Duh, Ada Restauran Jepang Pakai Gas untuk Warga Tidak Mampu

0
159
Gas elpiji 3 kilogram di salah satu restauran di kawasan Margonda.(Foto: DepokToday/Aji)

MARGONDA-Satuan Tugas Himpunan Swasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) bersama Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Depok melakukan sidak pemakaian gas 3 kilogram (kg) di sejumlah rumah makan atau restauran di kawasan Margonda, Kecamatan Beji, Senin (23/12/2019).

Hasilnya, petugas gabungan menemukan lima restauran dan salah satunya khas masakan Jepang menggunakan tabus gas elpiji bersubsidi itu.

Saat dimintai keterangan, pihak pengelola restoran mengungkapkan dalam sehari menghabiskan dua hingga lima tabung gas 3 kg untuk memasak.

Usai sidak, petugas memasang stiker di depan restoran yang berisi keterangan larangan penggunaan tabung gas 3 kg oleh pengusaha restauran.

Ketua Hiswana Migas Kota Depok, Ahmad Badri, menyebutkan ada sejumlah restoran yang menjadi target sasaran sidak.

“Kami temukan ada lima resto yang kita sidak dan ternyata mereka gunakan tabung gas tiga kg,” katanya.

Pada tahun 2016, wali kota Depok sudah mengeluarkan Surat Edaran terkait penggunaan gas tiga kilogram dan melarang rumah makan atau restauran untuk menggunakan tabung 5,5 Kg dan 12 kg.

Dia menambahkan, sidak ke rumah makan atau restauran sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah penyalahgunaan gas elpiji isi ulang 3 kilogram.

Ia mengatakan, gas elpiji 3 kilogram tersebut dialokasikan untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan usaha mikro kecil.

“Ironisnya kini pengguna bahan bakar gas tiga kg tersebut digunakan para pelaku industri menengah dan hotel, restauran di Margonda,” paparnya.

Dia menjelaskan, pendistribusian gas elpiji isi ulang 3 kilogram tersebut salah sasaran sehingga memacu kelangkaan.

Restauran atau rumah makan yang menggunakan gas tiga kg belum dikenakan sanksi, sifatnya masih melakukan teguran dan mengimbau mereka untuk beralih gas 5,5 kg atau 12 kg.

“Kami baru berikan teguran saja, kami himbau mereka gunakan gas 5,5 atau 12 Kg, karena gas 3 kg hanya untuk warga tidak mampu,” imbuhnya.

Menurut dia, peran aktif agen dalam mendistribusikan gas tepat sasaran juga menjadi langkah penting mengatasi masalah kelangkaan bahan bakar bersubsidi itu.

Dia menambahkan, bersama Pertamina, Hiswana Migas tentu akan berupaya optimal mengembalikan hak masyarakat berpenghasilan rendah mendapatkan bahan bakar bersubsidi tersebut.(aji)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here