal Iteration, karya Ghost Like Us menjadi representasi spektrum karya seni media yang tidak hanya mengangkat ragam isu dan narasi, tetapi juga memantik pembicaraan terkait teknologi dan kesadaran internet itu sendiri,” ungkap Bob Edrian selaku Kurator Universal Iteration dalam keterangan tertulisnya, Minggu 8 Agustus 2021.

Berdasarkan kajian tersebut, film-esai ini mengajukan pertanyaan, yang terkenal dengan ungkapan Thomas Elsaesser, “kapan dan di mana sinema?” Menurut relasi antara hauntology (lakuran dari haunting  dan ontology), otoritas-otonomi, dan aparatus sinematik.

Selain itu, menampilkan refleksi puitis horor, ideologi, evolusi sinema, dan pemikiran sinematik dalam memahami lanskap teknologi media saat ini di Indonesia dan Asia.

BACA JUGA: Pak Dal, Sosok Bersahaja di Balik Lagu Bintang Kecil

Ghost Like Us adalah bagian dari Monographs, sebuah rangkaian esai terbaru tentang Sinema Asia yang dikumpulkan oleh Asian Film Archive (AFA).

Karya-karya Riar Rizaldi berfokus pada hubungan antara kapital dan teknologi, ekstraktivisme, materialitas dan fiksi teoritis.

Selain itu, Riar Rizaldi kerap mengeksplorasi hubungan antara manusia dan teknologi, media dan elektronik konsumer, sirkulasi citra dan intervensi jaringan.

Lewat karya-karyanya, Riar Rizaldi mempertanyakan tentang gagasan akan temporalitas, politik citra, fiksi-teori, virtualitas dan konsekuensi dari perkembangan teknologi.

Riar Rizaldi.(Foto: Dok. Kay Beadman)
Riar Rizaldi.(Foto: Dok. Kay Beadman)

Riar Rizaldi adalah sutradara, seniman, musisi, dan kurator muda asal Bandung, Jawa Barat, yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktor di City University, Hong Kong.

Karya Riar Rizaldi yang dipamerkan di perhelatan seni media berkala daring ini bisa diakses dan diapresiasi secara terbuka di situs https://galeri.salihara.org/ hingga 14 Agustus 2021.

Sejak dimulai pada Mei 2021, Universal Iteration telah menampilkan karya-karya seni yang sepenuhnya memang diproduksi dan ditujukan untuk diapresiasi para peminat seni secara daring.

Pameran virtual ini mengajak kita menikmati pengalaman baru dalam mengapresiasi seni rupa berbasis digital. Sejak dibuka pada Mei 2021, Universal Iteration telah menampilkan karya-karya Blanco Benz Atelier, Natasha Tontey, dan Farhanaz Rupaidha.

Dengan presentasi karya per tiga minggu, Universal Iteration masih akan berlanjut hingga November 2021 mendatang.

“Pemanfaatan teknologi internet hari ini (ditambah dengan kemungkinan akselerasi oleh situasi pandemi COVID-19) membawa aktivitas manusia ke dalam pelebaran ruang dan jejaring yang semakin kompleks. Universal Iteration menawarkan pengalaman mengapresiasi karya-karya seni media melalui layar atau gawai yang terkoneksi internet,” simpul Bob Edrian.

(tdr/*)