Dua WNA Pakistan Diciduk Saat Lakukan Pungli di Depok

Kasubsi Intelijen Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kota Depok, Mas Joko Ardianto Wibowo (DepokToday, Rul)

MARGONDA– Dua orang pria berkebangsaan Pakistan terpaksa berurusan dengan petugas Imigrasi lantaran diduga melakukan pungutan liar alias Pungli dengan modus meminta sumbangan ke sejumlah masjid di Kota Depok, Jawa Barat. Dari hasil pemeriksaan sementara, petugas mensinyalir aksi ini dilakukan secara sistematis.

Kasubsi Intelijen Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kota Depok, Mas Joko Ardianto Wibowo mengungkapkan, kasus ini terungkap setelah pihaknya mendapat laporan untuk melakukan pengawasan terhadap dua Warga Negara Asing (WNA) yang diduga melakukan pungutan dengan modus sumbangan.

“Awalnya kami mendapat laporan adanya WNA yang meminta-minta dan disinyalir mengemis di sekitaran Depok. Laporan inilah yang kami tindak lanjuti hingga akhirnya mengamankan terdua pelaku,” ujarnya, Sabtu 28 Desember 2019

Dari hasil pemeriksaan, keduanya diketahui berinisial FG dan MAG. Petugas mengamankan keduanya saat sedang beraksi di area masjid kawasan Margonda, Depok. Selain dicurigai melakukan pungutan liar, petugas juga menduga keduanya menyalahi aturan yang berlaku di Keimigrasian.

“Dua orang asing ini memegang izin tinggal untuk beberapa kali perjalanan dengan penjamin PT GTI. Namun pada saat kami tanya siapa yang menjamin keberadaannya mereka menjawab tidak mengetahuinya,” kata Joko

Terkait hal itu petugas pun curiga jika perusahaan tersebut mendatangkan orang asing tanpa tujuan yang tidak jelas. Saat diintrogasi petugas keduanya berdalih, mengumpulkan uang untuk dikirimkan ke suatu lembaga di Pakistan bernama Madrasa Arabiah.

“Jadi mereka ini mengumpulkan uang lalu mengirimkannya melalui western union ke seseorang berinisial ABG yaitu seorang warga negara Pakistan.”

Menurut keterangan yang didapat, dana yang terkumpul saat ini mencapai lebih dari Rp 39 juta. Uang itu dihasilkan dengan cara meminta dari sejumlah dewan kemakmuran masjid.

“Dan perlu diketahui mereka tidak hanya beraksi di Depok tapi juga di Bekasi dan Bogor. Kegiatan pemungutan ini tidak memiliki izin dari instansi terkait,” jelas Joko

Modus Operandi

Lebih lanjut Joko mengatakan, aksi pelaku diduga bukan kali ini saja terjadi. Sebab sebelumnya petugas Imigrasi juga pernah mendapati modus serupa. Dalam kasus pertama, pelaku sempat tinggal di salah satu hotel di kawasan Cikini, Jakarta.

“Tinggal disana hanya 2-3 hari, lalu mereka pergi dari masjid ke masjid mereka mengumpulkan uang dari Bekasi, Bogor sampai Depok. Jadi pergerakan Mereka itu titiknya cepat sekali kalau tadi kita sudah memeriksa dari Hpnya itu dia screen capture masjid-masjid yang ada di wilayah tersebut.”

Keduanya diketahui menggunakan visa D212, yang hanya boleh tinggal di Indonesia selama 60 hari. “Jadi 60 hari mereka tinggal disini kemudian pergi dan kembali lagi ke Indonesia ngumpulin uang lagi, kami lihat sudah dua kali,” kata Joko

Dengan sederet jejak digital dan modus yang digunakan, petugas pun meyakini aksi pelaku dilakukan secara sistematis dan berkelompok.

“Kemungkinan ya, karena ketika kami tanyakan kepada yang bersangkutan siapa sponsornya untuk datang ke Indonesia menggunakan visa ini mereka sama sekali enggak tahu,” tuturnya

Joko menegaskan, FG dan MAG serta pihak penjamin telah melanggar peraturan Keimigrasian dan akan dikenakan pasal 122 huruf A dan B Undang-undang No 6 tahun 2011, dimana dalam pasal tersebut pidana penjara paling lama lima tahun dan denda sekitar Rp 500 juta.

“Jadi kedua orang asing ini kegiatannya sudah mengganggu ketertiban umum dan bahkan sudah meresahkan masyarakat karna tidak jarang mereka meminta minta atau mengemis dengan sedikit arogan.”

Untuk penyelidikan lebih lanjut, petugas juga akan memanggil dan memeriksa penjamin kedua WNA itu. “Karena tujuan mereka kesini itu bisnis, tapi malah minta sumbangan,” ucap Joko

Terkait kasus ini, pihak Imigrasi pun mengimbau pada masyarakat, khusunya dewan kemakmuran masjid di wilayah Depok agar lebih waspada dan memperhatikan jenis-jenis pemungutan seperti ini.

“Saran dari kami lebih waspada dan tanya izinnya ada apa enggak, karena kan sumbangan untuk Pakistan, Afghanistan di Indonesia ini sudah ada wadah resminya.” (rul/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here